Andalan Air Tawar   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Selasa, 15 Nopember 2016
Perkuat Patin Nasional,Tembus Global

Perkuat Patin Nasional,Tembus Global

Foto: trobos


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Garap pasar fillet patin nasional sambil mencari peluang pasar ekspor

 

Industri pengolahan fillet (daging tanpa tulang) ikan patin tanah air tetap bertahan di tengah masih mendominasinya fillet patin dari Vietnam. Industri terus berupaya mencari cara untuk mempertahankan eksistensinya. Termasuk mencoba peruntungan di pasar global, meski langkah tersebut juga bukan tanpa kendala.

 

Adalah PT Central Proteina Prima (CPP) terus fokus mengembangkan budidaya patin dan tengah mempersiapkan ekspor produk fillet patinnya. Asisten Vice President CPP Stephanie Endang mengakui bahwa perusahaannya sedang menunggu izin ekspor dari pemerintah selesai. Stephanie belum mau mengkonfirmasi ketika dimintai keterangan kemana tujuan pertama ekspor fillet patinnya. “Nanti saja kalau sudah selesai izinnya,” katanya.

 

Namun demikian, dirinya menjelaskan jika langkah perusahaan untuk mengekspor fillet ini juga tidak mudah. Banyak atribut yang harus dilengkapi, termasuk izin ekspor. Belum lagi produk yang dijual harus mampu bersaing dengan produk dari negara lain yang telah lebih dulu masuk pasar global, termasuk Vietnam.

 

Stephanie mengungkapkan bahwa untuk masuk ke pasar ekspor tidak bisa setengah-setengah. “Harus all out!” katanya. Karena menurutnya, untuk survei pasar baru saja merupakan tantangan tersendiri. Pihaknya juga tidak bisa mengorbankan kualitas fillet agar mencapai biaya produksi yang murah.

 

Vice President Business & Development PT Adib Global Food Supplies yang juga perusahaan pengolahan patin, Ardi Wijaya tidak memungkiri mengenai peluang ekspor fillet patin. “Peluang bagus. Pasar juga ada,” kata Ardi. Namun demikian, menurutnya masih banyak yang harus dipersiapkan sebelum benar-benar masuk ke pasar ekspor.

 

Hal ini karena, lanjutnya, ekspor fillet patin ke luar negeri tidak bisa dilakukan hanya untuk mencatatkan kemampuan ekspor saja, tetapi yang paling penting juga harus mempunyai keuntungan. Jika hanya untuk membukukan kemampuan ekspor, Ardi menjelaskan bahwa perusahaannya pun mampu untuk melakukan itu. Bahkan bisa dipersiapkan hanya dalam waktu dua minggu.

 

Menurut Ardi, industri fillet patin nasional dapat mencari alternatif pasar baru selain pasar Eropa, Rusia, dan Amerika Serikat, yang sudah dikuasai oleh Vietnam untuk menghindari persaingan langsung. “Jadi mungkin kita mesti mencari alternatif market misalnya negara-negara di Timur Tengah, atau negara-negara tetangga seperti Malaysia, Brunei, dan Timur Leste yang belum dibanjiri fillet patin,” ucap Ardi.

 

 

Penguatan Lokal

Sebagai pelaku usaha yang mengetahui bagaimana kondisi di lapangan, Ardi bersikap realistis dalam menghadapi persaingan usaha. Baginya saat ini, bisa bertahan di industri pengolahan fillet patin saja sudah bagus. “Bertahan saja sudah bagus kok,” ucap Ardi.  

 

PT Adib Global Food Supplies sendiri saat ini memang belum memiliki fokus pada pengembangan pasar ekspor. “Kalau (perusahaan) Adib sendiri tidak melihat yang jauh-jauh. Kita melihat yang depan mata. Terutama kami kan processing, bukan pembudidaya. Jadi harapan kita, ya bagaimana caranya satu rantai produksi dari budidaya sampai proses ujungnya itu bisa efisien,” Ardi menjelaskan langkah perusahaannya saat ini.

 

Meski masih ada hantaman produk patin dari Vietnam yang lebih unggul dari segi harga dan kualitas, PT Adib Global Food Supplies memiliki siasat untuk itu. ADIB menjalin dan menjaga kerjasama dengan pelanggan yang setia menjual produk dalam negeri dan pelanggan yang selektif terhadap asal muasal ikan. Ardi tidak berharap banyak dengan peritel selain itu. Pasalnya mereka akan memilih fillet yang lebih murah dengan kualitas yang baik, meskipun asalnya dari negara lain seperti Vietnam.

 

Stephanie mengamini mengenai masih terbukanya peluang pasar lokal. Alasannya Indonesia memiliki jumlah penduduk yang banyak dan jumlah kalangan menengah ke atasnya yang tidak sedikit. Harga fillet patin yang dikeluarkan oleh CPP dinilai masih terjangkau. “Karena masih terjangkau juga, tidak mencapai Rp 60 ribu per kg,” ungkap Stephanie. Perusahaannya tidak membedakan kualitas produk untuk tujuan ekspor dan lokal..

 

Masih menurut Stephanie, pemerintah juga memiliki peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan pasar lokal untuk produk perikanan secara umum. Ia memberi masukan kepada pemerintah agar ada program gemar makan ikan khusus bagi anak-anak.

 

Jika itu digarap serius oleh pemerintah, perusahannya siap untuk membuat produk baru semacam snack dari ikan. “Agar cemilannya tidak karbohidrat saja, mie instan. Tapi juga protein yang lebih sehat,” ia menjelaskan kelebihan produk berbahan baku ikan.

 

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-54/15 November– 14 Desember2016

 


   Artikel Lain    

•    Mendulang ‘Mas’ untuk Pemancingan

•    Produksi Susah, Permintaan Melimpah

•    Berkembang Meski Awalnya Ditentang

•    Inti Plasma Nila Merah Subang

•    Melongok Budidaya Cacing Sutera di Temanggung


  • Importasi dari Zona Based Dilanjutkan
  • Importasi Berbasis Zona Pasca Putusan MK
  • Urgensi Biosekuriti Tambak Udang
  • Penangkapan Tuna Ikut Terseok
  •   Tambak Udang Skala Mini di Madura
  •   Siasat Bertahan Peternak Layer
  • THE ALLTECH IDEAS CONFERENCE 2017
  •   Berbagi Pengalaman Kendalikan WFD

        


    ETALASE    



• Home     • Our Profile     • Trobos Moment     • Contact Us     • Data Agri     • Foto     • AgriStream TV     • TComm     • Berlangganan
Copyright © 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved