Gelombang   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Jumat, 18 Nopember 2016
Agar Nelayan Melaut Lebih Tenang

Agar Nelayan Melaut Lebih Tenang

Foto: trobos


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Sudah ada 1 juta nelayan yang akan memperoleh asuransi,dengan  pertanggungan untukkematian, cacat akibat aktivitas penangkapan ikan, juga manfaat biaya pengobatan

 

Mengarungi laut sudah menjadi makanan sehari-hari bagi nelayan meskipun kondisi cuaca tak selalu bersahabat. Cuaca buruk dan gelombang tinggi tak elak menjadi risiko yang harus dihadapi. Selam ini tanpa ada perlindungan atau asuransi, setiap hari nelayan mempertaruhkan nyawanya mencari nafkah di laut.

 

Melihat kondisi ini pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan menggelontorkan program asuransi nelayan. Sejauh ini, kebutuhan asuransi untuk nelayan dipenuhi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan mengalokasikan danaRp 175 miliar.

 

MenurutMenteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, saat ini KKP telah menyepakati skema asuransi dengan perusahaan yang akan menjadi pelaksana. ”Kita sudah membuat skemanya, dan mengalokasikan Rp 175 miliar untuk membayar premi asuransi untuk 1 juta nelayan selama satu tahun pertama,” jelas Susi.

 

Terkait uang pertanggungan yang akan diterima nelayan, Susi menginformasikan, skema asuransi yang ia berikan untuk nelayan akan memberikan uang pertanggungan senilai Rp 200 juta untu kematian dan Rp 100 juta untuk cacat tetap akibat aktivitas penangkapan ikan. Disediakan juga manfaat biaya pengobatan Rp 20 juta per nelayan. Asuransi juga akan memberikan uang pertanggungan untuk kecelakaan selain aktivitas penangkapan ikan, yaitu kematian senilai Rp150 juta, cacat Rp 100 juta, serta biaya pengobatan Rp20 juta.

 

 

Melindungi Nelayan

Ikut angkat bicara Anton Leonard Sekretaris Jenderal Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI). Ia menyambut baik langkah yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk memberikan asuransi kepada nelayan. ”Kami sangat mengapresiasi rencana KKP ini, artinya dengan adanya asuransi, nelayan dan keluarga akan lebih terjamin masa depannya,” ucap Anton.

 

Ia menginformasikan, terkait proteksi terhadap nelayan, HNSI juga pernah menjajaki kerjasama dengan BPJS (Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial). Menurutnya sebagian nelayan anggota HNSI saat ini juga sudah mulai memiliki BPJS. ”Kami terus sosialisasikan agar nelayan memiliki proteksi, kalau pada akhirnya ada juga asuransi dari KKP itu akan melengkapi,” ujar Anton.

 

Sekalipun menyambut baik kebijakan pemberian asuransi untuk nelayan, Anton juga tetap mengkritisi KKP. ”Kalau bisa nelayan tidak hanya diberikan asuransi untuk uang pertanggungan kecelakaan dan kematian saja, tapi untuk pemeliharaan kesehatan juga diberikan pemerintah baik itu dengan BPJS ataupun kartu jaminan kesehatan/Jamkesmas,” tukas Anton mengusulkan.

 

Sambung Anton, seperti profesi lainnya, nelayan idealnya memiliki proteksi untuk kecelakaan dan kematian, pemeliharaan kesehatan, dan juga jaminan hari tua. Ia juga mengingatkan jangan sampai dalam perjalanannya ada kesalahan pendataan, untuk nelayan yang seharusnya menerima manfaat asuransi.

 

Menjawab kekhawatiran pelaku, Susi telah menyiapkan jurus jitu dengan menggunakan sistem online. ”Asuransi nantinya akan diumumkan secara online sehingga bisa diakses semua masyarakat, saat ini kita terus melakukan pendataan di lapangandan sudah terkumpul 600 ribu nelayan dan ini akan kita updateterus,” ujar Susi.

 

Dalam hal ini KKP juga sudah menetapkan kategori nelayan yang berhak memperoleh asuransi dari KKP yakni  nelayan kecil dengan kapal ukuran di bawah 10 gross ton (GT). Hal ini sesuai dengan peraturan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam.

 

 

Kartu Nelayan

Sebelum menggaungkan asuransi nelayan, KKPtelah membekali nelayan dengan kartu nelayan sebagai identitas profesi. Misalnya saja David Anunut Nelayan Kupang NTT, ia sudah memiliki kartu nelayan sejak 2013. ”Kartu nelayan ini buat identitas kita bahwa kita diakui sebagai nelayan. Kalau kita gak punya kartu nelayan, kalau ada kecelakaan di laut kita tidak punya perlindungan,” ucap David saat ditemui TROBOS Aqua Juli lalu di Pelabuhan Tenau Kupang.

 

Saat dimintai keterangan terkait asuransi kala itu, David dan rekan nelayan lainnya mengaku belum mendapatkan sosialisasi untuk pemberian asuransi. ”Kami berharap kalau ada asuransi lebih baik lagi, kalau selama ini kita kan cuma pegang kartu nelayan saja, kalau nanti ada asuransi kita bisa lebih tenang melautnya, karena ada jaminan untuk keluarga,” kata David berharap.

 

Terkait kartu nelayan Anton ikut bersuara, menurutnya HNSI juga sebetulnya telah membuat kartu untuk nelayan namun sayangnya kartu nelayan yang diterbitkan HNSI tidak disinkronkan dengan kartu nelayanversi KKP. ”Kami sebelumnya juga sudah buatkan kartu nelayan sebagai identitas tapi terus KKP keluarkan juga sendiri, tidak masalah sebetulnya tapi lebih baik lagi kalau ada sinkronisasi sebelumnya,” ungkap Anton.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-54/15 November– 14 Desember2016

 


   Artikel Lain    

    Contoh Nelayan Ramah Lingkungan

    Anomali Cuaca, Ganggu Produksi Garam

    Kerapu Lampung Kian Meredup

    Dampak Timah, Pesisir Gerah

    Ekspansi Tambak Garam NTT


  • Importasi dari Zona Based Dilanjutkan
  • Importasi Berbasis Zona Pasca Putusan MK
  • Urgensi Biosekuriti Tambak Udang
  • Penangkapan Tuna Ikut Terseok
  •   Tambak Udang Skala Mini di Madura
  •   Siasat Bertahan Peternak Layer
  • THE ALLTECH IDEAS CONFERENCE 2017
  •   Berbagi Pengalaman Kendalikan WFD

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved