Inti Akua   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Selasa, 15 Nopember 2016
Meracik Pakan Sesuai Kebutuhan

Meracik Pakan Sesuai Kebutuhan

Foto: meilaka


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Formulasi pakan dan cara mengolah pakan ikan yang tepat dapat dongkrak produktivitas budidaya

 

Komoditas ikan air tawar tentulah sama menjanjikan seperti komoditas budidaya perikananlainnya. Contoh saja ikanlele yang dari ujung barat sampai timur Indonesia sudah banyak dikenalkan. Salahsatunya karena modal untuk memulai usaha budidaya lele masih bisa terjangkau dan pasarnya.

 

Hampir seluruh masyarakat Indonesia sebenarnya bisa menjadi pembudidaya.Salahsatu tantangannyaadalahbagaimana menarik minat para pelaku usaha untuk turut mengembangkan budidaya komoditas air tawar ini. Pakan, yang mengambil porsi hingga70% bagian modal, menjadi salah satu faktor pengusir sekaligus pemikat dalam usaha budidaya ikan.

 

Tawaran menarik juga sebetulnya sudah dilakukan para produsen pakan. Selain menerapkan formulasi pakan sesuai standar, produsen pakan pabrikan umumnyajuga melakukan berbagai inovasi sehingga pemakaian pakan bisa seefektif dan seefisien mungkin bagi para pembudidaya. Yakni, paling jelas, memperbaiki nilai rasio konversi pakan (FCR).

 

Kualitas Pakan

Menurut  Head of Feed Technology Matahari Sakti, Angga Aditya Putra Nugraha, formulasi kualitas pakan ikan dapat ditingkatkan dengan menggunakan komposisi tambahan atau yang sering disebut bahan aditif(premiks). Bahan aditif merupakan bahan baku yang dapat berfungsi meningkatkan kecernaan pakan serta meningkatkan ketahanan ikan menghadapi stres lingkungan. “Yang perlu diperhatikan adalah hindari pemakaian bahan aditif yang sifatnya berbahaya seperti antibiotik,” ungkap Anggakepada Trobos Aqua.

 

Begitu pula diterangkan General Manager Formulator AquafeedPT Feedmill Indonesia,  ParsiholanE Naiborhu. “Pakan sudah ada standarnya di Standar Nasional Indonesia (SNI) dan masing-masing perusahaanpunya formulasi pakan. Misal misalnyatarget FCR  1 sampai 1,08.Jadi tinggal kita membuat kreativitas pakan kita mau bermain di grade apa,” kataParsiholan.

 

Lebih jelasnya, Parsiholan menyebut, Dalam SNI sudah diatur standar pakan yang dibolehkan berapa nutrisinya. Katakanlah proteinnya berapa, lemaknya berapa, dan lain-lain. Dari sisi bahan baku, ada bahan baku utama, ada pelengkap. “Misalnya tepung ikan. Masing-masing pabrik  itu mau pakai bahan baku apa itu terserah. Tidak ada peraturan dari pemerintah harus pakai bahan baku ini. Cuma, bahan baku yang dipakai itu harus aman, yakni dan harus legal. Aman maksudnya, ya tidak mengandung bahan berbahaya,” tambahnya.

 

Di samping itu, lanjutnya, misalnyauntuk komposisiproteinbisa digunakanberapa pun. Misalnya, kalau mau bahan baku kacang kedelai, umumnya protein 45%. Tapi ada juga protein 48% bungkil kedelai. Tapi umumnyasekarang orang pakai protein 45%. Begitu juga dengan tepung ikan ada protein 55%dan adapula yang 60%. “Cuma standarnya kan beda-beda. Makanya kadang ada beberapa pabrik yang tidak sukses di pakan jenis tertentu, misalnya untuk spesifik ikan mas, atau ikan nila, tapi di pakan tertentu bisa dapet yang pas,” ungkapnya.

 

Yang penting itu, tutur Parsiholan, bahan baku itu proteinnya mudah tercerna dan mengandung nutrisi yang baik. Karena ada bahan baku yang proteinnya tinggi, tapi daya cernanya rendah, kalau kondisi demikian tinggaldimainkan diformulasi di pakannya. “Dan kita harus tahu spesifikasi ikan yang mau kita tuju ini apa. Pakah dia ikan karnivora, omnivora, atau herbivora. Disitulah seorang nutrisionis membuat formulasi yang cocok,” katanya.

 

Menurut Parsiholan, target untuk mencapai hasil panen itulah yang membedakan antara produsen pakan, yakni formulasinya. “Itulah kreativitas kita. Yang penting konsistensi perusahaan, mulai dari standar bahan bakunya harus gimana, matriks formulasinya gimana, supaya mantap,” pungkasnya.

 

Angga mengungkapkan, pemakaian bahan baku pabrikan didasari proses uji riset, baik kandungan nutrisi, kestabilan kualitas saat disimpan dalam gudang maupun saat diproses,serta potensi menimbulkan gangguan proses produksi atau tidak. “Semisal jika bahan baku sering menimbulkan gangguan proses produksi maka berimbas pada biaya produksi sehingga harga produk menjadi tidak kompetitif. Makanya bahan baku yang digunakan dalam proses ini, dominannya selain dari suplai lokal, juga diimpor,” tuturnya.

 

Bahan Baku

Terkait dengan pakan ikan,saat ini Kementerian Kelautan dan Perikanan ikut mendukung pengembangan budidaya air tawar melalui programkemandirian pakan. Direktur Pakan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya,  Coco Kokarkin menuturkan, saat ini program pemerintah adalah mendekatkan pembuatan pakan ke sumber bahan baku pakan. Karena itu dijalankan programGerakan Pakan Mandiri (Gerpari) untuk kelompok pembudidaya ikan yang berskala kecil agar dapatmemenuhi kebutuhan pakannya.

 

Cocomenjelaskan, melalui program ini kelopok budidaya digiring mendekat ke pesisir, yakni agar dekat dengan bahan baku tepung ikan. “Karena tujuannya untuk memanfaatkan bahan baku ikan hasil tangkapan yang bisa dicampur dengan dedak langsung digilling untuk dijadikan tepung ikan. Jadinya, bahan baku tepung ikan tidak dijual dalam bentuk ikan lagi,” terangnya.

 

Penggunaan bahan baku dari pesisir juga sudah banyak diterapkan di masyarakat. Contoh saja, diterapkan oleh Unit Pembinaan Pembudidayaan (UPP) Kabupaten Bangka yang memanfaatkan ikan rucah untuk dijadikan bahan baku pakan mandiri. “Kita biasanya beli dari limbah hasil samping di pasar atau Tempat Pelelangan Ikan (TPI), atau dari para pengolah. Lantas kita olah bahan baku ini untuk dijadikan pakan bagi kelompok kita,” ungkap Edwardi, salah satu perintis UPP Kabupaten Bangka.

 

Hal serupa dilakukan pula oleh Didi Supardi, pembudidaya nila asal Tanjung Lesung, Banten yang memanfaatkan bahan baku pesisir berupa ikan rucah. “Banyak kepala ikan menjadi limbah disini, sehingga bisa dimanfaatkan menjadi tepung (dihancurkan tulangnya). Potensi dan bahan baku sangat bisa diandalkan,” jelasnya.

 

Didi yang sudah mengembakan pakan mandiri sejak  2004, mendapatkan bantuan dari dinas kabupaten dan Kementerian Kelautan dan Perikanan berupa bantuan alat produksi pakan. “Saat ini produksi pakan mandiri kami sudah mencapai3 ton per hari. Kebutuhan untuk disini hanya 1.5ton per hari, sisanya dikirim ke Indramayu, Lampung, dan Majalengka. Pakan yang diproduksi berbentuk pelet tenggelam dan pelet apung,” terangnya.

 

 

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-54/15 November– 14 Desember2016


   Artikel Lain    

    Raup Peluang Pasar Nila

    Kemitraan Budidaya Nila Berkelanjutan

    Genjot Produksi dengan Ekspansi

    Mengurai Berbelitnya Perizinan Usaha Tambak

    Menyiasati Margin Budidaya Lele


  • Mengurai Stagnasi di Sapi Perah
  • Daya Pikat Koperasi
  • Kemitraan Budidaya Nila Berkelanjutan
  • Raup Peluang Pasar Nila
  • Training Jurnalistik Media Petemakan
  •   Urgensi Biosekuriti Tambak Udang
  •   Menyiasati Margin Budidaya Lele
  •   Efisiensi Kandang 3 Lantai

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved