Advertorial Livestock   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Selasa, 1 Nopember 2016
Langkah Pencegahan Penyakit Secara Sistemik di Peternakan Besar

Langkah Pencegahan Penyakit Secara Sistemik di Peternakan Besar

Foto: 


Komoditas Lain
Unggas
Sapi Perah
Sapi Potong
Domba/ Kambing
Aneka Ternak
Hobi Livestock

Infeksi/konsep langkah pencegahan merupakan ilmu pengetahuan yang baru dan menarik dalam manajemen penyakit babi. Penyakit ini terkait dengan kejadian epidemiologis diantara fase produksi yang berbeda

 

Penyediaan produksi babi menjadi salah satu tantangan di dunia akibat permintaan yang meningkat sehingga dibuatlah proses konsolidasi dan peningkatan ukuran untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Sejak 25 tahun terakhir, industri babi telah berevolusi dalam rangka peningkatan performa produksi, kesehatan hewan, dan kesejahteraan hewan berdasarkan usia dan fasilitas peternakan. Secara umum, dapat dinyatakan bahwa perubahan pada sistem produksi dapat menghasilkan nilai positif terhadap status kesehatan hewan melalui memperbaiki pemeliharaan babi. Namun, semakin lengkap dan besarnya peternakan serta peningkatan sistem produksi, mengharuskan kita untuk melakukan pengendalian penyakit melalui langkah yang berbeda dengan meyakini bahwa pengendalian tersebut akan berpengaruh terhadap siklus produksi.

 

Infeksi dan Konsep Pencegahan

Infeksi/konsep pencegahan merupakan ilmu pengetahuan baru dan menarik dalam manajemen penyakit babi, meng­hubungkan kejadian epidemiologis (rantai infeksi, lihat gambar 1) diantara fase produksi yang berbeda (rantai produksi), meng­gunakan proses logika untuk menciptakan strategi intervensi multi-fase (rantai pencegahan) diilustrasikan pada gambar 2. Sistematika ini terhubung dengan kontrol penyakit yang pertama kali dilakukan oleh Dr Eduardo Fano, Dr Brian Payne, dan Dr Edgar Diaz di Amerika Serikat untuk pengendalian keduanya yaitu M. hyopneumoniae dan PRRS, tetapi dapat juga diaplikasikan secara praktis untuk semua penyakit infeksius.

 

Adanya infeksi, shedding, transmisi vertikal, transmisi horizontal, dan infeksi lateral dinyatakan sebagai bagian kritis epidemiologi dan dikenal sebagai “rantai infeksi” patogen pada babi saat dalam fase proses produksi terhadap kelompok (se­luruh kumpulan) menghasilkan manifestasi yang jelas terhadap gejala klinis berkaitan dengan produksi dan kerugian finansial akibat peningkatan mortalitas, peningkatan apkir, perlakuan dan penurunan performa, bahkan terdeteksi untuk penyakit subklinis. “Rantai” infeksi ini dimulai saat pertumbuhan gilts dan pengenalan kekumpulan sow serta berakhir di tahap populasi akhir pertumbuhan atau melakukan koneksi ulang dengan link baru terhadap produksi gilt.

 

Bagian cara berpikir seperti ini merupakan konsep singkat dari infeksi atau penyediaan manajemen penyakit : untuk ke­berhasilan pengendalian penyakit agar mengurangi paparan secara minimal (reduksi infeksi) dan memaksimalkan imunitas (peningkatan proteksi).

 

Dari “Rantai Pemikiran” tersebut, memungkinkan adanya pendekatan yang lebih holistik dan komperehensif untuk mema­hami epidemiologi dan pencegahan infeksi dengan mencocokan “rantai produksi” serta “rantai infeksi”, menghasilkan “rantai pencegahan” yang lebih difokuskan untuk keseluruhan sistem produksi pada berbagai tahapan termasuk untuk masing-masing individu piglet. Oleh karena itu, pendekatan ini dapat membantu untuk melakukan modifikasi atau memastikan kembali strategi intervensi (alur babi, manajemen biosekuriti internal dan protokol pencegahan) untuk strategi pengendalian, pencegahan, dan ter­masuk eliminasi penyakit. Tujuannya adalah untuk menciptakan cara berpikir ketika memahami akar permasalahan yaitu melalui pendekatan manajemen kesehatan.

 

Hikmah yang Didapatkan dari Pendekatan Rantai Pencegahan

Setelah beberapa tahun terjadi kegagalan intervensi, imple­mentasi sistem pendekatan rantai pencegahan didasarkan pada perbaikan alat diagnostik, peningkatan pemahaman epidemiologi penyakit PRRS, dan menganalisa keuntungan dari pelaksanaan biosekuriti yang menyebabkan suksesnya pengendalian PRRS, seperti penggunaan protocol Load-Close-Homogenisasi.

 

Langkah pertama adalah untuk membawa gilts yang tersedia dan dikandangkan dalam satu kelompok (load). Kemudian semua babi dalam kelompok diimunisasi dua kali dengan jarak 30 hari menggunakan vaksin PRRS MLV (homogen) dan kemudian tidak diperbolehkan memasukkan hewan baru ke dalam kumpulan hingga dinyatakan stabil (close). Kelompok breeding diklasifika­sikan positif stabil terhadap PRRS ketika sows sebelumnya juga terpapar dan menghasilkan piglet negative PRRS pada masa sapih dan tidak terlihat adanya gejala klinis konsisten dengan PRRS yang teramati dalam kelompok tersebut. Penerapan metode secara sistemik dan penghitungan pengeluaran dapat menggunakan dua metrik baru; Waktu terhadap stabilitas PRRS (waktu menjadi negatif) dan waktu untuk kembali ke produksi awal (ketika kum­pulan breeding menghasilkan tingkat pre outbreak) menggunakan waktu stabil untuk menghitung keberhasilan, menggunakan Chain Thinking kembali, bahwa praktik silang di kandang farrow dapat memperpanjang waktu pendekatan kawanan sebanyak jumlah kelompok karena pergerakan babi menyebabkan sirkulasi virus PRRS menjadi lebih panjang. Satu peternakan dalam masa sapih menghasilkan piglet dengan negatif PRRS, pendekatan rantai pengendalian difokuskan pada titik kontrol kritis selanjutnya; apakah perlu untuk dilakukan proteksi terhadap PRRS kembali pada piglet? Apakah anak babi tersebut tumbuh di luar lokasi penelitian? Jika babi tersebut terkena wabah, akankah terjadi peningkatan risiko pada peternakan di sekelilingnya? Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan pro­teksi? Secara sistematis, keseluruhan pendekatan kelompok (gilts, sows, dan piglet) dapat memberikan ilmu pengendalian penyakit yang lebih baik.

Aplikasi rantai pengendalian terhadap infeksi M. hyopneu­moniae (Mhp) dalam sistem produksi telah memberikan pema­haman pentingnya melakukan pengendalian penyakit tersebut pada gilt. Satu kali gilt terinfeksi, mereka akan menjadi pembawa (carrier) selama lebih dari 200 hari. Oleh karena itu, memasuk­kan gilts pengganti dalam jumlah banyak ke dalam kelompok, selama masa perpanjangan, dapat meningkatkan sirkulasi Mhp pada populasi breeding, peningkatan kejadian transmisi vertikal terhadap piglet dan pada umumnya piglet terinfeksi saat masa sapih. Peningkatan ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan sehingga munculnya penyakit lebih banyak. Dengan menerapkan manajemen penyakit yang spesifik pada gilts selama vaksinasi, strategi pemberian antibiotik atau waktu aklimatisasi yang dapat dikurangi seperti di bawah ini.

 

Pesan yang Dapat Diambil

Konsep rantai infeksi/rantai pencegahan merupakan penge­tahuan baru dalam manajemen penyakit babi ;

Menyebabkan intervensi sistematis. Konsep rantai infeksi/ rantai prevensi merupakan langkah manajemen penyakit pada babi, menggunakan pendekatan kelompok

Menghubungkan kejadian secara epidemiologi (rantai in­feksi) diantara perbedaan fase produksi (rantai produksi) dan fasilitas untuk analisa

Menggunakan cara berpikir logika untuk menciptakan strategi intervensi multi fase (rantai pencegahan), kritis untuk mendapatkan keberhasilan, dan program kesehatan yang berkelanjutan

 

 


   Artikel Lain    

    PROMOZEN sebagai Alternatif Pengganti AGP dan Anti Viral

    Medion Ajak Pelanggan Melancong ke Bali

    Wonokoyo Berhasil Meraih Prestasi Gemilang

    Solusi Peternakan Sapi Perah yang Terintegrasi

    Menyapa Pelanggan dengan Berbagi Ilmu


  • Mengurai Stagnasi di Sapi Perah
  • Daya Pikat Koperasi
  • Kemitraan Budidaya Nila Berkelanjutan
  • Raup Peluang Pasar Nila
  • Training Jurnalistik Media Petemakan
  •   Urgensi Biosekuriti Tambak Udang
  •   Menyiasati Margin Budidaya Lele
  •   Efisiensi Kandang 3 Lantai

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved