Akua Tekno   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Kamis, 15 Desember 2016
Pengganti Protein Dukung Pakan Mandiri

Pengganti Protein Dukung Pakan Mandiri

Foto: trobos


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Pemanfaatan sumber bahan baku dari limbah organik

 

Protein dan asam amino merupakan faktor kunci dalam pakan. Sayang, pengadaan bahan tersebut kerap mengalami keterbatasan karena masih impor. Padahal tidak mungkin menghilangkan komponen tersebut hanya untuk mereduksi biaya pakannya.

 

Dengan alasan inilah maka Sukoso, Guru Besar Fakultas Perikanan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang melakukan penelitian guna mencari sumber protein dan asam amino.  “Saya melakukan penelitian sejak tahun 2000 untuk mencari sumber protein dan asam amino itu, dan tentunya sumber bahan bakunya yang tidak harus bersaing dengan pangan,” jelasnya kepada TROBOS Aqua.

 

Sukoso menyebutkan, hasil penelitiannya tersebut dikreasikan untuk mendukung program Gerakan Pakan Mandiri (Gerpari). Ia menjelaskan, melalui buah pikirnya ini harapannya permasalahan-permasalahan dalam dunia perikanan bisa teratasi satu per satu, sesuai tujuan dari Kementrian Kelautan Perikanan.

 

Menurut Sukoso, Gerpari yang dicanangkan pemerintah merupakan gerakan solusi atas beberapa masalah pakan. Mulai dari ketersediaan yang selalu mengalami keterbatasan pasokan, hingga kenaikan harga pakan yang semakin mahal. Kondisi itu disebabkan oleh komponen bahan pakan yang masih impor, yakni tepung ikan dan kedelai. Kedua bahan pakan tersebut memang memiliki peran sentral dalam pakan, karena merupakan sumber protein dan asam amino.

 

 

Bio Hydro Pro

Akhirnya, ditentukanlah bahan pengganti protein dan asam amino pada pakan yang digunakan Sukoso merupakan bahan buangan (waste) atau yang tidak terpakai. Waste- organic disini ialah bahan yang berasal sisa hasil pengolahan seperti kepala udang dari industri pengolahan petis, kepala ikan yang berasal dari pengolahan fillet (daging tanpa tulang). Kemudian dari potensi alam melimpah yang selama ini belum dimanfaatkan seperti enceng gondok dan juga azzola.

 

Sumber bahan baku juga diperoleh dari ikan-ikan yang tak termanfaatkan ketika musim panen. “Saat panen raya terkadang harga ikan turun, kan banyak ikan yang dibuang begitu saja. Itulah yang dimanfaatkannya untuk menggantikan tepung ikan dan juga kedelai sebagai sumber protein dan asam amino,” katanya.

 

Dalam prinsip penelitian Sukoso, tepung ikan pastilah berkaitan dengan protein. Protein itu memiliki turunan sederhana asam amino dan juga peptida. Dari bahan-bahan waste organic itulah dia memfokuskan bagaimana kemudian bisa didegradasikan untuk menghasilkan komponen yang dibutuhkan dengan kualitas yang baik. Kemudian dipelajarinya enzim, mikroorganisme untuk menemukan teknologi pendegradasiannya.

 

Setelah ditemukan teknologinya dan mencampur dengan bahan-bahan waste organic tadi, maka ditemukanlah substitusi tepung ikan dan kedelai yang diberi nama Bio Hydro Pro. Produk ini dibagi menjadi 2 jenis, pasta dan cair.  “Produk ini kita bawa ke laboratorium pacific di Singapura untuk dianalisa dan diketahui untuk yang bentuk pasta mengandung protein 65 %, sedangkan yang bentuk cair 40 %,” paparnya.

 

 

Mesin Pelet Apung

Lanjutnya, ketika sudah menemukan pengganti sumber protein dan asam amino maka selanjutnya adalah mesinnya. Jika berbicara mengenai pakan mandiri maka harus ada peran masyarakat dalam pembuatan pelletnya. Hingga akhirnya desain mesin pellet yang memiliki mobilitas tinggi menjadi solusi yang ditawarkan.

 

Mesin pelet berukuran 1x2 meter ini mampu menghasilkan pellet 75 kg/jam. Namun pelet yang dihasilkan bukanlah sembarang pelet, melainkan pelet yang mampu terapung hingga 2 jam lamanya. Mesin ini dilengkapi pendingin dari air yang tugasnya adalah ketika bahan-bahan pembuatan pelet yang masuk terkena panas, kemudian dikejutkan dengan dingin yang cepat diturunkan, sehingga membentuk tekstur yang mengembang. Hingga akhirnya akan mampu membuat pelet tersebut terapung.

 

Kemudian pelet yang dihasilkannya tidaklah memiliki bau yang menyengat, akan tetapi memiliki bau yang gurih seperti roti dengan tekstur yang hangat. Bau gurih tersebut berasal dari cairan Bio Hydro Pro yang dicampurkan kedalam ransum pakannya. Dengan memiliki bau yang gurih menurutnya semakin memudahkan apabila pellet ini dibawa keluar pulau. Pasalnya, dengan tidak memilik bau yang menyengat pellet ini pasti akan bisa dibawa kemana saja menggunakan jalur udara. “Jika ingin berbau amis tinggal ditambahkan attractant saja,” imbuhnya Sukoso.

 

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-55/15 Desember 2016– 14 Januari 2017


   Artikel Lain    

    Gelembung Kecil Bermanfaat Besar

    Padi Terapung Menambah Untung

    Pembesaran Kakap putih di Air Tawar

    Supaya Ikan Cepat Matang Gonad

    Teknologi Budidaya Rainbow Kurumoi


  • Importasi dari Zona Based Dilanjutkan
  • Importasi Berbasis Zona Pasca Putusan MK
  • Urgensi Biosekuriti Tambak Udang
  • Penangkapan Tuna Ikut Terseok
  •   Tambak Udang Skala Mini di Madura
  •   Siasat Bertahan Peternak Layer
  • THE ALLTECH IDEAS CONFERENCE 2017
  •   Berbagi Pengalaman Kendalikan WFD

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved