Advertorial Livestock   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Kamis, 1 Desember 2016
Musim Hujan Datang, Waspada Mikotoksikosis Menyerang

Musim Hujan Datang, Waspada Mikotoksikosis Menyerang

Foto: 


Komoditas Lain
Unggas
Sapi Perah
Sapi Potong
Domba/ Kambing
Aneka Ternak
Hobi Livestock

Kerugian ekonomi yang ditimbulkan mikotoksikosis tidak bisa dibilang sedikit. Maka, untuk meminimalisir kemunculan mikotoksin dapat menggunakan SANVIMIN®

 

Tahun 2016 diwarnai dengan hujan hampir sepanjang tahun, terutama saat mendekati akhir tahun seperti ini. Hampir di sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan tinggi sehingga kelembapan diperkirakan dapat mencapai 97 % dan menyebabkan jamur tumbuh subur. Akibatnya ayam rentan terserang mikotoksikosis. Penyakit yang diakibatkan oleh toksin natural dan diproduksi oleh jamur ini tidak boleh diabaikan karena dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, sehingga ayam mudah sekali terinfeksi penyakit lainnya.

 

Mikotoksin adalah metabolit sekunder yang dihasilkan oleh berbagai jenis jamur/kapang pada komoditas pertanian, baik pangan maupun ransum. Mikotoksin bisa memiliki efek aditif maupun sinergis dengan toksin natural lain, agen infeksi dan defisiensi nutrisi dengan zat kimiawinya bersifat stabil dan menjaga toksisitas dalam waktu lama. Sampai saat ini terdapat lebih dari 400 jenis mikotoksin yang diproduksi dari 100.000 spesies jamur di dunia. Namun, hanya be­berapa yang menjadi perhatian terkait efeknya terhadap kesehatan unggas yaitu aflatoksin, ochratoksin, trichothecenes (deoxyvalenol, zearalenone, fumonisin).

 

Toksin ini merupakan faktor feed borne stress yang paling utama. Karena sifatnya yang kasat mata (invisible), tidak berwarna (colourless), tidak berbau (odorless), dan tidak berasa (tasteless). Mikotoksin stabil pada berbagai kondisi dan suhu yang tinggi (> 100 0C). Selain itu, tidak ada batas aman untuk cemaran mikotoksin. Walaupun dalam jumlah yang sedikit, toksin tersebut mampu berakumulasi di dalam tubuh dan menimbulkan intoksikasi (keracunan).

 

Gejala Klinis

Peternak seringkali tidak menyadari adanya cemaran mikotoksin pada farm karena penyakit ini umumnya tidak menunjukkan tanda-tanda dan seringkali subklinis. Walaupun begitu, kerugian ekonomi yang ditimbulkan tidak bisa dibilang sedikit. Gejala klinis yang timbul pada kasus mikotoksikosis sangat bervariasi bergantung dari agen penyebab (jenis, jumlah, dan lama paparan) serta individu itu sendiri (umur, nutrisi, status kesehatan, dan lingkungan sekitar).

 

Gangguan penyerapan nu­trisi diakibatkan oleh kemampuan merusak fili-fili usus. Selain itu, mikotoksin mengganggu penyera­pan vitamin D sehingga pertum­buhan ayam tidak maksimal, berat badan tidak seragam dan kerabang telur cenderung menipis. Efeknya terhadap penurunan kekebalan tubuh karena mikotoksin, terutama aflatoksin, mampu berikatan dengan DNA dan RNA yang menghambat sintesis protein.

 

Gangguan pada pembentukan protein akan menyebabkan thymus dan bursa fabricius, sebagai pabrik sel-sel imun akan mengecil (hipo­plasia). Hal tersebut mengakibatkan berkurangnya produksi sel-sel darah putih yang 60 % merupakan lim­fosit, yaitu sel yang sangat berperan dalam kekebalan tubuh. Jumlah albumin dan immunoglobulin dalam darah serta aktivitas komplemen dan interferon juga berkurang. Lalu titer antibodi dan konsentrasi serum antibiotik pasti akan menurun.

 

Selain itu, aflatoksin juga merusak sel-sel hati yang mana akan menyebabkan terbentuknya oksigen reaktif yang merusak sel dan jaringan. Keberadaan aflatoksin mampu menurunkan kadar vitamin A dan E pada plasma darah. Padahal vitamin A dan E tersebut diperlukan tubuh sebagai antioksidan untuk mencegah efek buruk aflatoksin. Efek imunosupresif diatas perlu menjadi perhatian lebih. Pasalnya bukan hanya menyebabkan unggas anda lebih rentan terserang penyakit tetapi juga menyebabkan penurunan respon terhadap vaksinasi.

 

Beberapa Pencegahan

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meminimalisir kemunculan mikotoksin diantaranya :

1.     Memperbaiki pakan

 

Sebaiknya pemeriksaan kualitas pakan dilakukan secara rutin. Pilih bahan baku dengan kadar air yang tidak terlalu tinggi (11-12 %). Bila perlu, pada ransum tambahkan mold inhibitors seperti asam propionat atau toksin binder seperti zeolit atau ben­tonit, terutama pada saat musim penghujan. Ruang penyimpanan harus memiliki ventilasi yang baik. Sebaiknya tidak menyimpan ransum terlalu lama di gudang (maksimal 12-14 hari) dan terapkan sistem First In First Out (FIFO). Penyimpanan yang terlalu lama akan menurunkan kualitas pakan.

2.    Menjaga temperatur dan kelembaban

 

Biji-bijian dan pakan harus dalam kondisi kelembapan kurang dari 15 %. Simpan pada tempat penyimpanan yang bersih, kering, dan tertutup rapat. Bersihkan peralatan pakan secara teratur untuk menghindari jamur atau sisa toksin yang masih menempel. Perhatikan pula kondisi gudang penyimpanan, pastikan suhu di kisaran 30 - 33 0C dengan kelembapan tidak lebih dari 70 %.

3.   Memberikan vitamin

Beberapa publikasi sudah menyimpulkan bahwa pemberian vitamin, seperti vitamin A, C, dan E yang bersifat sebagai antioksidan mampu menekan efek imunosupresi yang ditimbulkan oleh mikotoksin. Selain itu, dapat diberikan juga vitamin D3 dan asam amino methionine untuk meminimalisir efek buruk kelemahan otot kaki serta kualitas kerabang telur dan pertumbuhan yang buruk. Salah satu produk yang mengandung multivitamin yang lengkap termasuk vitamin A, C, E, D3, serta asam amino, adalah SANVIMIN® produksi PT SANBE FARMA.

Vitamin A, C, dan E bekerja sebagai antioksidan yang mampu mencegah terbentuknya radikal bebas serta meningkatkan kekebalan terhadap penyakit melalui perlindungan terhadap leukosit dan makrofag. Asam amino methionine akan membantu memperbaiki pertumbuhan, meningkatkan berat badan dan produksi telur ayam. Ayam yang kebutuhan methionine nya tercukupi akan tumbuh lebih cepat, lebih berat dengan kondisi tubuh yang fit (sehat). Produk SANVIMIN® dapat dicampurkan pada air minum dengan dosis 1 g/ 10 liter untuk suplementasi atau 1 g/ 5 liter untuk ayam sedang mengalami stres dan terjadi wabah penyakit. lTROBOS/Adv

 

 

 


   Artikel Lain    

    Pyridam Perluas Pangsa Pasar

    Helmi Farm : Bangga Menjadi Peternak Mandiri

    Medion Jalin Kerjasama Pembangunan Closed House di Universitas Diponegoro

    Solusi dari Trouw Terkait Resistensi Antibiotik

    Konsekuensi Kegagalan Vaksinasi & Trik Pencegahannya


  • Importasi dari Zona Based Dilanjutkan
  • Importasi Berbasis Zona Pasca Putusan MK
  • Urgensi Biosekuriti Tambak Udang
  • Penangkapan Tuna Ikut Terseok
  •   Tambak Udang Skala Mini di Madura
  •   Siasat Bertahan Peternak Layer
  • THE ALLTECH IDEAS CONFERENCE 2017
  •   Berbagi Pengalaman Kendalikan WFD

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved