Advertorial Aqua   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Kamis, 15 Desember 2016
Bantuan Usaha Dukung Budidaya Udang di Madura

   Bantuan Usaha Dukung Budidaya Udang di Madura

Foto: 


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Program Pengembangan Usaha Mina Pedesaan Perikanan Budidaya (PUMP PB) ikut menggerakkan pengembangan budidaya udang di Madura

Jika selama ini tambak udang identik dengan petakan yang relatif luas, lain halnya dengan tambak udang yang sedang populer di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Umumnya petakan tambak udang di Indonesia memiliki luasan di atas 2 ribu meter persegi. Namun tambak-tambak udang di Pulau Madura ini memiliki ukuran sekitar 200 - 300 meter persegi.

 

Bahkan tambak udang tersebut lebih mirip kolam ikan lele atau ikan nila. Para pembudidaya udang Bangkalan menyebutnya sebagai tambak mini. Penggagas tambak mini ini adalah Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Bina Usaha asal Desa Batah Barat, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan.

 

Ketua kelompok Moch Muhlis menceritakan bahwa tambak mini yang digagasnya lahir dari kegagalan budidaya ikan air tawar yang pernah dijalankan kelompoknya sejak 2011. Ikan nila dan ikan lele adalah komoditas yang lebih dulu mereka budidayakan. Namun rendahnya minat masyarakat setempat untuk mengonsumsi ikan menjadi hambatan dalam pemasaran. Ikan hasil budidaya menjadi tidak bisa terjual dengan baik. Sehingga pada 2012, terbersit lah untuk mencoba budidaya udang vannamei.

 

Alih-alih menggunakan lahan yang luas seperti tambak pada umumnya, kelompok ini justru memanfaatkan kolam bekas budidaya ikan sebelumnya. Keterbatasan modal dan sumber daya lahan yang dimiliki menjadi alasan utama kelompok Muhlis menggunakan kolam bekas ikan. Kolam seluas 4x6 dan 5x7 meter persegi digunakan untuk budidaya udang vannamei. Dibantu dengan aerator seadanya untuk meningkatkan pasokan oksigen. “Dengan peralatan sangat sederhana. Pakai aerator cuma 100 watt, pake selang, pake batu aerasi,” jelasnya.

 

Bahkan Muhlis menuturkan, ia dan anggota kelompoknya sempat menjual barang-barang yang tidak terpakai di rumahnya untuk dijadikan modal usaha. Namun siapa sangka, optimisme Muhlis beserta kelompoknya berbuah manis. Uji coba udang vannamei dalam kolam kecilnya berhasil. Panen pertamanya menghasilkan 100 kg udang dari 10.000 benur yang ditebar.

 

Di tengah keterbatasan media dan peralatan budidaya, Muhlis dan kelompok merasa berhasil dengan percobaan budidaya udangnya. Padahal diakui Muhlis saat pertama kali mencoba, ia hanya menggunakan benur udang vannamei lokal dari Gresik. Melihat hasil percobaannya berjalan baik, kelompok Bina Usaha akhirnya menggunakan benur F1 yang lebih berkualitas untuk siklus berikutnya.

 

Mendapat Bantuan

Keberhasilan kelompok Bina Usaha ini rupanya menarik perhatian Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bang­kalan saat itu. Kemudian kelompok ini direkomendasikan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mendapatkan bantuan guna meningkatkan produktivitasnya.

 

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Bantuan yang dinanti pun datang dalam program bertajuk Pengembangan Usaha Mina Pedesaan Perikanan Budidaya (PUMP PB) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Pada tahun 2013, kelompok Bina Usaha dari Bangkalan ini menjadi salah satu penerima bantuan pro­gram KKP tersebut dengan mendapatkan modal usaha sebesar Rp 65 juta.

 

Bantuan ini kemudian disambut gembira oleh Muhlis dan kelompoknya. Bantuan ini juga memicu semangat baru bagi kelompok Bina Usaha. Dengan bijak, mereka memanfaatkan bantuan tersebut untuk memperluas kolam budidayanya. Tiga unit kolam dengan ukuran rata-rata 200 meter persegi berhasil dibangun untuk produksi selanjutnya.

 

Perluasan tambak ini berhasil me­ningkatkan produktivitas udang dengan signifikan. Muhlis menuturkan, dalam satu tambak mininya pernah mencapai produksi hampir 1 ton udang. Hingga saat ini, kelompok Bina Usaha telah memiliki 13 tambak mini yang dikelola bersama-sama oleh anggotanya.

 

Jumlah anggota yang semula 10 orang pun bertambah men­jadi 12 orang. Produksi meningkat, penghasilan pun bertambah. Muhlis mengakuiu jika pendapatan bersih kelompoknya saat ini bisa mencapai lebih dari Rp 100 juta per siklus. Pendapatan yang tidak bisa dibilang kecil untuk skala daerah.

 

Perbaikan produksi terus dilakukan oleh Muhlis dan rekan-rekan. Kelompoknya harus terus membuat formulasi sistem budidaya yang tepat dengan biaya seefisien mungkin. Pada awal setelah perluasan tambak, Bina Usaha masih menggunakan aerator untuk kecukupan oksigen. Hanya saja dayanya ditingkatkan dari 100 watt menjadi 750 watt. Setelah beberapa kali berhasil, Muhlis dan kelompok akhirnya mampu menambah investasi kincir untuk membantu meningkatkan pasokan oksigen tambak.

 

 

PUMP PB

Tidak hanya Pokdakan Bina Usaha di Bangkalan, kelompok penerima bantuan PUMP PB dari KKP tersebar luas di seluruh Indonesia. Sejak 2011 dimana program ini dimulai, hingga 2014 KKP sudah memberikan bantuan dalam program PUMP PB kepada 13.980 Pokdakan dengan jumlah anggota mencapai 173.960 pembudidaya yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Program ini diberikan kepada kelompok pembudidaya ikan di berbagai daerah dengan komoditas yang berbeda sesuai dengan potensi daerahnya.

 

Direktur Produksi dan Usaha Budidaya KKP Balok Budiyanto menjelaskan bahwa bantuan PUMP PB ini merupakan salah satu strategi pengembangan usaha budidaya ikan. Program ini bertujuan untuk memberikan kemudahan kepada para pembudidaya dalam mengakses permodalan.

 

Kata Balok, selama ini masih banyak pembudidaya yang terhambat perkembangannya dikarenakan keterbatasannya ter­hadap akses permodalan. “Dengan adanya bantuan PUMP PB ini diharapkan dapat menstimulasi peningkatan kemampuan usaha pembudidayaan ikan. Dampak yang diharapkan adalah adanya peningkatan produktivitas dari pembudidaya ikan,” jelas Balok.

 

Ia menjelaskan, besaran bantuan PUMP PB yang diberikan kepada kelompok berbeda setiap tahunnya. Mulai dari Rp 35 juta hingga Rp 100 juta. Bantuan dalam bentuk dana tunai ini diberikan langsung kepada kelompok penerima. Kelompok pembudidaya penerima dana tersebut bertanggung jawab untuk memanfaat­kannya sesuai dengan Rencana Usaha Bersama (RUB) yang telah dibuat sebelumnya.

 

Hingga saat ini bantuan usaha untuk pembudidaya tetap dilakukan oleh KKP, namun dengan nama program yang berbeda. PUMP PB yang berjalan dari 2011 hingga 2014 berganti menjadi Pengembangan Usaha Mina Mandiri Perikanan Budidaya (PUMM PB) di tahun 2015 dan Bantuan Sarana dan Prasarana Perikanan Budidaya di tahun 2016. Menurut Balok semua program tersebut pada intinya bertujuan sama, yakni untuk mendukung dan mem­bantu pengembangan para pembudidaya.

Balok berpesan agar para pembudidaya tetap menjaga tekad dan semangat menjalankan usahanya. Karena menurutnya tekad dan semangat ini merupakan faktor keberhasilan dalam berwirausaha.

 

Balok juga berpesan kepada para petugas dinas dan penyuluh perikanan di daerah agar terus memberikan pendampingan yang berkesinambungan kepada para pembudidaya. “Untuk itu diharapkan pembudidaya ikan penerima PUMP PB dapat terus mengembangkan usahanya. Sehingga pada perkembangan selanjutnya pembudidaya ikan dapat memanfaatkan akses kepada lembaga pembiayaan bank dan non bank untuk pengembangan usahanya,” tutup Balok.

 

Agen Perubahan

Kesuksesan kelompok Bina Usaha dengan cepat terlihat oleh masyarakat sekitar. Banyak masyarakat berdatangan untuk melihat dan belajar secara langsung kepada kelompok tersebut. Bantuan yang diberikan untuk satu kelompok ini kemudian memberikan efek domino yang dirasakan oleh penduduk sekitar. Banyak masyarakat sekitar yang ingin meniru keberhasilan tersebut.

 

Muhlis dan kelompoknya menerima dengan tangan terbuka siapa saja yang ingin belajar budidaya udang skala mini. Kelompok Bina Usaha pun menjadi agen perubahan di Bangkalan dan seki­tarnya. Muhlis berharap, budaya kerja keluar negeri (TKI) yang banyak dilakukan oleh pemuda di daerahnya bisa berkurang oleh kegiatan ekonomi budidaya udang.

 

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bangkalan Budi Utomo gembira dengan adanya kelompok ini di daerahnya. Menurutnya, kelompok Bina Usaha telah memberikan dampak positif bagi sekitar baik secara ekonomi mau pun sosial. “Yang paling dirasakan manfaatnya untuk generasi muda yang biasa kumpul kongkow, sekarang punya kegiatan budidaya vannamei. Sehingga kalau yang muda sudah punya kegiatan, kenakalan remaja berkurang,” terangnya.

 

Budi mengakui, tidak kurang dari 160 pembudidaya di Bangkalan dan sekitarnya telah menjadi binaan Muhlis beserta kelompoknya. “Alhamdulillah banyak dari luar kelompok yang mengambil manfaat. Sehingga tidak hanya di Bangkalan saja, tapi meluas ke kabupaten-kabupaten di Jawa Timur. Termasuk Sampang, Pamekasan, Pasuruan, Probolinggo, dan Lamongan. Itu sudah banyak mencontoh dari sini,” tutur Budi.

 

Tidak hanya dari daerah Jawa Timur, banyak juga yang datang dari luar pulau Jawa untuk belajar budidaya tambak mini di Bangkalan seperti dari Aceh, Medan, Lampung, dan Pontianak. Berbekal pengetahuan budidaya udang yang lebih banyak didapat secara otodidak, juga karena alasan pernah mendapatkan bantuan PUMP, Muhlis dan kelompok tidak ingin pelit berbagi dengan para pembudidaya yang ingin belajar udang bersamanya.

 

Pendampingan Rutin

DKP Kabupaten Bangkalan yang menjadi kepanjangan tangan KKP di daerah terus berupaya melakukan pendampingan terhadap para pembudidaya tambak mini. Peran DKP Bangkalan tidak berhenti setelah kelompok-kelompok mendapat bantuan dari KKP. Pertemuan dengan kelompok untuk evaluasi dan diskusi pun rutin dilakukan.

 

Salah satu Penyuluh Perikanan Bantu (PPB) Perikanan Budidaya Kabupaten Bangkalan Alfian Athaillah mengaku rutin melakukan pendampingan kepada pokdakan di Bangkalan. Bahkan Ia bersama rekan-rekannya mendampingi kelompok Bina Usaha dari awal se­belum mendapat bantuan hingga sekarang. Ia merasa bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompok yang didampinginya. “Kita kawal sampe pembelanjaan, sampe ada pengembangan,” katanya.

 

Selaku Kepala DKP Bangkalan, Budi sangat mendukung berkembangnya tambak udang vannamei di daerah administrasinya. Dirinya dibantu para penyuluh terus membantu pengembangan budidaya udang di daerahnya. “Adanya penyuluh ini dalam rangka memotivasi para anggota kelompok untuk mengembangkan para pembudidaya,” ucap Budi.

 

Selain pendampingan, DKP Bangkalan juga memfasilitasi kegiatan peningkatan kualitas pengetahuan pembudidaya. DKP Bangkalan sering mengundang pakar untuk berbagi pengalaman dan keilmuan kepada para pembudidaya.

 

Terus Berkarya

Kesuksesan Muhlis dan kelompok hingga saat ini tidak mem­buat mereka terlena dan menghentikan langkah. Mereka terus bergerak untuk tetap berkarya. Bantuan modal PUMP PB yang dimanfaatkan sebaik-baiknya menjadikan kelompok Bina Usaha dipercaya kembali untuk menerima bantuan dari KKP melalui program PUMM PB.

 

Pada tahun 2015, kelompok Bina Usaha dan tiga kelompok binaannya berhasil mendapatkan bantuan sebesar Rp 60 juta dari program PUMM PB tersebut. “Adanya dana itu dimaksimalkan betul. Kita gak main-main. Jika main-main kita sendiri nanti yang susah,” ucap Muhlis merasa harus semakin bertanggung jawab.

 

Tidak hanya mengandalkan bantuan hibah saja, Muhlis bahkan secara pribadi telah bisa mendapatkan pinjaman dari perbankan. Pinjaman ini ia gunakan untuk mengembangkan usahanya. Adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang memberikan kepercayaan kepada Muhlis melalui pinjaman sebesar Rp 150 juta. Pinjaman ini didapat Muhlis pada tahun 2013. “Tinggal beberapa bulan lagi pelunasannya,” terang Muhlis.

 

Penyuluh PPB Alfian Athaillah mengakui keseriusan kelompok Bina Usaha. “Kami merasa senang karena kelompok ini sangat amanah. Pembelanjaannya sesuai RAB (Rencana Anggaran Biaya). Buktinya pun sekarang ada dan berkembang. Dan menjadi pemicu bagi masyarakat,” ungkapnya.

 

Ia bersama rekan-rekannya terus mendampingi kegiatan bu­didaya udang vannamei di daerah Bangkalan. Tidak hanya megenai teknis budidaya, para penyuluh juga melakukan pendampingan di bagian keuangan.

 

Muhlis bersama kelompoknya saat ini bercita-cita untuk membangun koperasi dan laboratorium mini sebagai tempat analisis di tahun 2017. Menurutnya kondisi usaha tambak udang yang terus berkembang membutuhkan dukungan analisis yang lebih ilmiah dan akurat untuk menunjang keberhasilan budidaya. “Karena memang semakin lama budidaya, semakin diperlukan,” tutup Muhlis. lTROBOS Aqua / Adv

 


   Artikel Lain    

    Perikanan untuk Generasi Masa Depan

    Sumber Lancar Terus Berinovasi

    Autofeeder dan Oktamixer Produk Anak Negeri

    Sukses Budidaya Udang Sistem Herophototropic

    Geomembran Solmax Kuat untuk Tambak


  • Jaminan Keamanan Pangan
  • Memacu Bisnis RPA
  • Hitung-Hitungan Benur Besar
  • Plus Minus Nursery Benur
  •   Jambore Peternakan Nasional 2017
  •   Bisnis Itik Makin Dilirik
  •   Mengenal Udang Putih Asli Indonesia
  •   Cara Benar Membenihkan Lele

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved