Advertorial Aqua   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Selasa, 15 Nopember 2016
Ekspor Olahan Patin Peluang dan Daya Saing Indonesia

Ekspor Olahan Patin Peluang dan Daya Saing Indonesia

Foto: 


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Keunggulan kualitas karena kandungan nilai gizi yang lebih baik sehingga dapat bersaing di pasar global

 

Pasar ikan patin dunia untuk konsumen di 3 benua (Amerika, Eropa, dan Asia) cukup besar menembus angka 426.626 ton pada 2015. Produk yang diperdagangkan meliputi fillet (daging tanpa tulang), utuh beku, dan sedikit produk olahan. Dari total tersebut, lebih dari 92 % didistribusikan dalam bentuk fillet. Sampai saat ini, 90 % pasokan fillet patin dunia masih dikuasai oleh Vietnam, sedangkan sisa quota 10% dibagi ke Bangladesh, Myanmar dan China. Indonesia masih belum bisa menembus pasar fillet dunia, dan sampai saat ini ekspor patin Indonesia masih dalam bentuk utuh beku.

 

Industri Patin Indonesia

Mulanya, usaha budidaya patin lebih dulu berkembang di Indonesia dibandingkan di Vietnam. Budidaya ikan patin lokal mulai dirintis sejak 1985 setelah Balai Budidaya Air Tawar berhasil memijah buatan. Sedangkan untuk patin lokal (jambal) baru berhasil dipijah buatan di penghujung 1997 dan usaha budidayanya mulai dirintis 4 tahun kemudian di 2001.

 

Sampai saat ini, usaha budidaya patin cukup berkembang di sentra-sentra budidaya patin yang tersebar di sepanjang Sumatera mulai dari Lampung sampai Sumatera Utara, dengan sentra pusat produksi di Provinsi Sumatera Selatan. Pulau Kalimantan sebagai sentra produksi ikan patin ke-2 di Indonesia, dengan lumbung produksi di Provinsi Kalimantan Tengah dan Selatan.

 

Produksi ikan patin di Pulau Jawa disumbang oleh Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, dengan kontribusi hanya 13 % dari total produksi Nasional. Sumatera menyumbang 80 % produksi na­sional, dimana 66 % disuplai pengusaha tambak di Sumatera Selatan.

 

Total produksi patin nasional pada 2013 mencapai 410.883 ton, naik menjadi 418.002 ton 2014 lalu sedikit menurun menjadi 339.111 ton pada 2015. Total produksi patin Indonesia jauh di bawah Vietnam yang berhasil memanen hampir 1.036.000 ton patin pada 2015.

 

Permintaan patin nasional cukup tinggi, kebanyakan dalam bentuk segar dan sebagian mulai berkembang dalam bentuk fillet. Kebijakan penutupan kran impor fillet patin bak angin segar yang makin mendorong pengusaha nasional untuk berinvestasi di bidang ini.Industri fillet patin nasional jatuh bangun, beberapa bahkan hanya bisa bertahan beberapa bulan. Bukan tanpa sebab, diantaranya adalah stabilitas harga patin ditingkat petambak, kontinyuitas bahan baku dan biaya produksi yang tinggi gagal ditutup oleh harga jual.

 

Industri Patin Dunia

Menurut laporan Food and Agriculture Organization (FAO), Permintaan patin dunia tahun 2015 masih didominasi oleh Benua Amerika sebesar 227.626 ton. Benua Eropa menyusul di peringkat berikutnya dengan total impor tahun 2015 sebesar 111.800 ton fillet beku untuk 27 negara Eropa. Angka itu belum termasuk im­por patin utuh beku mencapai 3.399 ton. Peringkat ketiga benua pengimpor patin berikutnya adalah benua penghasil patin sendiri yaitu Asia. Tahun 2015, 81.000 ton patin dikapalkan ke beberapa negara seperti Thailand, China, Singapura, dan Malaysia. Dulu, In­donesia juga pengimpor patin Vietnam sebelum terbitnya kebijakan penutupan kran impor.

 

Tren permintaan patin dunia tampaknya mulai stagnan. Secara global, tidak terjadi perubahan signifikan terhadap volume perdagangan patin dunia tahun 2014-2015. Permintaan patin untuk pasar Asia meningkat 21 % dari 65.000 ton ke 81.000 ton pada 2015 sedang­kan pasar Eropa dan Amerika Serikat, terjadi penurunan permintaan sebesar 14 % dan 8 %. Turunnya permintaan pasar Eropa dan Amerika lebih disebabkan karena tingginya tingkat kompetisi dengan komoditas ikan lokal seperti Cod, Alaska Pollack bahkan Nila. Ikan ini memiliki karakteristik hampir sama dengan patin, berdaging putih dan lembut. Isu keamanan produk yang akhir-akhir ini dimunculkan, berimbas juga terhadap penurunan volume ekspor patin Vietnam ke negara Paman Sam dan Eropa

 

Daya Saing Indonesia

Menurunnya volume ekspor patin Vietnam harusnya menjadi berkah tersendiri bagi industri patin Indonesia. Peluang ini harus bisa ditangkap. Ceruk pasar yang ditinggalkan dapat diisi oleh produk patin Indonesia. Akan tetapi, hal itu tidaklah semudah yang dibayangkan.

 

Ada tiga hal yang menyebabkan industri patin nasional tidak bisa bersaing menembus pasar global. Pertama, kontinyuitas dan harga bahan baku tinggi. Bahan baku patin di Indonesia paling murah berada di harga Rp 14.000 -15.000/kg di kolam, bahkan harga dipasar eceran mencapai Rp 17.000/kg. Bandingkan dengan Vietnam yang mematok harga paling tinggi Rp 12.000/kg. Jaminan kontinyuitas pasokan bahan baku ikut berperan pada rendahnya daya saing industri kita.

 

Kedua, biaya produksi. Pengakuan salah satu pelaku industri fillet patin nasional menyebutkan bahwa harga pokok produksi (HPP) fillet patin bisa mencapai kurang lebih Rp 40.000/kg sehingga harga jual yang ideal di kisaran Rp 43.000 -45.000/kg. Harga ini pun lebih mahal dibandingkan dengan harga fillet patin Vietnam untuk Uni Eropa hanya USD 2,46/kg setara dengan Rp 31.980/kg (kurs USD 1 = Rp. 13.000).

 

Terakhir, mutu visual ikan patin. Walaupun secara teknologi, Indonesia setara dengan Vietnam, bahkan mungkin lebih baik, tetap saja patin Vietnam lebih disukai oleh pasar karena warnanya putih. Harus ada upaya untuk mengubah persepsi sehingga warna tidak selalu dikaitkan dengan mutu.

 

Satu-satunya peluang yang bisa dimanfaatkan adalah dengan menonjolkan kelebihan dan keunikan patin lokal. Analisis pasar membuktikan bahwa, harga rendah bukan menjadi daya tarik pasar Eropa dan Amerika, melainkan mutu produk itu sendiri. Menurunnya impor patin Vietnam ke Amerika dan Eropa dalam satu tahun terakhir disebabkan oleh isu mutu dan keamanan produk, bukan harga.

 

Hasil penelitian Badan Litbang Kelautan dan Perikanan menye­butkan bahwa patin lokal (jambal) mengandung asam lemak tidak jenuh ganda (Polyunsaturated Fatty Acid/ PUFA) lebih tinggi dibanding patim siam asli Thailand. Penelitian lain dari Institut Pertanian Bogor menyebutkan bahwa mutu patin lokal lebih baik dibandingkan patin Vietnam.

 

PUFA terbukti dapat menurunkan risiko diabetes serta kanker. Patin lokal juga memiliki asam amino esensial yang lebih tinggi dibandingkan dengan fillet patin impor, seperti asam amino histidina, treonina, metionina, valina, isoleusina, leusina, dan lisina. Perlu diketahui bahwa patin lokal tidak berdaging putih karena kandungan asam amino jenis isoleusina yang merupakan pembentuk hemoglobin penyebab warna merah pada daging patin.

 

Satu hal jangan sampai dilupakan dalam pengembangan usaha pengolahan patin adalah produk hasil samping. Limbah atau dalam nomenklatur industri pengolahan disebut “hasil samping” merupakan bahan yang dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi seperti minyak ikan, tepung ikan, silase, dan produk olahan lainnya. Bila perencanaan pengembangan industri sudah mengintegrasikan plant pengolahan produk primer dan hasil sampingnya, beban daya saing dari sisi biaya produksi setidak-tidaknya dapat berkurang karena dukungan keuntungan dari olahan hasil samping.

 

Keunggulan kualitas karena kandungan nilai gizi yang lebih baik dapat meningkatkan nilai jual patin produksi industri nasional. Promosi, label serta kemasan yang baik dan tepat akan dapat menyampaikan informasi keunggulan produk ke calon pembeli sehingga patin industri nasional dapat bersaing di pasar global.

 


   Artikel Lain    

    Kapal Katamaran untuk Penangkapan Ikan

    Inovasi Kincir Tanpa Gearbox

    Mabar Kembali Kenalkan Pakan Udang MB-SQ

    Kincir Dalam Negeri Kualitas Tinggi

    Aquatec Ajak Pembudidaya Buat KJA Bundar


  • Keramba Jaring Apung
  • Dermaga Apung
  • Jukung
  • Wisata Bahari
  •   IKLAN ONLINE
  •   Tambak Udang Skala Mini di Madura
  •   Siasat Bertahan Peternak Layer
  • Lowongan Kerja: PT Citra Mandiri Kencana

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2016 TROBOS, All Rights Reserved