Inti Akua   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Sabtu, 15 Oktober 2016
Kecil Skalanya Besar Rupiahnya

Kecil Skalanya Besar Rupiahnya

Foto: 


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Budidaya udang vannamei rumah tangga masih mampu mendatangkan marging yang cukup besar dengan risiko yang lebih terkontrol

Meski menawarkan margin keuntungan yang sangat menggiurkan, belum banyal orang yang berani menjajal usaha budidaya udang vannamei.  Salah satu pertimbangannya karena butuh modal yang cukup besar untuk memulai budidaya udang khususnya skala intensif. Namun sekarang tak melulu harus budidaya skala intensif dengan modal besar baru bisa berbudidaya udang vannamei. Pola budidaya udang yang menguntungkan dengan modal investasi yang lebih terjangkau sudah mulai diterapkan.

 

Pola budidaya skala rumah tangga yang mulai banyak diterapkan salah stunya adalah model Rumah Tangga vannamei (RTVe). Adalah Nonot Triwaluyo Setjadi, General Manager Shrimp Feed Central Proteinaprima (CPP) yang mengagas dan menerapkan pola budidaya ini.

 

”Sebelumnya kita sudah berhasil mengembangkan Kampung Vannamei (Kave) dengan skala semi intensif dari tambak-tambak idle dengan luasan rata-rata per petak 3.000 m2. Konsepnya sama hanya dimodifikasi luasan lahannya jadi lebih sempit sekitar 800 – 1.000 m2 per petak untuk RTVe,” terang Nonot kepada Trobos Aqua belum lama ini.

 

 

Modal Lebih Kecil

Lanjut Nonot menjelaskan, jika untuk budidaya udang vannamei skala intensif dibutuhkan luasan lahan hingga hektaran dengan modal investasi di atas lima ratus juta hingga miliaran rupiah. ”Konsep RTVe mengusung penghematan penggunaan lahan dengan hitungan lebih produktif dan nilai investasi modal yang lebih kecil sekitar Rp 100 jutaan per petaknya,” ucap Nonot.

 

Pada konsep RTVe ini juga menggunakan empat kincir per petaknya sama seperti konsep sebelumnya di kampung vannamei. Dari hitungan Nonot biaya investasi untuk satu petak tambak skala rumah tangga yang ia usung perlu dana sekitar Rp 100 juta. ”Investasi awal Rp 100 juta itu untuk beli kincir 4, plastik HDPE, biaya persiapan lahan tambak, pemasangan listrik, dan juga treatment air, hanya nilai itu diluar biaya sewa lahan,” terang Nonot.

 

Lanjutnya, untuk biaya operasional pakan, benur, obat-obatan dan tenaga kerja untuk satu petak tambak padat tebar 100 ribu ekor dengan estimasi panen 1,6 ton (Survivar Rate/SR 80%) dengan hitungan Rp 40 ribu per kg maka total biaya operasionalnya sekitar Rp 64 juta. ”Kalau kita total untuk biaya investasi dan operasional per petak sekitar Rp 164 juta,” ungkap Nonot.

 

Bicara mengenai pendapatan, dari hasil panen 1,6 ton per petak. Nonot merinci paling tidak dengan harga udang Rp 90 ribu per kg, maka untuk panen 1,6 ton bisa diperoleh Rp 144 juta. Jika dikurangi biaya operasional Rp 64 juta maka paling tidak margin keuntungannya sekitar Rp 80 juta per siklus (empat bulan). ”Satu tahun itu bisa 2,5 siklus, dengan keuntungan Rp 80 juta per siklus hitungannya dalam 2 siklus saja sudah kembali biaya investasi tambak yang Rp 100 juta plus mengantongi untung Rp 60 juta,” kata Nonot meyakinkan.

 

Masih Nonot, ia menyebut RTVe saat ini sudah tersebar di beberapa daerah seperti di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat dengan total petakan sekitar 1.500. ”Rata-rata satu pembudidaya hanya memiliki satu petakan tambak luasan 800 - 1.000 m2bahkan ada yang patungan satu petak berdua, namun ada juga yang punya 2 atau 3 petak,” ungkap Nonot.

 

Dari 1.500 petak yang ada saat ini dimiliki oleh sekitar 700 – 800 pembudidaya. Ia mentargetkan jumlah rumah tangga vannamei akan bertambah dari 1.500 petak menjadi 3.000 petak pada penghujung 2016. ”Saat ini kita lagi juga sedang mengembangkan model rumah tangga vannamei di Lampung, Aceh, dan Medan mudah-mudahan jumlahnya akan bertambah dua kali lipat dari yang ada saat ini,” ungkap Nonot.

 

Aplikasi  di Tambak

Model yang Nonot perkenalkan sebelumnya yakni Kave, juga sudah diterapkan di Lampung. Adalah Widodo, Ketua (Pokdakan) Harapan Maju, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan. Setelah mengajukan permohonan untuk dimasukan dalam program revitalisasi tambak, baru pada 2015 Pokdakan Harapan Maju mendapat bantuan penuh untuk budidaya tambak sistem intensif seluas 3.000 m2 dan pencetakan/pendalaman tambak tradisional sebanyak 24 kolam. Seluas 2.000 m2 yang terdiri dari 2 kolam di antaranya milik Widodo.

 

Kedua kolam milik Widodo ini diisi benur dengan kepadatan tebar 150 ekor per m2. Hasil panen pada usia 100 hari dari satu tambak diperoleh 2,2 ton udang ukuran 50 ekor per kg. Produksi tersebut di atas yang ditargetkan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Selatan yakni sebanyak 2 ton.  

 

Menurut Widodo, ia dan anggotanya menjalankan budidaya udang di tambak skala kecil dengan alasan kemampuan modalnya baru sebesar itu. Sebetulnya, ia masih memiliki lahan untuk dua kolam lagi, masing-masing seluas 1.000 meter. ”Tapi dijalankan dululah yang dua kolam ini. Jika nanti modal sudah cukup untuk memperdalam yang dua kolam lagi baru dilanjutkan,”akunya.  

 

Untuk menjalankan budidaya udang siklus kedua pada 1 kolam ukuran 1.000 m2 miliknya tersebut, Widodo mengaku mengeluarkan dana sebesar Rp 58,5 juta  untuk satu siklus, rinciannya adalah untuk biaya pembelian benur Rp 4.500.000, pakan Rp31.500.000, biaya obat-obatan Rp 3 juta/kolam, biaya listrik Rp 10,5 juta/tambak serta biaya tenaga kerja Rp 9 juta/siklus.

 

Dari hasil panen diperoleh 1 ton udang size 40  atau 1.000 kg/kolam dengan harga Rp 86.000/kg diperoleh pendapatan Rp 86 juta per siklus. Dengan biaya produksi Rp 58,5 juta dapat keuntungan Rp 27,5 juta.  “Dengan total pengeluaran Rp 58,5 juta untuk membesarkan 1 ton udang maka biaya produksi udang/HPP sekitar Rp58.500/kg,” ujar Widodo.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-53/15 Oktober-14 November 2016


   Artikel Lain    

    Plus Minus Autofeeder Udang

    Pakan Otomatis Genjot Pertumbuhan Udang

    Plus Minus Nursery Benur

    Hitung-Hitungan Benur Besar

    Menata Kembali Marikultur Nasional


  • Kendala Pasokan Semen Beku
  • Obsesi Membuntingkan 3 Juta Sapi
  • Pakan Otomatis Genjot Pertumbuhan Udang
  • Plus Minus Autofeeder Udang
  •   Jambore Peternakan Nasional 2017
  •   Dr. drh. Surya Agus Prihatno, MP: Koreksi untuk Upsus Siwab
  •   Memuliakan Anak Kandang
  •   Klasterisasi Domba dan Kambing

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved