Siapa Dia   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Rabu, 15 Oktober 2014
Dr Kadarusman : Peneliti Ikan Pelangi Papua yang Mendunia

Dr Kadarusman : Peneliti Ikan Pelangi Papua yang Mendunia

Foto: 


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Nama Dr Kadarusman S.Pi, DEA, M.Sc, Ph.D mencuat setelah keberhasilannya dalam program riset bertajuk “Rainbow Papua”. Melalui serangkaian ekspedisi dalam riset internasional tersebut telah ditemukan 15 spesies ikan pelangi dan 22 populasi ikan pelangi yang siap untuk dibudidayakan.

Dalam riset ini, Kadarusman bersama tim peneliti dari IRD (salah satu lembaga penelitian erancis) dan Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BPPBIH) Depok melakukan karakterisasi ikan pelangi yang ada di Papua, Papua Nugini, dan Australia sejak 2006. “Selama penelitian ini, kita sudah menyusuri hampir 3.000 sungai dan danau di wilayah Provinsi Papua dan Papua Barat,” ujar dosen di Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong, Papua Barat ini kepada TROBOS Aqua.

Menurut pria kelahiran Gowa Sulawesi Selatan pada 1979 ini, ikan pelangi merupakan ikan endemik Papua yang seyogyanya jadi kebanggaan bangsa dan dicintai. Sayangnya, Ia menilai, kehadiran ikan pelangi selama ini kurang dilirik pembudidaya sebagai salah satu potensi komoditas ekspor ikan hias.

Sikap ini, kata Kadarusman, amat berbeda dengan orang-orang  Eropa yang notabene tidak memiliki ikan pelangi tetapi justru menjadikan ikan air tawar ini jadi primadona. Eropa bahkan menyelenggarakan kongres khusus ikan pelangi yang diadakan secara rutin.

Selama program riset Rainbow Papua yang berlangsung antara 2006 – 2013, Kadarusman telah memimpin ekspedisi ilmiah internasional sebanyak 4 kali. Ia juga sudah mempublikasikan 10 artikel pada jurnal internasional, menemukan 7 spesies baru untuk ilmu pengetahuan, menghasilkan 350 DNA barcode dari famili Melanotaeniidae, menominasikan teori baru tentang “Radiasi grup ikan Melanotaenia”, serta menghasilkan 2 film dokumenter sains yang telah ditayangkan di beberapa channel internasional.

Kadarusman kini dikenal sebagai satu dari 5 taksonom (ahli penamaan) yang dimiliki oleh Indonesia. Ia juga menjadi salah satu ahli iktiologi dengan reputasi internasional pada ekoregion Austro-New Guinea.

Ia telah mempublikasikan puluhan karyanya dalam bidang biologi evolutif, sistematika, domestikasi dan konservasi yang menjadi tinjauan oleh para peneliti di dalam maupun di luar negeri. Atas prestasinya tersebut, Kadarusman dianugerahi medali penghargaan “Schutzenberger Award” oleh Afides Institute di Paris, Perancis pada 2011.

Perjuangan Belajar
Pencapaian yang diraih Kadarusman hingga skala dunia ini bukannya tanpa perjuangan. Ia menceritakan, bahwa dirinya menyelesaikan sekolah dasar dan menengah di Kecamatan Bontompo Selatan, Kabupaten Gowa. Ayahnya yang berprofesi sebagai petani sawah dan penjual ikan tembang menjadikan ia sudah bersahabat dengan kehidupan petani, nelayan dan pembudidaya ikan sejak kecil.

Tidak heran jika pada saat memasuki bangku kuliah, Kadarusman memilih menekuni bidang perikanan. Sejak 1999 ia menjadi mahasiswa Jurusan Budidaya Perairan Universitas Hasanuddin, Makassar dan lulus menjadi wisudawan terbaik pada 2003. Kemudian ia diterima bekerja di kampus Akademi Perikanan Sorong (sekarang Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong).

Sembari mengajar, Kadarusman mencari beasiswa ke luar negeri. Pada saat itu, ia mengaku, koneksi internet di Papua sangat terbatas. Untuk mengirim email lamaran beasiswa ke Eropa dan Amerika, ia harus ke Manokwari dengan kapal Pelni menempuh jarak 260 mil yang memerlukan 12 jam atau satu malam perjalanan dari Sorong.

Selama menjalankan penelitian ikan pelangi, Kadarusman selalu mengedepankan kerjasama antar lembaga.

Untuk itu, ia bekerjasama dengan IPR dan BPPBIH untuk melakukan riset mengenai ikan pelangi. Dengan kerjasama ini, ikan pelangi yang ditemukan menjadi milik bersama antara Politeknik KP Sorong, BPPBIH, dan IRD.

Kadarusman mengaku untuk mendapatkan ikan pelangi susah sekali. bersama tim ia harus masuk hutan dan terkadang tersesat. Dan ia harus berhadapan dengan nyamuk malaria yang terkenal berbahaya dan buaya-buaya rawa yang ganas. Karena keterbatasan bekal, ia dan timnya pernah kembali tanpa hasil karena sudak kelaparan setelah 24 jam tidak makan.

Dalam satu ekspedisi, tim yang tersusun antara 20 – 50 orang dapat memakan waktu hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Belum lagi jika ikan pelangi yang telah ditangkap mati. “Kami pernah menangkap 50 ekor di lapangan, tapi setiba di Sorong hanya 2 ekor yang bertahan karena transportasi yang terlalu jauh,” kisahnya.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-29/15 Oct 2014 - 14 Nov 2014


   Artikel Lain    

•    H. Ade Lukman: Jurus Bertahan di Cirata

•    Ricky Liduan Kho: Karunia Dibalik Tantangan

•    Jaja Mujahidin: “Tukang” Es Buah Jadi Pengusaha

•    Ge Recta Geson : Budidaya Udang Itu Bisnis Ilmiah

•    Edi Iskandar: Budidaya Jadi Tumpuan Mata Pencaharian


  • Kebijakan yang Komprehensif Dinanti
  • Menatap Bisnis Broiler 2018
  • Permainan Dagang Tekan Harga Nener
  • Angkat Pamor Bandeng Skala Industri
  •   Jambore Peternakan Nasional 2017
  •   Dr. drh. Surya Agus Prihatno, MP: Koreksi untuk Upsus Siwab
  •   Plus Minus Autofeeder Udang
  •   Klasterisasi Domba dan Kambing

        


    ETALASE    



• Home     • Our Profile     • Trobos Moment     • Contact Us     • Data Agri     • Foto     • AgriStream TV     • TComm     • Berlangganan
Copyright © 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved