Gelombang   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Kamis, 15 Desember 2016
Potensi dan Polemik Budidaya Bandeng

Potensi dan Polemik Budidaya Bandeng

Foto: trobos


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Saatnya budidaya bandengan naik level ke skala industri

 

Komoditas air payau yang menjadi primadona ini gaungnya kian terdengar. Ikan bandeng kian meyakinkan memasuki pasar industri. Rokhmin Dahuri Ketua Masayarakat Akuakultur Indonesia (MAI) mengatakan, Indonesia dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tiga besar di dunia setelah Cina dan India memiliki potensi besar untuk mengembangkan sektor industrialisasi perikanan. “Bandeng layak menjadi komoditas yang diindustrikan,” ujar Rokhmin pada seminar bandeng nasional yang digelar Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) (30/9) lalu.

 

Tentu bukan tanpa dasar bandeng dikatakan layak sebagai komoditas industri, produksinya pun termasuk yang terbesar setelah nila dan lele. Diungkapkan Slamet Soebjakto Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, produksi bandeng pada 2015 lalu menempati urutan ke-3 dengan persentase 18 %, dibawah nila yang tercatat 29 % dan lele 20 %.

 

”Bandeng menjadi salah satu komoditas yang produksinya harus digenjot untuk dijadikan komoditas berskala industri,” ungkap Slamet. Saat ini sentra produksi bandeng di Indonesia berada di 3 lokasi yakni Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

 

Slamet mengungkapkan, berdasarkan data dari FAO (Badan Pangan Dunia) tercatat pada 2013 lalu, Indonesia menjadi produsen bandeng terbear dunia dengan produksi mencapai 575.256 ton atau berkontribusi lebih dari 50 % terhadap bandeng dunia mengalahkan Filipina dan Taiwan yang berada di urutan ke-2 dan ke-3. ”Indonesia berpotensi untuk terus menjadi produsen bandeng terbesar di dunia,” ucap Slamet.

 

Untuk mendorong keinginan tersebut dari sisi anggaran, DPR sudah menyiapkan anggaran yang cukup untuk budidaya. Ditemui di acara yang sama, Herman Khaeron Ketua Komisi IV DPR, mendukung percepatan pembangunan sektor perikanan sesuai dengan amanat Inpres nomor 7/2016. ”Kami dari legislatif berpihak pada sektor budidaya termasuk untuk pengembangan komoditas bandeng yang kita dorong menjadi komoditas industri, sehingga bisa menambah penerimaan negara dari ekspornya,” tutur Herman.

 

 

Teknologi dan Produktivitas

Untuk mendorong percepatan pembangunan industri perikanan peningkatan produksi menjadi bagian penting yang harus dilakukan. Bicara produktivitas, budidaya bandeng memiliki beberapa skala, mulai dari skala tradisional hingga intensif baik di tambak maupun dengan teknologi Keramba Jaring Apung (KJA).

 

Slamet menginformasikan saat ini untuk pembudidaya bandeng yang masih skala tradisonal masih mengandalkan klekap sebagai pakan alami sehingga produktivitasnya terbilang rendah, hanya 50 - 100 kg/hektar/musim tanam dengan padat tebar 0,5 - 1 ekor/m2. Namun bagi pembudidaya bandeng dengan sistem intensif yang sudah menggunakan pakan pabrikan menurut Slamet produktivitasnya bisa mencapai 150 – 200 kg/hektar/musim tanam dengan  rata-rata padat tebar 5 ekor/m2.

 

Menambahkan Slamet, Praktisi Budidaya Perikanan Hasannudin Atjo mengatakan, pola budidaya bandeng tidak hanya di tambak saja kini budidaya sudah dapat dilakukan dengan metode KJA baik jenis KJA tancap ataupun KJA kotak. Lebih jauh Atjo memaparkan, perbandingan tingkat produktivitas budidaya bandeng dengan pola budidaya di tambak dibandingkan dengan di KJA.

 

Berdasarkan data yang dia miliki, rata-rata produksi bandeng di KJA tancap di Donggal Sulawesi pada 2016 ini, mampu mencapai 210.000 kg/hektar/musim tanam. Begitupun dengan budidaya bandeng di KJA kotak di Barru Sulawesi Tengah, produktivitasnya bisa mencapai 400.000 kg/hektar/musim tanam. ”Tingkat produktivitasnya meningkat tajam dengan menggunakan KJA seperti yang telah di lakukan di Pelabuhan Donggala, kalau kita hitung bisa 210.000 kg/hektar selama 5 bulan satu siklus tanam,” terang Atjo.

 

 

Polemik Nener

Dibalik potensi produksi yang sangat besar, ternyata dalam pembenihan bandeng masih menyimpan sejumlah polemik. Diungkapkan Muhibuddin Koto Kepala Divis Marikultur MAI, harga nener bandeng fluktuasinya sangat tajam. Hal tersebut tidak lain karena terjadinya over supply (kelebihan produksi) nener di waktu-waktu tertentu.

 

Lebih mendalam Muhibuddin Koto yang akrab disapa Budi menerangkan, saat ini sebagian besar nener bandeng di produksi di Buleleng Bali. Ia memperkirakan produksinya bisa mencapai 10 - 30 juta ekor per hari. ”Saya yakin kapasitas produksi nener di Bulelelng Bali masih bisa ditingkatkan sampai 60 juta ekor per hari. Namun saat ini pasarnya belum mampu menyerap produksi yang ada, jadi percuma juga kalau ditingkatkan harga akan semakin jatuh,” ucap Budi.

 

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-55/15 Desember 2016– 14 Januari 2017

 

 


   Artikel Lain    

    Rumpon dan Cager Tumpuan Nelayan Greges

    Masih Menanti Solusi Cantrang

    Mengatur Suplai Stok Garam Nasional

    Membangkitkan Budidaya di Laut Lepas

    Mengulik Budidaya Bandeng di KJA


  • Mengurai Stagnasi di Sapi Perah
  • Daya Pikat Koperasi
  • Kemitraan Budidaya Nila Berkelanjutan
  • Raup Peluang Pasar Nila
  • Training Jurnalistik Media Petemakan
  •   Urgensi Biosekuriti Tambak Udang
  •   Menyiasati Margin Budidaya Lele
  •   Efisiensi Kandang 3 Lantai

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved