Inti Akua   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Senin, 15 Agustus 2016
Marikultur Berpotensi Minim Pesaing

Marikultur Berpotensi Minim Pesaing

Foto: trobos


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

 
 
Potensi budidaya laut terbuka lebar dengan hitungan margin besar, sayang belum banyak yang berminat investasi
 
Perkembangan sektor perikanan budidaya selama ini lebih banyak dikawasan darat, perairan umum, dan pantai pesisir. Sementara usaha budidaya laut (marikultur) belum banyak yang mengembangkan. Padahal Indonesia memiliki wilayah perairan laut dangkal (coastal waters) yang sangat luas. 
Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Rokhmin Dahuri menyebutkan, ada 24 juta hektar wilayah perairan laut dangkal yang cocok untuk usaha budidaya laut dengan potensi produksi sekitar 45 juta ton per tahun. Untuk tingkat produksi budidaya laut pada 2014 lalu baru sekitar 9,4 juta ton per tahun. Artinya angkanya masih sangat kecil dibandingkan potensi yang bisa dimanfaatkan. 
 
 
Senada Rokhmin, General Manager PT Gani Arta Dwitunggal (produsen keramba jaring apung HDPE), Andi J. Sunadim mengatakan, Indonesia yang terdiri atas 70 % laut memiliki potensi budidaya laut sangat tinggi. ”Kita punya panjang garis pantai 95 ribu km tapi output produksi budidayanya baru sekitar 5 juta ton per tahun, padahal Cina dengan panjang garis pantai 80 ribu km produksi budidaya lautnya sudah mencapai 39 juta ton per tahun,” tuturnya kepada TROBOS Aqua beberapa waktu lalu. 
 
 
 Ikut angkat bicara Direktur PT Stargold Internusa Jaya (produsen keramba jaring apung HDPE), Imam Kadarisman. Menurutnya prospek budidaya laut sangatlah cerah. ”Tapi sekarang ini pemanfaatan laut untuk budidaya ikan sangat kecil baru 0,75 % dari luas potensi yang ada,” ucapnya. 
 
Menurut Imam, pangsa pasar ikan masih terbuka luas, begitupun dengan kesempatan usaha budidaya ikan. Pasalnya konsumsi ikan Indonesia masih rendah baru sekitar 35 kg per kapita/tahun jauh dibandingkan Jepang yang telah mencapai 60 kg per kapita/tahun, dan Malaysia 50 kg per kapita/tahun. ”Kalau tingkat konsumsi ikan kita meningkat otomatis permintaan ikan juga naik dan produksi juga harus ditingkatkan termasuk dari budidaya laut,” ucap Imam. 
 
 
 
Prospek Budidaya Laut
 
Beberapa komoditas budidaya laut sudah banyak dikembangkan pembudidaya maupun instansi pemerintahan. Misalnya saja Esther Satyono Direktur Utama PT Indonesia Mariculture Industries (PT IMI). Berawal sebagai pengusaha perikanan tangkap, ia memulai melirik budidaya kerapu sejak 2004 dan usaha tersebut terus berkembang. Kemudian pada 2008, dia mengembangkan usaha dibudidaya kakap di wilayah .
 
 
 Budidaya kakap dilakukan Esther di Kepulauan Riau dengan luasan lahan mencapai  40 hektar. Hasil budidaya kakap ini diperuntukkan pasar lokal dan ekspor. ”Untuk jumlah produksi menyesuaikan dengan permintaan karena kami supply ikan hidup, kami pernah produksi sampai 1.000 ton per tahun,” sebutnya. 
 
 
Esther mentargetkan, nantinya PT IMI mampu memproduksi kakap sampai 3.000 ton per tahun. ”Sayangnya target produksi 3.000 ton per tahun belum pernah kami capai walaupun kita sudah budidaya 8 tahun. Padahal sebetulnya dari sisi pasar mampu menyerap produksi kakap hingga 3.000 ton per tahun,” ungkapnya. 
 
 
Menurutnya salah satu yang menjadi kendala dalam produksi komoditas kakap yakni SR (Survival Rate) atau daya tahan hidup yang rendah baru sekitar 50 %. “Saya berharap SR-nya bisa naik 70 % dan itu masih menjadi perjuangan,” ucap Esther. 
 
 
Namun demikian, PT IMI telah tersertifikasi sebagai pembudidaya laut dengan grade A dan sedang dalam proses sertifikasi ISO 22.000. ”Selain hambatan teknis produksi, kendala di Indonesia itu transportasi ikan segar dari sentra produksi ikan segar ke pasar yang umumnya sangat mahal dan tidak memadai, kendala ini hingga kini belum bisa terselesaikan,” kata Esther. 
 
 
Tren budidaya laut tidak hanya dikembangkan oleh swasta, instansi pemerintah dalam hal ini dinas maupun balai juga turut serta. Misalnya saja Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku Utara yang mulai mengembangkan budidaya laut sejak 2015 lalu. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku Utara, Buyung Radjiloen menyebut, potensi budidaya laut yang dimiliki Maluku Utara ada sekitar 81 ribu hektar dan baru dimanfaatkan sekitar 10 %-nya atau baru 8 hektar. 
 
 
Buyung menginformasikan, Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku Utara tengah mengembangkan demplot usaha budidaya dengan Keramba Jaring Apung (KJA) seluas 1 hektar  atau sekitar 50 unit KJA dengan anggaran Rp 7 miliar. ”Kami fokus mengembangkan budidaya laut untuk komoditas udang vannamei karena  potensinya sangat besar dan biaya produksinya bisa lebih murah ketimbang harus dibudidayakan di tambak,” ungkap Buyung. 
 
 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-51/ 15 Agustus – 14 September 2016

 


   Artikel Lain    

    Raup Peluang Pasar Nila

    Kemitraan Budidaya Nila Berkelanjutan

    Genjot Produksi dengan Ekspansi

    Mengurai Berbelitnya Perizinan Usaha Tambak

    Menyiasati Margin Budidaya Lele


  • Berkelasnya Kuliner Itik
  • Bisnis Itik Makin Dilirik
  • Kemitraan Budidaya Nila Berkelanjutan
  • Raup Peluang Pasar Nila
  • Training Jurnalistik Media Petemakan
  • Lowongan Kerja: BIOMIN
  •   Menyiasati Margin Budidaya Lele
  •   Mengurai Berbelitnya Perizinan Usaha Tambak

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved