Inti Akua   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Selasa, 15 Nopember 2016
Segmentasi Produksi Pakan Mandiri

Segmentasi Produksi Pakan Mandiri

Foto: trobos


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Pakan mandiri cukup mampu memenuhi kebutuhan pakan skala kecil, untuk skala besar masih membutuhkan pakan pabrikan

 

Katakanlah seseorang yang berniat investasi di dunia budidaya perikanan, dia akan bertanya, sektor apa yang paling menjanjikan saat ini. Paling mudah, sodorkan saja budidaya udang vannamei yang jelas-jelas saat ini Pasar dan harganya stabil, sehinggaotomatis mendatangkan keuntungan yang relatif stabil pula bagi si pengusaha.

 

Diakui ChairmanAsosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT), Denny D. Indrajaya, budidaya air tawar kompetisinya belum bisa diadu dengan komoditas budidaya udang vannameimisalnya. Faktor yang paling berperan, ungkap Denny, yakni fluktuasi harga yang umumnya berlaku di komoditas ikan air tawar.

 

Misalkan saja untuk ikan lele yang biasannya dikonsumsi kalangan masyarakat menengah ke bawah, harganya sudah sangat fluktuatif dari tingkat pembudidaya. “Hal ini karena jalur distribusi supply chain  dari kolam pembudidaya sampai pasar akhir, bisa melewati hingga 6-7 tangan. Tak heran jika perbandingan harga di konsumen akhir cukup jauh dibanding harga dari pembudidaya,” terang Denny.

 

Menyambung dari rantai suplai ini, Denny menambahkan, di komoditas ikan air tawar belum ada pengolahan ikan yang masif. Artinya, konsumen masih memakan ikan dalam bentuk segar, baik seperti komoditas gurami, mas, hingga lele.

 

“Ada beberapa pengolah yang mengekspor gurami dan melakukan kontrak dengan pembudidaya. Sayangnya menurut mereka pembudidaya melanggar kontrak dengan memberikan harga terlalu tinggi. Padahal jika untuk ekspor itu hargadan permintaan bisa stabil, tidak ada lagi over produksi,” jelasnya.

 

 

Pakan Juga Mahal

Tidak heran,lanjut Denny,walaupun dengan investasi besar, vannamei yang khususnya untuk  pakan menghabiskan hingga 70% modalyang terjun ke usaha budidaya air payau ini kian banyak. “Di vannamei modal pakan yang besar tidak terasa karena harga udang relatif tinggi dan stabil. Sehingga bila dihitung biaya pakan hanya memakan 30% dari keseluruhan biaya produksi,” imbuh Denny.

 

Menurut Denny, pakan yang menghabiskan slot modal hingga 70% ini lebih terasa bagi komoditas budidaya air tawar. Pembudidaya tak kan lari bila ditanya apa betul pakan menghabiskan investasi sebesar itu. “Dari margin profit kotor, produksi pakan ikan air tawar itu paling rendah. Produsen pakan hanya mendapat kurang dari 10%, sedangkan udang jauh di atas itu. Dan itu profit kotor,” beber Denny.

 

Namun, lain pula ucap Mas Tri Djoko, Ahli Pakan Ikan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan yang  bersikeras bahwa secara nasional seharusnya pakan air tawar sudah bisa menggunakan bahan baku lokal.  “Kalau kita buat pun harus ada Standard Operation Procedure (SOP)-nya. Tidakperluikan rucah dikeringkan, ada SOP lagi. Dan dari sumber-sumber bahan baku yang mengandung protein 20–50%, mestinya bisa sebagai sumber energi. Contoh, tepung ikan lokal, dedak, bungkil sawit, kepala udang,sertaikan rucah yang lain banyak sekali jenisnya,” ungkapnya.

 

Belum lagi, bahan baku lokal berupa daun-daunan. Tri Djoko mencontohkan, tumbuhan seperti eceng gondok, rumput laut hingga limbah organik pasar bisa dipakai untuk bahan baku pakan ikan sebagai sumber energi, semacam jamu.  “Kan berlimpah, selain sumber energi, dedaunan ini juga bisa sebagai antistimulan, obat untuk ikan, sebagai proses ketahanan tubuh. Selain sumber energi, bahan-bahan ini juga menyediakan kebutuhan unsur mikronya bagi kesehatan tubuh,” terang Tri Djoko.

 

Beda Skala

Namun, Denny pun menimpali produksi pakan ini akan berbeda skala nantinya. Misalkan dengan program pemerintah untuk menggalakkan pakan mandiri dalam menggairahkan pembuatan pakan, sekaligus menurunkan biaya produksi. Karena tujuannya baik, untuk membantu para pembudidaya skala kecil. “Karena kalau bicara ton, akan kesulitan bahan baku. Apalagi tantangannya kadang bahan baku lokal ini harus berkompetisi dengan bahan pangan manusia. Sementara skala industri kan biasanya menggunakan by product,” terangnya.

 

Dan hal ini, tambah Denny, tidak patut pula dipermasalahkan atau dikompetisikan antara industri dengan pakan mandiri. “Pakan mandiri untuk itulah biasanya untuk self sufficiency bukan skala industri dan untuk pakan skala kecil, seperti lele, patin, dan gurami yang sebenarnya di pembudidaya juga sudah lebih banyak gunakan pakan alami kan,” bebernya.

 

Sementara skala industri sudah ada skala besar yang disasar, contoh saja pakan nila, tambah Coco Kokarkin, Direktur Pakan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan. “Di nila yang skala besar, seperti di produsen nila untuk ekspor, tentu butuh pakan skala besardan sejauh ini pakan pabrikan sudah bisa memproduksi,” timpalnya. trobos/dini, asep

 

 


   Artikel Lain    

    Biosekuriti Pembenihan Ketat, Benur Kuat

    Lebih Siap Tebar dengan Nursery

    Raup Peluang Pasar Nila

    Kemitraan Budidaya Nila Berkelanjutan

    Genjot Produksi dengan Ekspansi


  • (Masih) Ruwetnya Urusan Jagung
  • Menakar Keberhasilan Pangkas Produksi
  • Lebih Siap Tebar dengan Nursery
  • Biosekuriti Pembenihan Ketat, Benur Kuat
  • Lowongan Kerja: BIOMIN
  •   Mengurai Berbelitnya Perizinan Usaha Tambak
  •   Merancang Konstruksi Tambak Ideal
  • Pemerintah Kendalikan Suplai Daging dan Telur Unggas

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved