Advertorial Livestock   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Selasa, 1 Nopember 2016
Elanco Animal Health Indonesia: Kontrol Chicken Infectious Anemia pada Breeder

Elanco Animal Health Indonesia:  Kontrol Chicken Infectious Anemia pada Breeder

Foto: 


Komoditas Lain
Unggas
Sapi Perah
Sapi Potong
Domba/ Kambing
Aneka Ternak
Hobi Livestock

 

Penyakit imunosupresif saat ini masih menjadi ancaman besar bagi industri perunggasan, tidak hanya di Indonesia namun hampir di semua belahan dunia. Salah satu penyakit imunosupresif infeksius yang sangat merugikan peternak komersial terutama broiler (ayam pedaging) adalah Chicken Infectious Anemia (CIA). Adanya penyakit ini ditengarai menyebabkan kerugian ekonomi cukup besar dengan adanya peningkatan mortalitas dan penurunan performa selama pemeliharaan, peningkatan angka culling, uniformity yang rendah dan peningkatan angka kondemnasi karkas di Rumah Potong Ayam (RPA) yang dihubungkan dengan masalah kesehatan ayam.

 

Pada kelompok ayam usia 2-4 minggu yang menunjukkan gejala sindrom anemia akan terjadi lambat tumbuh dan menimbulkan ke­matian 10-20 %, namun bisa juga mencapai 60 %. Menurut laporan Mc.Ilroy, dkk, terjadi penurunan berat badan 18.5 % di RPA dan peningkatan mortalitas di usia sekitar 3 minggu dari 15 flock ayam broiler yang 30 % nya berasal dari induk di usia 20 minggu tidak mempunyai titer antibodi CIAV.

 

Infeksi subklinis biasanya hasil dari kombinasi status ayam yang seronegative dan adanya infeksi vertikal maupun horizontal. Kerugian yang ditimbulkan pada infeksi subklinis cukup signifikan. Mc.Nulty, dkk melaporkan bahwa keuntungan bersih yang didapat per 1000 ekor dari ayam yang tidak terinfeksi CIAV (antibodi CIAV negative) lebih tinggi 13 % dibanding kelompok ayam yang terinfeksi CIAV (antibodi positif).

 

 Penyebab Chicken Infectious Anemia

Chicken Infectious Anemia (CIA) berhubungan erat dengan istilah umum sindrom pendarahan, dermatitis-anemia atau blue wings. Pe­nyakit ini disebabkan oleh virus dari genus Gyrovirus, fam Circoviridae. Penyebab CIA diisolasi pertama kali oleh Yuasa, dkk tahun 1979 di Jepang. Virus CIA virionnya berbentuk icosahedral berukuran sangat kecil dengan diameter 25-26.5 nm, tidak beramplop dan berupa single stranded DNA. Sifat virus sangat resisten terhadap berbagai perlakuan fisik maupun kimiawi. Berbagai desinfektan yang berbahan sabun amfoter, ortodiklorobenzen tidak efektif terhadap CIAV. Namun virus bisa diinaktivasi sebagian dengan perlakuan 5 % fenol selama 2 jam dalam suhu 37 ⁰C, preparat glutaraldehid 1 % selama 10 menit pada temperatur ruangan dan dengan formaldehid 5 % selama 24 jam pada temperatur ruangan, larutan iodin atau hipoklorit bisa efektif dengan konsentrasi 10 % selama 2 jam pada suhu 37 ⁰ C atau dengan pemanasan 100 ⁰C selama 15 menit.

 

Hospes CIAV yang diketahui adalah ayam baik broiler, layer (ayam petelur) ataupun breeder (pembibit) dan ayam semua usia rentan terhadap infeksi CIAV. Kepekaan akan meningkat pada ayam muda usia kurang dari 3 minggu sehingga gejala klinis seperti anemia, pendarahan akan terlihat lebih jelas.

 

Penularan dan Gejala Klinis

Infeksi CIAV bisa ditularkan secara vertikal dari breeder yang terinfeksi ke DOC yang dihasilkan dan horizontal dari ayam sakit ke ayam lain yang peka dengan rute fekal-oral karena ekskresi virus yang cukup tinggi lewat feses terutama 5-7 hari pasca infeksi. Lamanya periode penularan lewat telur tergantung pada kecepatan penularan dan perkembangan kekebalan ayam.

 

Masa inkubasi CIA secara buatan pada umumnya terjadi 10-14 hari dengan kematian mulai 12-14 hari post inokulasi. Namun di lapangan pada penularan secara kongenital ayam menunjukkan gejala klinis dan kematian pada usia 10-12 hari dengan puncak pada usia 17-24 hari. Pada kasus infeksi yang berat bisa terjadi puncak kematian kedua pada usia 30-34, hari ini dimungkinkan karena adanya penularan secara horizontal dari ayam terinfeksi ke ayam lain yang peka.

 

Gejala klinis spesifik yang terlihat adalah anemia dan pendarahan, puncak anemia terjadi 14-16 hari post infeksi, dengan nilai hematocrit dalam kisaran 6-27 %. Ayam terlihat lesu, ngantuk dan pucat, akan mati dalam waktu 12-28 hari post infeksi. Biasanya kematian < 30 % pada infeksi tunggal. Ayam yang bertahan hidup akan recovery dalam 20-28 hari post infeksi. Kematian yang berlanjut dan pertumbuhan yang lambat (slow growth) terjadi karena adanya infeksi sekunder bacterial atau virus yang lain.

 

 

Kekebalan Terhadap CIAV

Kekebalan terhadap CIAV berupa kekebalan aktif dan pasif. Respon kekebalan ini sangat penting untuk perlindungan dari infeksi CIAV. Namun antibodi yang dihasilkan belum terdeteksi sampai usia 3 minggu pada ayam yang diinfeksi saat DOC (anak ayam umur sehari) dan baru terlihat kenaikan setelah usia 4 minggu. Pada ayam breeder yang terinfeksi secara horizontal, serokonversi bisa dilihat lebih dini di usia 8-9 minggu dan sebagian besar ayam mempunyai antibodi terhadap CIAV di usia 18-24 minggu. Titer antibodi yang tinggi masih terdeteksi di usia 52 minggu.

 

Kekebalan pasif diperoleh anak ayam dari induk baik karena proses vaksinasi ataupun infeksi alami yang terjadi pada breeder. Antibodi dari induk yang tinggi dan seragam akan melindungi anak ayam dari infeksi CIAV lapangan di 2-3 minggu awal masa kehidupannya. Namun perlindungan kekebalan pasif tidak akan bekerja optimal jika ada faktor imunosupresif lain seperti IBDV yang akan mempengaruhi respon kekebalan humoral ayam. Pada breeder yang tidak divaksinasi akan mempunyai antibodi setelah terjadi infeksi alami namun antibodi yang dihasilkan tidak cukup untuk meminimalisir penularan vertikal dari induk ke DOC, sedangkan maternal antibody yang dihasilkan dan diturunkan ke DOC tidak akan cukup untuk melindungi ayam komersial dari infeksi CIAV di lapangan. Adanya kejadian outbreak infeksi CIAV pada ayam komersial biasanya berhubungan erat dengan tidak adanya kekebalan pada breeder, karena tidak divaksinasi CIAV ataupun jika induk mempunyai kekebalan karena hasil infeksi alami.

 

Kontrol CIAV

Seperti telah disebutkan di atas sifat virus CIA sangat stabil di lingkungan baik dengan perlakuan fisik ataupun kimiawi, oleh karena itu program sanitasi, higienis dan biosekuriti yang baik dalam masa persiapan kandang hanya akan menekan/mengurangi populasi virus di kandang dan lingkungan, namun ancaman infeksi CIAV pada ayam masih cukup tinggi. Vaksinasi terhadap virus CIA harus dilakukan di breeder untuk memastikan ayam breeder mempunyai titer antibodi yang tinggi dan seragam sehingga bisa melindungi dari penyebaran vertikal dan menyediakan kekebalan maternal yang diturunkan tinggi dan seragam sehingga anak ayam terlindungi dari infeksi alami di usia awal kehidupan.

 

Lohman Animal Health* merupakan produsen vaksin CIAV yang pertama di dunia yaitu Avipro Thymovac di tahun 1988. Keunikan vaksin ini berisi virus Chicken Infectious Anemia strain Cux-1 dengan low attenuation, sehingga virus mempunyai imunogenitas yang tinggi. Vaksin cukup aman karena tidak menimbulkan efek negatif seperti anemia meski diberikan 10 x dosis anjuran, tidak menimbulkan efek imunosupresif meski diberikan berbarengan dengan vaksin ND live dan aplikasinya sangat mudah dengan cara pemberian lewat air minum di usia tidak kurang dari 8 minggu sampai minimal 6 minggu sebelum ayam berproduksi pertama kali.

 

Berikut ini merupakan efektivitas dan potensi vaksin Avipro®Thymovac,

1.       Avipro®Thymovac sangat aman meski diberikan sampai 10x dosis yang dianjurkan

2.       Avipro®Thymovac tidak bersifat imunosupresif meski diberikan bersamaan dengan vaksin yang lain

3.       Avipro®Thymovac menstimulasi titer antibodi yang tinggi, seragam dan bertahan lama pada breeder (% CV rendah dan Vaccination Index tinggi)

4.       Maternal antibodi yang diturunkan ke DOC tinggi dan seragam

 

Kesimpulan

Virus Chicken Infectious Anemia sudah tersebar di seluruh dunia dan sangat resisten terhadap perlakuan baik fisik maupun kimiawi.

Kerugian ekonomi yang ditimbulkan pada farm komersial baik yang bersifat klinis maupun sub klinis cukup signifikan akibat dari kematian yang meningkat. Pertumbuhan yang lambat dan peningkatan kepekaan terhadap berbagai agen infeksi lain baik bacterial maupun viral.

Kontrol CIAV dengan biosekuriti dan sanitasi hanya akan mengurangi populasi virus namun tidak akan menghilangkan 100 % keberadaan virus di lapangan

Vaksin Avipro®Thymovac menstimulasi antibodi yang tinggi secara

cepat pada induk, bertahan lama dengan variasi titer antibodi yangrendah sehingga antibodi yang diturunkan ke DOC juga akan tinggi dan seragam.

Vaksinasi dengan Avipro®Thymovac akan melindungi ayam breeder

dari infeksi CIAV, mencegah penularan vertikal dan menyediakan antibodi maternal yang cukup tinggi dan seragam sehingga akan melindungi anak ayam dari infeksi virus di masa awal kehidupannya.


   Artikel Lain    

    drh Nofitra Dewi Suparno Putri : Kontrol Infeksius Coryza Pada Unggas

    CJ Feed Resmikan Pabrik Pakan Berteknologi Modern

    Evialis Menyapa Pelanggan

    Cara Mencegah dan Mengatasi Mycotoxin Pada Babi

    Semangat dan Kerja Keras Ala Wonokoyo Group


  • Keramba Jaring Apung
  • Dermaga Apung
  • Jukung
  • Wisata Bahari
  •   IKLAN ONLINE
  •   Perkiraan Harga Sapi Selanjutnya
  •   Bahan Baku Alternatif Pengganti Jagung
  •   Cara Meningkatkan Kualitas Nutrisi Pakan

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2016 TROBOS, All Rights Reserved