Advertorial Livestock   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Kamis, 1 Desember 2016
Pelanggan dan Mitra Bisnis Kunjungi Pabrik Clariant di Jerman

Pelanggan dan Mitra Bisnis Kunjungi Pabrik Clariant di Jerman

Foto: 


Komoditas Lain
Unggas
Sapi Perah
Sapi Potong
Domba/ Kambing
Aneka Ternak
Hobi Livestock

 

Sebagai perusahaan global, Clariant sangat memperhatikan aspek keselamatan dan keberlanjutan dalam berusaha untuk menghasilkan produk-produk unggulannya

Mikotoksin selalu menjadi masalah yang cukup serius dalam industri pakan ternak terutama di daerah beriklim tropis seperti Indonesia. Penggunaan toxin binder (pengikat racun) sebagai bahan tambahan pada pakan ternak sudah menjadi hal yang lumrah bahkan diperlukan untuk mengurangi kontaminasi jamur yang biasanya terdapat dalam bahan baku pakan ternak. Salah satu produsen toxin binder terkemuka di Eropa, Clariant Adsorbents, salah satu anak perusahaan raksasa Clariant, menggelar kegiatan kunjungan ke pabrik Clariant dan pertambangan bentonite yang berlokasi di Moosburg, Jerman (14/11). Namun karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan, maka kunjungan ke lokasi tambang dibatalkan.

 

Dalam kesempatan tersebut, Clariant melalui kantor perwakilannya di Indonesia mengajak pelanggan dan mitra bisnis dari Indonesia dan Malaysia serta media peternakan tanah air dengan total peserta sekitar 20 orang untuk melihat dan mengetahui proses produksi toxin binder Toxisorb®, mulai dari bahan baku hingga siap didistribusikan.

 

Regional Sales & Marketing Manager Feed Additive APAC, Erika Kusuma Wardani menyampaikan, kunjungan ini bertujuan agar para pelanggan bisa lebih mengenal Clariant sebagai produsen toxin binder, Toxisorb®. “Selama ini mungkin pelanggan tahunya Toxisorb® dari Bayer atau SHS, karena mereka distributor kami, tapi kami ingin pelanggan juga mengetahui proses produksi dan bagaimana kami menjaga kualitas Toxisorb®. Saat ini masih jarang produsen toxin binder yang memiliki area pertambangan sendiri, sementara Clariant memiliki tambang bentonite yang tersebar di seluruh dunia. Biasanya yang tak kenal maka tak sayang,” ucap Erika sambil tertawa. Ia berharap, apa yang diperlihatkan di pabrik Clariant akan membuat pelanggan serta mitra bisnis yakin bahwa produk Clariant yang telah berpengala­man selama 150 tahun di bidang chemicals, dibuat dengan QA (quality assurance) dan QC (quality control) yang sudah sesuai aturan internasional sehingga produk toxin binder yang diproduksi aman dan bermanfaat untuk digunakan bagi ternak.

 

Membedah Toxisorb® Classic dan Toxisorb® Premium

Menempuh perjalanan kurang lebih 13 jam, peserta kunjungan ke pabrik Clariant tiba di Bandara Munich pada pagi hari 14 Novem­ber 2016. Walaupun sedikit jet lag, dan cuaca sangat dingin (minus 5 derajat celcius), para peserta tetap semangat melanjutkan perjalanan ke pabrik Clariant yang berlokasi di Kota Moosburg, Jerman. Agenda pertama dalam kunjungan ini adalah diskusi santai dengan DR. Friedrich Ruf, Konsultan Clariant yang memiliki banyak hak patent di Amerika maupun Eropa, karena sejak awal mengembangkan produk toxin binder di Clariant. Dalam presentasinya yang berjudul “How We Develop Mycotoxin Adsorbents” DR.Ruf menyampaikan, Clariant memiliki tambang bentonite (clay) yang mengandung montmorilonite sebagai sumber bahan baku. Clariant memproduksi semua produk di unit bisnisnya tersebar di 25 tempat di seluruh dunia dengan 57 kualitas clay yang berbeda, salah satunya termasuk Indonesia.

 

Clariant Adsorbent menggunakan clay bukan hanya sebagai toxin binder, tapi juga untuk permurnian minyak sawit, catalyst dalam industri oil & gas, pencetakan logam, detergent, kertas, civil engineering, dan banyak lagi. Masing-masing peruntukkan membutuhkan spesifikasi clay yang berbeda. Untuk toxin binder saja, Clariant menambang clay dari dua tempat yang berbeda. Toxisorb® Classic dihasilkan oleh tambang di daerah Bavaria Jerman, sementara Toxisorb Premium dihasilkan dari tambang di Spanyol.

 

Menurut DR. Ruf, bahan padat dengan sifat adsorpsi untuk mengikat molekul target/ion secara spesifik atau yang dikenal dengan adsorbents merupakan solusi bagi pelanggan termasuk untuk produk imbuhan pakan yang dikembangkan Clariant sejak 10 tahun lalu, yang berupa toxin binder, dengan merk Toxisorb®. Salah satu adsorbents atau bahan baku material yang penting adalah Phyllosillicate. Bentonite merupakan salah satu jenis phyllosilicate yang sangat cocok untuk memproduksi Toxisorb® Classic. “Bentonites sangat baik untuk mengikat hidrofilik mole­kul seperti ergotamin dan aflatoksin yang merupakan salah satu mikotoksin paling berbahaya,” jelasnya.

 

Sementara itu, Unit Regional Sales Manager EMEA Functional Business Mineral Clariant, Tobias Kahr menyampaikan informasi mengenai Toxisorb® Clasic dan Toxisorb® Premium dalam presentasinya yang berjudul “Toxisorb: The Solution for Your Feed Con­tamination”. Tobias menjelaskan, imbuhan pakan termasuk dalam unit bisnis Functional Mineral yang memproduksi toxin binder. Secara registrasi dan Quality Assurance, unit bisnis ini sudah mendapatkan sertifikat FAMI-QS, HACCP and Traceability System, serta sertifikat DIN ISO. Toxisorb juga sudah teregistrasi sebagai Anti-Mycotoxin Additive (AMA) di Brazil.

 

Selain Toxisorb® Clasic, yang spesifik mengikat Aflatoxin dan Ergotamin, Clariant Adsorbent juga memproduksi Toxisorb® Premium yang dapat mengikat sebagian besar racun yang disebabkan oleh jamur di pakan ternak seperti seperti T2, Ochratoxin, fumonisin, zearalenon, dan aflatoksin, termasuk juga Endotoxin dan ergotamin. “Jika Toxisorb® Classic terbuat dari Bentonite, maka Toxisorb® Premium terbuat dari mix layer clay yang telah merupakan senyawa sejak awal. Toxisorb® Premium terdiri dari kerolite yang dapat mengikat toxin yang bersifat hidrophobic (non-polar) dan saponite yang dapat mengikat toxin yang bersifat hydrophilic (polar). Senyawa ini hanya terdapat di tambang yang berlokasi di Spanyol. Inilah kelebihan yang dimiliki Toxisorb® Premium yang tidak dimiliki produk toxin binder lain. Produk ini mengikat lebih dari 90 % racun polar dan non-polar, termasuk di saluran pencernaan tanpa menyerap nutrisi dalam pakan,” klaim Tobias. Toxisorb® Premium memiliki luas permukaan molekul yang tinggi, sekitar 230 m²/g, sehingga jika diletakkan secara mendatar, luas permukaan satu molekul Toxisorb® Premium akan selebar lapangan tenis. Selain itu bentuk molekul Toxisorb® Premium juga kecil, sehingga memungkinkan pengikatan toxin yang kuat. “Produk ini sangat efektif, biasanya hanya membutuhkan dosis minimal 1-4 kg per ton pakan ternak,” tambahnya.

 

Terkait QC dan QA, Gregor Schwaiger, Head of Quality Control Clariant menjelaskan, ia dan timnya menangani QC untuk 60 macam clay, dengan berbagai macam spesifikasi dan parameter yang memiliki standar masing-masing. Secara proses, biasanya clay dari tambang akan dikirim ke laboratorium, lalu laboratorium akan memutuskan clay tersebut sesuai dengan spesifikasi yang mana, sehingga saat truk mengambil sudah ada kode dan sudah diketahui akan diproses di pabrik yang mana. “Kami menghindari kesalahan dari sejak awal, kami juga melakukan pelatihan sepanjang tahun termasuk secara ketat memonitor produk dari kontaminasi logam berat, mikrobiologi, dan dioxin,” urainya.

 

Keselamatan dan Keberlanjutan

Keselamatan pekerja menjadi salah satu hal yang sangat penting di lingkungan kerja Clariant. Sedari awal memasuki pabrik, para peserta sudah diharuskan menggunakan sepatu khusus. Terutama saat mengelilingi pabrik, helm dan google wajib digunakan untuk me­lihat proses pembuatan clay menjadi Toxisorb yang sudah dikemas dan siap didistribusikan. Walaupun kunjungan ke tambang batal karena cuaca yang tidak memungkinkan, tetapi peserta bisa berkunjung ke laboratorium di Clariant.

 

Di laboratorium, Stefani Rudenko, laboratory analyst khusus untuk toxin, melakukan tes berbagai jenis toksin. Disini juga dilakukan test untuk menghitung binding efficiency (efisiensi daya ikat). Metode ini membedakan Clariant dengan produsen toxin binder lainnya. Produsen toxin binder lain kebanyakan hanya menghitung adsorpsi dan binding capacity. Sedangkan Clariant melakukan penghitungan berdasarkan ikatan yang benar-benar terjadi antara toxin binder dan toxin yang diikatnya. Kebanyakan toxin akan dilepas lagi setelah diikat oleh toxin binder, terutama toxin yang bersifat non-polar atau memiliki molekul yang cukup besar. Karena itu, Clariant menghitung adsorpsi (penyerapan) dikurangi disorpsi (pelepasan) sehingga terukur berapa persen toxin yang benar-benar terikat oleh toxin binder. Toxin binder yang hanya menghitung binding capacity saja akan terlihat “seolah-olah” efektif, padahal jika binding capacity tersebut dikurangi dengan disorpsi yang terjadi, hasilnya akan berkurang jauh.

 

Laboratorium lainnya yang dikepalai Omer Goknur memberikan penjelasan bagaimana menghitung porositas dan luas permukaan molekul. Laboratorium Clariant dilengkapi banyak alat canggih untuk mengukur CEC (Cation Exhange Capacity), deteksi logam berat, vitamin, mineral, dst.

 

Dari sisi keberlanjutan, sebagai perusahaan yang menggunakan sumber daya alam sebagai bahan utamanya, Clariant tidak serta merta mengambil tanpa memikirkan dampak terha­dap lingkungan sekitar dan juga pada alam. Erika menjelaskan, di setiap tambang milik Clariant di wilayah manapun, telah dilakukan survei terlebih dahulu mengenai potensi keberadaan bentonite berkualitas di daerah tersebut. “Kami akan bekerjasama dengan pemilik lahan. setelah penambangan selesai, kami akan melakukan normalisasi lahan, lalu melakukan penanaman kembali lahan bekas galian tambang, agar dapat dimanfaatkan penduduk sekitar. Dan itu wajib,” tegasnya.

 

Salah satu peserta tour dari PT Charoen Pokphand Indonesia, Akok Onggosetioputra, menyampaikan rasa puasnya bisa berkunjung ke pabrik Clariant. Walaupun Akok berharap bisa melihat proses yang lebih detail terutama saat penentuan spesifikasi clay ketika dike­luarkan dari tambang. “Mungkin nanti jika waktunya lebih panjang, tapi dengan ini kami jadi mengenal Clariant yang ternyata adalah pembuat Toxisorb® Premium yang selama ini sudah kami gunakan,” terang Akok.

 

Winardi, mitra bisnis Clariant dari PT SHS International yang memasarkan Toxisorb di Indonesia menyampaikan, Toxisorb Pre­mium terutama untuk breeding farm (usaha pembibitan) sangat dicari dan dibutuhkan. Karena untuk menjaga kualitas DOC (ayam umur sehari) yang baik, breeding farm tidak akan mengambil risiko, sehingga mereka akan menggunakan yang terbaik. “Mereka percaya pada produk ini karena produk Eropa biasanya jarang diragukan kualitasnya. Meskipun me­mang ada kualitas ada harga,” kilahnya.

 

Kunjungan ke Eurotier dan Menjelajah Munich

Tidak hanya mengunjungi pabrik Clariant di Moosburg, Clariant juga mengajak para peserta berkunjung ke salah satu pameran industri peternakan terbesar di Eropa, Euro­Tier 2016 di Hanover, Jerman. Sejak awal menggandeng TROBOS Tour & Travel sebagai travel organizer, selama 2 hari (15-16/11) para peserta dapat mengunjungi dan melihat pameran serta mempelajari berbagai teknologi industri peternakan modern sebagai referensi untuk bisa diterapkan di tanah air. Para peserta juga menyempatkan mengunjungi stan Bayer Group yang tidak pernah absen mengikuti pameran yang digelar setiap 2 tahun sekali ini.

 

Usai mengikuti pameran, para peserta kembali menuju Munich untuk menjelajahi keindahan kota ini, bangunan dengan arsitektur ciri khas Eropa dan gereja-gereja tua di Old Town Hall membuat para peserta tidak henti mengagumi keindahan Munich. Yang juga tidak terlewatkan adalah berfoto di depan Allianz Arena yang merupakan markas salah satu klub bola terkenal di dunia, Bayern Munchen. Terakhir dan juga paling berkesan adalah kastil Raja Ludwig II, Neushwanstein yang terletak di Desa Schwangau. Tidak terasa, 1 minggu telah berlalu. Selama seminggu perjalanan, banyak ilmu dan pengalaman yang didapat oleh peserta. Semoga makin sukses industri peternakan tanah air, dan sukses terus untuk Clariant!. lTROBOS/Adv

 

 


   Artikel Lain    

    Pyridam Perluas Pangsa Pasar

    Helmi Farm : Bangga Menjadi Peternak Mandiri

    Medion Jalin Kerjasama Pembangunan Closed House di Universitas Diponegoro

    Solusi dari Trouw Terkait Resistensi Antibiotik

    Konsekuensi Kegagalan Vaksinasi & Trik Pencegahannya


  • Importasi dari Zona Based Dilanjutkan
  • Importasi Berbasis Zona Pasca Putusan MK
  • Urgensi Biosekuriti Tambak Udang
  • Penangkapan Tuna Ikut Terseok
  •   Tambak Udang Skala Mini di Madura
  •   Siasat Bertahan Peternak Layer
  • THE ALLTECH IDEAS CONFERENCE 2017
  •   Berbagi Pengalaman Kendalikan WFD

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved