Primadona   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Kamis, 15 Desember 2016
Prospek Base Product Rumput Laut

Prospek Base Product Rumput Laut

Foto: trobos


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Pengembangan usaha pengolahan rumput laut bentuk ATG (Alkali Treated Gracillaria) dan ATC (Alkali Treated Cottonii) mampu mendukung industri hilir

 

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya melakukan program peningkatan daya saing untuk hasil kelautan dan perikanan, tidak terkecuali dengan rumput laut. “Kita perlu memperkuat industri pengolahan rumput laut agar menjadi produk unggulan ekspor dan menopang ekonomi nasional,” terang Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

 

Upaya yang tengah dilakukan saat ini adalah pembangunan industri pengolahan rumput laut skala kecil menengah dari jenis Gracillaria  dan Cottonii. Menurut Pakar rumput laut Jana Anggadiredja, segmen industri ini akan menghasilkan base product dari kedua jenis rumput laut tersebut, yakni ATG (Alkali Treated Gracillaria) dan ATC (Alkali Treated Cottonii).

 

Ia menjelaskan, ATG akan menjadi bahan untuk pembuatan agar-agar. Sedangkan ATC digunakan sebagai bahan baku pembuatan karaginan. Selama ini, pengolahan rumput laut menjadi ATG dan ATC dilakukan langsung oleh industri hilir yang menghasilkan agar-agar dan karaginan.

 

Ketua Asosiasi Industri Rumput Laut (Astruli) Soerianto Kusnowirjono menyambut baik rencana pengembangan industri pengolahan rumput laut menjadi base product (produk bahan baku/dasar). “Kalau mau dibangun industri (ATC dan ATG), saya kira itu bagus,” ungkapnya.

 

Tetapi Soerianto tetap mewanti-wanti agar pemerintah juga memastikan pasar yang akan menyerap base poduct tersebut. Soerianto menilai,  saat ini belum semua industri pengolahan di hilir siap menerima produk ATC dan ATG. Industri hilir tentunya akan memastikan kualitas dari ATG dan ATC yang akan dihasilkan oleh industri baru tersebut.

 

 “Jika pun pembuatan ATC dan ATG ini akan disegmentasikan menjadi industri tersendiri, maka produk yang dihasilkan harus memenuhi permintaan dari industri pengolah,” jelas Soerianto mengingatkan pentingnya memperhatikan kualitas. Dirinya mengusulkan agar ada kerjasama langsung antara industri ATC dan ATG dengan industri hilir. Kerjasama ini untuk menjamin kepastian pasar.

 

 

Daya Saing

Jana mengakui adanya peluang yang baik dari pengembangan industri pengolahan ATC dan ATG. Terutama jika produk yang dihasilkan sesuai dengan standar dari industri hilir, baik dari sisi kualitas maupun biayanya. Karena paling tidak ada sejumlah industri pengolahan agar-agar dan karaginan di Indonesia. “Data terakhir setidaknya ada 30 perusahaan pengolahan karaginan dan agar-agar, mungkin saat ini sudah bertambah,” kata Jana.

 

Menurut Jana, industri ini akan meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri di daerah. Hal ini karena nilai ATG dan ATC tentunya lebih tinggi jika dibandingkan dengan rumput laut basah atau kering yang selama ini dihasilkan daerah.

 

Ia mengungkapkan, industri pengolahan ATG dan ATC ini juga bisa menguntungkan bagi industri hilir. Pasalnya pengolahan rumput laut menjadi ATC dan ATG membutuhkan sumber daya air yang cukup banyak. Sementara umumnya industri hilir berada di perkotaan atau kawasan industri yang sumber daya airnya sudah terbatas.

 

Soerianto menambahkan keunggulan lain jika industri pengolahan ATC dan ATG ini berjalan, menurutnya hal ini akan mengurangi biaya transportasi bahan baku karena terjadi penyusutan berat. “Perkiraannya dari 3 kontainer jadi 2 kontainer atau dari 2 kontainer jadi 1 kontainer”, kata Soerianto memisalkan.

 

 

Proses Pembuatan

Proses pembuatan ATG dan ATC terbilang relatif sederhana. Namun keduanya memiliki sedikit perbedaan. Menurut Jana, proses pengolahan ATG dimulai dengan pembersihan rumput laut dari bahan-bahan yang menempel seperti tritip, garam, dan kotoran-kotoran lainnya.

 

Pembersihan ini bisa menggunakan alat rotary screening. Selanjutnya Gracillaria  dicuci menggunakan air. “Proses pencucian ini bisa 2 - 3 kali pencucian, tergantung pada metode pembersihan yang digunakan,” terang Jana.

 

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-55/15 Desember 2016– 14 Januari 2017

 


   Artikel Lain    

    Jaga Kualitas Air, Redam Penyakit

    Sekelumit Tantangan Perudangan Nasional

    Tambak Udang Pantura Masih Bernyawa

    Peran Sentral Laboratorium Tambak Udang

    Pantai Barat Sumatera Tak Luput Penyakit


  • Kebijakan yang Komprehensif Dinanti
  • Menatap Bisnis Broiler 2018
  • Permainan Dagang Tekan Harga Nener
  • Angkat Pamor Bandeng Skala Industri
  •   Jambore Peternakan Nasional 2017
  •   Dr. drh. Surya Agus Prihatno, MP: Koreksi untuk Upsus Siwab
  •   Plus Minus Autofeeder Udang
  •   Klasterisasi Domba dan Kambing

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved