Inti Akua   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Jumat, 1 Pebruari 2008
Akibat Streptococcosis, Rusak Nila Sekolam

Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Pada fase pembesaran nila, kematian akibat penyakit ini bisa mencapai 100%

Membudidayakan ikan nila memang tak sesulit membudidayakan ikan mas, tetapi bukan berarti dalam membudidayakan ikan nila bisa asal-asalan. Terlebih jika budidaya ikan nila tersebut dilakukan secara intensif, dengan kepadatan tinggi. Heny Budi Utari, Aquatic Section Manager Animal Health Diagnostic Laboratory Departement PT Charoen Pokphand Jaya Farm mengatakan, budidaya ikan nila pun tak lepas dari ancaman penyakit. ?Yang paling sering muncul adalah streptococcosis,? ujarnya saat ditemui TROBOS di salah satu kolam budidaya ikan nila di Subang. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus ini bisa menyerang semua jenis ikan nila, baik nila merah maupun nila hitam.
Streptococcosis memang tidak masuk ke dalam daftar penyakit ikan yang dianggap sangat berbahaya oleh Komisi Kesehatan Ikan dan Lingkungan, sebagaimana MAS, KHV, WSSV atau pun VNN. Tetapi, meski tak masuk dalam daftar tersebut, bukan berarti penyakit streptococcosis bisa dianggap remeh oleh para pembudidaya ikan nila. Pada manajemen budidaya yang kurang baik, penyakit ini dapat mengakibatkan kematian masal. ?Pada fase pembesaran, kematian bisa sampai 100%,? ujar Heny. Itu artinya, semua ikan nila yang dipelihara oleh para pembudidaya di kolam-kolam pembesaran ini bisa musnah.

Cuaca Ekstrem sebagai Pemicu
Seakan menggarisbawahi pendapat Heny, Aries Madethen, Regional-Technical Marketing Manager PT Schering Plough mengkategorikan streptococcosis sebagai penyakit yang bisa mengakibatkan kematian yang sangat tinggi. ?Bisa mencapai lebih dari 50% dari mulai telur menetas sampai masa panen tiba,? Aries menyebut angka.
Menurut Heny, penyakit streptococcosis ini biasanya muncul pada saat adanya perubahan cuaca secara drastis, dari panas ke hujan maupun sebaliknya. ?Jika siangnya panas terik, kemudian sore harinya terjadi hujan, penyakit ini berpotensi akan muncul?.
Dalam banyak kasus, menurut Aries, bakteri Streptococcus menyerang ikan nila pada ukuran tertentu. ?Biasanya pada saat ukuran ikan menjelang 50 gram. Setelah itu, dia akan menyerang lagi saat ikan berukuran antara 100-250 gram,? ujarnya. Ini berarti ancaman yang sama besar ditujukan baik kepada para pendeder (saat ikan berukuran di bawah 50 gram) maupun pembudidaya pembesaran (saat ikan berukuran 100-250 gram).

Waktu Tahapan Singkat
Secara rinci Heny menjelaskan, bakteri Streptococcus ini akan masuk ke  dalam tubuh ikan nila lewat infeksi melalui sistem pencernaan. Gejala ditandai dengan penampakan perut ikan yang terlihat agak kembung. Selanjutnya bakteri akan masuk aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh, hingga ke ginjal. ?Jika dilakukan bedah bangkai ginjal kelihatan pucat dan bengkak,? ujarnya.
Pada fase ini, nafsu makan ikan akan berkurang, sehingga ikan lebih mudah stres, daya tahan menurun. Tahap lanjut, toksin (racun-red) dari bekteri mulai menyebar mengganggu syaraf, hingga akhirnya menyerang syaraf pusat, yaitu otak. ?Kalau sudah sampai syaraf, sulit untuk diatasi,? terang Heny. Pada fase ini ikan menunjukkan gejala berputar-putar (whirling) menyerupai gangsing, dan akhirnya ikan tersebut mati.
Celakanya, waktu yang dibutuhkan bakteri streptococcus ini dari menginfeksi ikan nila sampai pada fase whirling relatif singkat. ?Rata-rata hanya butuh waktu antara 7-14 hari, tergantung dari kondisi ikan nila,? sambung Heny. Serangan bakteri Streptococcus ini ternyata tidak hanya mengakibatkan ikan berputar-putar dan kemudian mati, tetapi juga dapat mengakibatkan penyakit popeye, dengan ciri-ciri; mata menonjol, bengkak dan berdarah.
Kendati demikian Aries menandaskan, kasus streptococcosis dapat diobati. Pengobatan dilakukan dengan memberikan antibiotik sesuai dosis anjuran.

Daya Tahan: Faktor Penting
Baik Heny maupun Aries keduanya sepakat, faktor penting dalam mengurangi kerugian akibat serangan bakteri Streptococcus bisa dilakukan dengan cara meningkatkan daya tahan tubuh ikan. Sementara faktor lain, yaitu lingkungan, sudah sangat sulit untuk dikontrol. ?Kita tidak bisa mengontrol lingkungan perairan. Apalagi mencegah bibit penyakit untuk masuk,? ujar Aries. Peningkatan daya tahan tubuh ikan nila ini antara lain melalui pemberian pakan yang mengandung vitamin dan vaksinasi streptococcus.
Meskipun mampu mencegah timbulnya kasus penyakit, langkah pemberian vaksin belum banyak dianut oleh para pembudidaya nila di Indonesia. Menurut Aries, hal tersebut dikarenakan sebagian besar para pembudidaya masih berorientasi mengobati ketimbang mencegah datangnya penyakit. Selain itu, belum terintegrasinya bisnis budidaya ikan nila di Indonesia juga dinilai menjadi penyebab tidak populernya pemberian vaksin pada ikan. ?Saat ini para pembudidaya nila masih berantai. Ada pembenih, pendeder, dan pembudidaya pembesaran. Mereka masih saling lempar mengenai siapa yang harus memvaksin?.

Selengkapnya, silahkan baca di Majalah TROBOS edisi 101/Februari 2008


   Artikel Lain    

    Plus Minus Autofeeder Udang

    Pakan Otomatis Genjot Pertumbuhan Udang

    Plus Minus Nursery Benur

    Hitung-Hitungan Benur Besar

    Menata Kembali Marikultur Nasional


  • Kendala Pasokan Semen Beku
  • Obsesi Membuntingkan 3 Juta Sapi
  • Pakan Otomatis Genjot Pertumbuhan Udang
  • Plus Minus Autofeeder Udang
  •   Jambore Peternakan Nasional 2017
  •   Dr. drh. Surya Agus Prihatno, MP: Koreksi untuk Upsus Siwab
  •   Memuliakan Anak Kandang
  •   Klasterisasi Domba dan Kambing

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved