Inti Akua   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Kamis, 15 Desember 2016
Memetakan Penyakit Udang 2016

Memetakan Penyakit Udang 2016

Foto: trobos


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Di satu sisi upaya peningkatan produksi udang nasional terus digenjot, di sisi lain ancaman penyakit terus merongrong

 

Tanpa terasa sudah tiba lagi dipenghujung tahun 2016. Sepanjang tahun ini geliat perudangan nasional terbilang tak banyak bergerak dalam hal produksi. Menurut Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI) Iwan Sutanto, Produksi udang nasional tahun 2016 diperkirakan tidak jauh berbeda dibandingkan tahun 2015. Jika tahun lalu sekitar 400 ribu ton, tahun ini juga berada dikisaran angka tersebut.

 

Iwan menilai, meski sejumlah pengusaha tambak udang melakukan ekspansi di beberapa daerah (sekitar 25 % sampai 30 %) namun belum sampai mendongkrak produksi nasional. Penyebabnya antara lain karena ada beberapa tambak di kawasan eks Dipasena Lampung yang tidak beroperasi lagi tahun ini. Kemudian ada beberapa sentra tambak udang di wilayah Pantai Utara (Panturan) Jawa dan Banyuwangi yang terserang penyakit Whiste Feses Disease (WFD) sehingga produksi udang tidak bisa optimal.

 

 

Tantangan Penyakit

Masih menurut Iwan, tantangan penyakit pada budidaya udang masih menghantui para petambak sepanjang tahun ini. Walaupun demikian tidak sampai menyebabkan penurunan produksi. “Kedisplinan petambak dalam menerapkan budidaya yang sesuai standar menentukan keberhasilan produksi tahun ini,” ungkap Iwan kepada Trobos Aqua.

 

 Hal senada diungkapkan Ketua SCI Jawa Barat Banten, Joko Sasongko, tantangan penyakit masih terjadi di berbagai daerah. Petambak dituntut lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan di sekitar tambak.

 

Joko lebih lanjut memaparkan, eksploitasi dan ekspansi tambak tanpa terkendali berdampak besar terhadap berkembangnya berbagai penyakit udang yang makin lama makin tidak terkendali. “Saat ini kita saksikan bagaimana berbagai macam penyakit, seperti White Spot Syndrome (WSS), WFD, serta Infectious Myo Necrosis Virus (IMNV) alias Myo berkecamuk di berbagai daerah,” katanya.

 

Padahal, lanjut Joko, seharusnya para petambak bisa belajar dari belajar dari kesalahan pengembangan dan pengelolaan tambak-tambak pada era tahun 1980-an. Para petambak juga harus belajar dari kegagalan pengelolan tambak yang terjadi di negara produsen udang lainnya seperti Thailand dan Vietnam.

 

Terkait penyebaran penyakit udang juga dijelaskan oleh Ketua SCI Lampung Ali Kukuh. Menurutnya, di wilayah Teluk Lampung sendiri, kalau pun ada farm yang membangun instalasi pengolahan limbah. Baru sekadar untuk pengendapan belum ada water treatment di situ, sehingga air yang kembali dibuang ke perairan (laut) masih mengandung berbagai limbah zat-zat organik yang menjadi makanan empuk bakteri dan vibrio.

 

Demikian pula pada instalasi tandon—persiapan air untuk mengisi kolam tambak, lanjutnya. Belum banyak dilakukan pengolahan air (water treatment) sehingga benar-benar bebas penyakit dan Total Organic Matter (TOM) atau kandungan bahan organik turun hingga ambang batas layak untuk budidaya udang.

 

Ia menceritakan, pada masa-masa awal budidaya udang di seputaran Teluk Lampung era tahun 90-an lalu, TOM masih sekitar 30, setelah dilakukan budidaya udang hingga 25 tahun kemudian (2015) TOM melonjak menjadi 90. Padahal idealnya TOM tidak boleh lebih dari 70.  

 

 

Menangkal Penyakit

Meski masih banyak berkecamuk, berbagai cara dan upaya dilakukan petambak agar tetap bisa tetap berproduksi. Diungkapkan Petambak SCI wilayah Indramayu Jawa Tengah,Boediono, tahun ini rata-rata petambak udang di wilayah Pantura Jawa mulai memperbaiki sistem budidaya guna menekan kejadian serangan penyakit. Salahsatu upaya yang dilakukan adalah  mengurangi padar tebar yang dulu bisa 130 ekor per meter persegi sekarang sekitar 100 ekor per meter persegi.

 

Bahkan beberapa petambak, lanjutnya, ada yang mulai menerapkan perlakuan menggunakan bahan-bahan yang aman untuk pengolahan limbah air tambak sebelum dibuang. “Tak heran jika daya tahan hidup rata-rata produksi udang di wilayah Pantura tahun ini cenderung membaik sekitar 80 %, dengan ukuran panen sampai 30 ekor per kg dalam waktu 4 bulan pemeliharaan,” kata Boediono.

 

Hal serupa juga diterapkan petambak udang di Kabupaten Bangkalan Madura. Seperti diungkapkan Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Bina Usaha asal Bangkalan, Moch Muhlis, tambak udang yang umumnya berukuran 200 – 300 m2 awal tahun ini sempat terserang penyakit WFD.

 

 

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-55/15 Desember 2016– 14 Januari 2017

 


   Artikel Lain    

    Biosekuriti Pembenihan Ketat, Benur Kuat

    Lebih Siap Tebar dengan Nursery

    Raup Peluang Pasar Nila

    Kemitraan Budidaya Nila Berkelanjutan

    Genjot Produksi dengan Ekspansi


  • (Masih) Ruwetnya Urusan Jagung
  • Menakar Keberhasilan Pangkas Produksi
  • Lebih Siap Tebar dengan Nursery
  • Biosekuriti Pembenihan Ketat, Benur Kuat
  • Lowongan Kerja: BIOMIN
  •   Mengurai Berbelitnya Perizinan Usaha Tambak
  •   Merancang Konstruksi Tambak Ideal
  • Pemerintah Kendalikan Suplai Daging dan Telur Unggas

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved