Anjungan   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Selasa, 15 Nopember 2016
Prof. Ir. Sukoso, M.Sc., Ph.D: Menjawab Polemik Bahan Baku Pakan

Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Prinsip dasar yang dikembangkan dalam teknologi biohydropro adalah menghasilkan protein dan tidak harus bersaing dengan ketersediaan protein untuk pangan

 

Masih rendahnya nilai jual sejumlah komoditas budidaya ikan air tawar menyebabkan biaya pakan menjadi masalah utama, sehingga perlu dicarikan penyelesaiannya. Jika pakan yang diberikan mengikuti standar industri pakan maka nilai keuntungan yang didapat dari pembudidaya ikan air tawar misalnya  lele menjadi sangat kecil. Hal ini menyebabkan kegiatan industri budidaya ikan air tawar tidak menarik untuk dikembangkan.

 

Jika kondisi ini dibiarkan maka ketersediaan protein hewani menjadi terkendala. Pakan merupakan masalah nasional, karena dari kegiatan budidaya ketersediaan pakan akan memberikan kontribusi permodalan sekitar 60 – 80 %, sehingga jika pakan harganya mahal, maka pembudidaya akan kesulitan mendapatkan keuntungan.

 

Program pakan mandiri adalah salah satu upaya menjawab masalah tersebut.  Permasalahan harga pakan sebenarnya ditentukan oleh ketersediaan protein, karena protein memang terbatas jumlahnya di alam dan banyak digunakan. Proses menyediakan protein membutuhkan teknologi lebih mahal dibanding dengan ketersediaan sumber karbohidrat.

 

 

Bahan Baku

Secara garis besar bahan baku pakan meliputi sumber karbohidrat, protein, lemak dan bahan tambahan lain sebagai penyempurna nilai gizi, tampilan, aroma atau peningkatan tampilan organoleptiknya. Bahan baku pakan banyak ditemukan di pedesaan. Sumber bahan baku karbohidrat biasanya tersedia dari jagung dan ketela pohon yang sudah dikeringkan.

 

Sumber daya kacang kacangan juga banyak tersedia sebagai bahan baku untuk sumber pengkayaan protein nabati. Sementara sumber daya protein hewani bisa didapat dari keong emas, atau ikan non ekonomis penting yang tidak disukai masyarakat sehingga mampu ditingkatkan nilainya dengan sebagai sumber protein pakan.

 

Tinjauan harus ditekankan pada ketersediaan protein, karena protein bukan hanya sekedar jumlahnya tetapi kualitasnya dengan tersedia lengkap asam amino yang dikandung dari bahan baku sampai menjadi pelet. Sayangnya protein untuk bahan baku pakan, selama ini sangat tergantung pada ketersediaan tepung ikan. Sementara itu tepung ikan mengandalkan impor.

 

Terlalu mengandalkan tepung ikan sebagai bahan baku ditakutkan akan berakibat merusak kesimbangan lingkungan, terhadap ketersediaan dan keberlanjutan ikan di alam  yang habis terserap untuk tepung ikan. Di sisi lain, ikan yang dianggap non ekonomis dijadikan sebagai bahan tepung ikan, padahal ikan non ekonomis juga merupakan sumber protein pangan. Karena itu solusinya adalah bagaimana tersedianya protein dan asam amino dengan memanfaatkan buangan hasil proses industri seperti  dari kepala udang, kepala lele, kepala patin, dan lainnya.

 

Sumber protein nabati juga dapat dimanfaatkan dari tanaman non ekonomis seperti azolla, eceng gondok, dan lainnya. Sumber-sumber bahan baku ini ada dan tersedia di desa, sehingga jika dimanfaatkan akan menambah nilai aktivitas ekonomi desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jika sinergitas bahan baku yang dimanfaatkan dengan mensinergikan manajemen pakan untuk mendukung usaha budidaya atau peternakan di desa, maka akan tercipta suatu kemandirian.

 

Selama ini kebutuhan bahan baku pakan sebagian besar masih bergantung pada tepung ikan. Namun ketersediaan tepung ikan di dalam negeri masih belum mampu memenuhi kebutuhan industri pakan, sehingga mau tidak mau impor menjadi pilihan. Karena itu diperlukan teknologi yang mampu meningkatkan ketersediaan protein dari berbagai sumber bahan baku pakan. Dalam hal ini teknologi biohydropro diharapkan menjadi solusi untuk menjawab tantangan tersebut. 

 

 

Teknologi Biohydropro

Melalui teknoloogi biohydropro, kualitas bahan baku dapat ditingkatkan. Prinsip dasar yang dikembangkan dalam teknologi ini adalah menghasilkan protein dan tidak harus bersaing dengan ketersediaan protein untuk pangan. Gagalnya ketersediaan protein adalah karena protein yang disediakan dibuat dari bahan baku pangan, sehingga harus bersaing kepentingan untuk ketersediaan pangan.

 

Bahan baku untuk pembuatan biohydropro adalah bahan yang tidak bermanfaat dari proses pengolahan utama (limbah), sebagai contoh kepala udang, kepala ikan, sumber protein non ekonomis lainnya. Maupun bahan nabati yang belum dimanfaatkan seperti eceng gondok, azolla, atau tanaman lainnya yang diolah untuk mendapatkan tambahan nilai gizi, sehingga lebih memiliki daya guna.

 

Biohydropro menggunakan teknologi yang bekerja berdasarkan konsorsium mikroba secara simultan, sehingga mampu mendegradasi komponen nutrisi komplek menjadi komponen sederhana yang mudah diserap oleh tubuh. Biohydropro merupakan produk hydrolisat protein yang dipadukan dengan memanfaatkan mekanisme tumbuh sekelompok mikrobia. 

 

Produk biohydropro dapat berbentuk cairan, pasta dan bentuk tepung. Produk cair adalah produk yang dihasilkan setelah proses perombakan oleh konsorsium mikroba. Masa fermentasi untuk meningkatkan nilai gizi selama minimal 12 hari (2 minggu).

 

Produk berupa pasta adalah proses lanjutan produk cair dengan cara menguapkan air pada suhu terkendali untuk tidak merusak protein dan asam amino. Sedangkan produk tepung adalah hasil dari pengikatan produk cair dengan fasilitas bahan pengikat seperti bekatul dengan melakukan perbandingan yang tepat sehingga biohydropro terikat dalam fraksi tepung.

 

Hasil analisa laboraorium Pacific - Singapura menunjukkan kemampuan teknologi ini meningkatkan protein produk dalam bentuk pasta dengan peningkatan nyata hingga 65 %. Berdasarkan penelitian yang telah ada, membuktikan bahwa beberapa komoditi yang potensial menjadi sumber bahan baku namun tidak bisa disimpan lama, atau mencemari lingkungan karena menimbulkan bau dapat diselesaikan dengan teknologi biohydropro sehingga meningkat nilai gunanya dan masa simpannya. Sebagai contoh pada hasil budidaya kerang hijau yang mengalami penurunan nilai harga, mampu diolah menjadi bahan pakan yang sangat bermanfaat dan dapat disimpan dalam waktu yang lama.

*Guru besar Bioteknologi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Universitas Brawijaya, Malang

 


   Artikel Lain    

    Prof.Dr.Ir. Rokhmin Dahuri, MS : Pembangunan Marikultur Untuk Memacu Daya Saing dan P

    Bambang Nardiyanto: Pagari Euforia Udang agar Berkelanjutan

    Ketut Sugama: Budidaya Udang Skala Kecil Menjanjikan

    Saut P Hutagalung: Polemik Peruntukkan Danau Toba

    Edward Siallagan: Quo Vadis Budidaya KJA Kerapu?


  • Keramba Jaring Apung
  • Dermaga Apung
  • Jukung
  • Wisata Bahari
  •   IKLAN ONLINE
  •   Perkiraan Harga Sapi Selanjutnya
  •   Bahan Baku Alternatif Pengganti Jagung
  • Lowongan Kerja: PT Citra Mandiri Kencana

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2016 TROBOS, All Rights Reserved