Andalan Air Tawar   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Rabu, 15 Juni 2016
Garap Budidaya Sidat Cilacap

Garap Budidaya Sidat Cilacap

Foto: TROBOS


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

 

Cilacap jadi salah satu sentra pemasok benih sidat nasional

 

Ikan yang bentuk tubuhnya seperti belut ini, kini menjadi salah satu primadona komoditas perikanan dunia. Ikan sidat atau Anguilla Sp sudah lama jadi makanan favorit orang Jepang. Permintaan sidat di pasar internasional mencapai 300 ribu ton per tahun dan 50%-nya merupakan permintaan Jepang. Belum lagi permintaan di dalam negeri yang diperkirakan mencapai 3 ton per bulan untuk daerah Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi (Jabodetabek)saja.

 

Melihat potensi pasar sidat yang menggiurkanini, Sugiyonoterdoronguntuk menekuni usaha budidaya sidat sejak 8 tahun yang lalu. ”Saya mulai tertarik untuk budidaya sidat dari 8 tahun lalu, karena harganya cukup tinggi di bandingkan ikan lainnya,” ujar pembudidaya asal Cilacap Jawa Tengah ini

 

Giyono begitu panggilan akrabnya melihat peluang kebutuhan benih sidat untuk pembesaran sekalipun komoditas sidat hingga saat ini pasokan benih masih terbatas dari hasil tangkapan alam, karena belum dikembangkan teknologi untuk pemijahannya. Giyono pun tak mati akal, ia bekerjasama dengan nelayan di Cilacap untuk menangkap benih sidat dari laut.

 

 

Jalin Kemitraan

Dia pun memutuskan untuk menyediakan dan menjual benih sidat kepada pembudidaya di wilayah Jawa Tengah. Pembudidaya yang mengambil benih dari tempat Giyono atau yang dikenal dengan Sasana Sidat akhirnya menjadi plasmanya. ”Kami sistemnya hanya menyediakan benih dan membantu menyerap hasil panennya untuk dijual ke perusahaan pengolah sidat atau eksportir, tapi tidak membantu menalangi biaya bibit dan pakanpembesaran,  untuk modal dan kolam semuanya dari pembudidaya plasma,” tutur Giyono menjelaskan.

 

Saat ini ia telah memiliki puluhan mitra yang tersebar di berbagai daerah. Lokasi penyebarannya seperti di Banyumas, Purworejo, Wonosobo, Klaten, Pemalang, Surabaya, Bogor, dan daerah lainnya. Saat ini Giyono bisa mensuplai benih sidat 3-4 kuintal per bulan untuk para plasmanya.

 

Lebih teknis dia menjelaskan, ada 3 ukuran benih yang disediakan untuk plasmanya. Ukuran benih tersebut yakni 1 kg isi 300 ekor, 1 kg isi 100 ekor, dan 1 kg isi 40 ekor.  ”Saya memilihara benih hasil tangkapan dari alam dari ukuran glass eel sampai stadia elver yakni yang sudah diadaptasikan sekitar 2 minggu sehingga sudah bisa mengkonsumsi pakan pabrikan,” ungkap Giyono.

 

Lanjutnya, untuk benih sidat yang ukuran 1 kg isi 300 ekor  yakni masih masuk stadia elver ia bandrol dengan harga Rp 550 ribu per kg. Sedangkan untuk benih sidat ukuran 1 kg isi 100 ekor yang masih kategori elver atau di Cilacap dikena dengan istilah pensil kecil dijual dengan harga Rp 350 ribu per kg. Untuk benih sidat ukuran 1 kg isi 40 yang telah masuk  kategori fingerling (diatas 10 gram) atau disebut pensil besar  dihargai Rp 250 ribu per kg. ”Yang paling banyak diminati pembudidaya plasma kami rata-rata ukuran 300 ekor per kg sama yang 100 ekor per kg,” ucap Giyono.

 

Menurutnya jika ingin masa pemeliharaan yang singkat bisa menggunakan benih dengan ukuran diatas 10 gram yakni 1 kg isi 40 ekor yang membutuhkan waktu budidaya 6-7 bulan untuk mencapai ukuran konsumsi minimal 1 kg isi 4. Sedangkan untuk ukuran benih 1 kg isi 100 ekor membutuhkan waktu pembesaran sekitar 8-10 bulan. Sedangkan untuk yang ukuran 1 kg isi 300 ekor memerlukan waktu hingga 12 bulan untuk mencapai ukuran konsumsi.

 

 

Hitungan Usaha

Tidak main-main dari hitung–hitungan kasaryang diungkapkanGiyono, ternyata budidaya sidat sangatlah menguntungkan. Misalnya saja kalau kita pelihara satu kolam dengan padat tebar sekitar 10 kg isi 300 ekor atau sekitar 1.500 ekor dengan asumsi tingka kematian hingga 20% berarti bisa panen hingga 450 kg.

 

Asumsi biaya pakan Rp 25 ribu per kg dengan FCR 2,5 total biaya pakan dan benih sekitar Rp 35 juta. Giyono menginformasikan untuk harga sidat konsumsi di tingkat pembudidaya lokal saat ini sekitar Rp 130-150 ribu per kg. Kalau dalam satu kolam bisa panen 450 kg dengan harga jual Rp 130 ribu bisa dapat Rp 58 juta dengan biaya sekitar Rp 35 juta maka dalam satu siklus 12 bulan per kolam bisa diperolah keuntungan hingga Rp 23 juta.

 

”Itu kan untuk satu kolam saja 23 juta satu siklus per tahun, kalau kita punya 12 kolam kan bisa panen setiap bulan. Seperti di sasana sidat kita sekarang ada 12 kolam yang kita setting untuk bisa panen setiap bulan, selain kita juga  menjual benih sidat,” ujarnya bangga.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-49/ 15 Juni 2016 -  14 Juli 2016

 

 


   Artikel Lain    

    Cara Benar Membenihkan Lele

    Potret Pengembangan Budidaya Patin Lampung

    Jadikan Patin Tuan Rumah di Negeri Sendiri

    Mau Ekspor Ikan Hias Saja Susah!

    Potret Desa Wisata Perikanan


  • (Masih) Ruwetnya Urusan Jagung
  • Menakar Keberhasilan Pangkas Produksi
  • Lebih Siap Tebar dengan Nursery
  • Biosekuriti Pembenihan Ketat, Benur Kuat
  • Lowongan Kerja: BIOMIN
  •   Mengurai Berbelitnya Perizinan Usaha Tambak
  •   Merancang Konstruksi Tambak Ideal
  • Pemerintah Kendalikan Suplai Daging dan Telur Unggas

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved