Andalan Air Tawar   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Kamis, 15 Desember 2016
Peluang Patin Tersembunyi di Bangka

Peluang  Patin Tersembunyi di Bangka

Foto: trobos


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Tingginya harga patin di Bangka Belitung mendongkrak budidaya patin, walaupun pasar yang masih terbatas

 

Menyusuri kelokan sempit diantara dua rumah, sepeda motor yang ditumpangi TROBOS Aqua akhirnya mencapai lokasi yang elok dan santai bagi pandangan mata. Hamparan kolam-kolam seluas  2,4 ha dari total luas lahan 6 ha bersembunyi diantara pohon-pohon rindang sehingga meneduhkan beberapa jenis ikan yang menyempatkan diri muncul ke permukaan. TROBOS Aqua lalu disapa salam hangat dari sang pengusaha kolam, Edi Iskandar.

 

Menemukan lokasi budidaya ikan di balik perkampungan yang menghadap jalan sibuk penghubung Pangkalpinang-Sungailiat tentu menjadi hal yang wah. Apalagi bila lokasinya bisa cukup untuk menangkap minat wisatawan untuk sekadar singgah dan melirik kumpulan ikan bermain. Syukur-syukur bisa juga membeli ikan yang sudah cukup usia panen.

 

Tapi sayangnya, pengembangkan usaha budidaya ikan adalah suatu hal yang jarang dilakukan oleh pelaku usaha perikanan di kawasan Bangka Belitung. “Apalagi lulusan pendidikan perikanan, jarang yang mau terjun langsung melakukan usaha budidaya. Seperti usaha budidaya patin, nila, tembikang (ikan lokal asli Sumatera Selatan), atau komoditas lainnya,” ucap Edi Iskandar.

 

Padahal, banyak keuntungan yang bisa didapat dengan berwirausaha komoditas perikanan, timpalnya. Seperti komoditas patin yang mendominasi usaha budidayanya, pria yang akrab disapa Edi ini menjelaskan, misalnya untuk tebar benih 5 ribu ekor, sekali panen dalam 4 - 5 bulan bisa mencapai 2,5 ton.

 

Omsetnya mampu menjangkau Rp 50 juta yang diminati pasar lokal. Baik rumah makan hingga konsumen di pasar tradisional. Total dia bisa menebar benih ikan hingga 32 ribu ekor di total 40 kolamnya.

 

Para pembeli yang terdiri dari pengepul pada umumnya akan langsung datang ke kolamnya untuk membeli patin yang sudah layak masuk pasar mereka. Contoh saja, pengepul dari pasar higienis Selindung, Pangkalpinang yang paling banyak mencari ukuran 8 ons atau maksimal 1 kg isi dua ekor yang dibeli seharga sekitar Rp 20 ribu per kg. “Nanti di pasar atau konsumen akhir harganya bisa mencapai Rp 25 - 28 ribu per kg,” terangnya yang memulai usaha ini sejak 2012 lalu.

 

 

Tantangan Lingkungan

Berjalan santai mengarah ke kolam sederhana yang dioptimalkan pria asli Jawa Barat ini untuk usaha patin, dia pun mengungkap, keengganan masyarakat untuk melakukan usaha budidaya ikan lebih banyak disebabkan pasar patin yang terbatas pasar lokal. “Tidak bisa keluar, seperti Palembang dan sekitarnya karena akan terbanting harga. Di sana harga di pembudidaya per kg hanya Rp 12 - 18 ribu, kalau kita dari sini jual ke sana sama saja bunuh diri,” bebernya.  

 

Hal ini tidak cukup untuk menarik minat masyarakat yang sebagian besar lebih melirik usaha tambang timah inkonvensional atau perkebunan, seperti sawit dan lada sebagai mata pencaharian usaha mandiri. Edi pun menuturkan, saat menggeluti usaha budidaya patin ini tantangan seperti itu harus ia jalani. Mulai dari tantangan mencari pasar dan tantangan dasar, yakni teknis budidaya.

 

“Awalnya, kolam-kolam ini sudah lama dibuat dan dikelola oleh berganti-ganti orang, hanya saja hasilnya selalu sama. Gagal panen. Saya juga begitu, awalnya menebar ikan, seminggu kemudian mati, sisa cuma berapa ekor. Kemudian saya pelajari lingkungannya, coba-coba, ternyata persoalan di kawasan ini sama. Sulit mencari sumber air mengalir untuk kebutuhan kolam,” ungkap Edi yang mengembangkan usaha ini dari kolam-kolam yang dikelola bapak angkatnya.

 

Edi pun memulai mengevaluasi diri, menghadapi tantangan yang ada, dan melanjutkan usaha budidayanya. Tantangan lainnya berupa pembuatan kolam yang tepat untuk mengantisipasi kebutuhan air, kebutuhan pakan ikan, hingga penanganan sebelum panen. Untungnya, dia memanfaatkan betul bekal ilmu yang didapatnya selama masa pendidikan di Institut Pertanian Bogor sehingga dia bisa menerapkan praktik dari teori yang ia dapatkan.

 

 

Teknik Budidaya

Antara lain, lanjutnya, dengan cara mengoptimalkan sumber mata air dan respirasi tanah untuk kebutuhan air kolam. “Kita buat kedalaman rata-rata 3 m, tapi sistem setengah lingkaran. Yakni makin ke tengah kolam makin dalam. Alasannya, kalau ikan itu dari ukuran kecil hingga besar pasti ada tempat tipisnya, yakni dimana ikan kecil akan sulit bernapas di tempat yang lebih dalam. Sehingga kita buat ruang yang lebih dangkal agar ikan kecil lebih gampang mendapat oksigen. Kalau lebih dalam, akan lebih berat dan akan lebih cocok bagi ikan yang berukuran lebih besar. Dan keuntungannya, akan lebih mudah dalam panen ukuran yang lebih besar,” papar Edi.

 

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-55/15 Desember 2016– 14 Januari 2017

 

 


   Artikel Lain    

•    Mendulang ‘Mas’ untuk Pemancingan

•    Produksi Susah, Permintaan Melimpah

•    Berkembang Meski Awalnya Ditentang

•    Inti Plasma Nila Merah Subang

•    Melongok Budidaya Cacing Sutera di Temanggung


  • Importasi dari Zona Based Dilanjutkan
  • Importasi Berbasis Zona Pasca Putusan MK
  • Urgensi Biosekuriti Tambak Udang
  • Penangkapan Tuna Ikut Terseok
  •   Tambak Udang Skala Mini di Madura
  •   Siasat Bertahan Peternak Layer
  • THE ALLTECH IDEAS CONFERENCE 2017
  •   Berbagi Pengalaman Kendalikan WFD

        


    ETALASE    



• Home     • Our Profile     • Trobos Moment     • Contact Us     • Data Agri     • Foto     • AgriStream TV     • TComm     • Berlangganan
Copyright © 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved