Advertorial Aqua   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Kamis, 15 Desember 2016
Rikha Bramawanto: Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas Garam Rakyat

 Rikha Bramawanto: Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas Garam Rakyat

Foto: 


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Balitbang KP mengembangkan model tata kelola tambak garam rakyat yang dapat dilakukan di lahan terbatas namun berproduktivitas tinggi dalam aspek kuantitas dan kualitas

 

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berhasil men­dorong peningkatan kuantitas produksi garam sebesar 2,8 juta ton pada 2015. Namun kualitas garam rakyat tersebut masih berada di bawah mutu SNI (Standar Nasional Indonesia) yang disyaratkan untuk garam industri CAP dan hanya bisa memenuhi kebutuhan garam konsumsi.

 

Jika proyeksi kebutuhan garam konsumsi tahun 2016 adalah 1,965 juta ton, maka akan terdapat surplus 0,8 juta ton. Konsekuen­sinya diperlukan upaya peningkatan kualitas melalui proses purifikasi/ pemurnian maupun penyempurnaan proses produksi di tambak.

 

Karakter tambak milik PT Garam yang lazim dijadikan acuan, berbeda dengan tambak garam milik rakyat, terutama dari aspek luas lahan dan pola pengelolaannya. KKP menginisiasi program korporatisasi garam, dengan cara konsolidasi lahan dari tambak-tambak kecil milik rakyat yang berada dalam satu hamparan. Namun hal tersebut masih mengalami kendala dan resistensi dalam penerapannya di beberapa sentra garam rakyat.

 

Inovasi Teknologi

Berdasarkan fakta-fakta tersebut, Badan Litbang Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) menyajikan alternatif solusi berupa inovasi teknologi tepat guna. Tujuannya untuk memproduksi garam secara optimum dengan memperhatikan ragam keterbatasan yang dimiliki oleh tambak garam rakyat.

 

Balitbang KP mengembangkan model tata kelola tambak garam rakyat yang dapat dilakukan di lahan terbatas namun berproduktivi­tas tinggi dalam aspek kuantitas dan kualitas. Model dibuat dengan memperhitungkan proporsi dan kapasitas reservoir (bozeem/waduk), condenser (peminihan), serta crystalizer (meja kristalisasi) berdasarkan kesetimbangan massa air tua di setiap tahap.

 

Selain itu pada model ini ditambahkan kolam atau wadah pe­nyimpanan air tua (brine storage) di dekat kolam peminihan sebagai buffer untuk menjamin ketersediaan brine. Kapasitas suplai air tua yang berkaitan dengan laju evaporasi disimulasikan secara matematis berdasarkan kondisi meteorologis dan lingkungan spesifik beberapa tambak garam di Indonesia (Pantura dan Madura).

 

Model tersebut mempertimbangkan optimalisasi di setiap tahapan proses saat produksi berlangsung. Optimalisasi dimulai daripenggunaan dan pengelolaan reservoir atau waduk. Pada model ini kapasitas reservoir diperbesar dengan cara meninggikan pematang atau memperdalam kolam.

 

Hal ini dilakukan karena kenaikan densitas yang diakibatkan oleh proses evaporasi pada reservoir relatif kecil, sehingga fungsi reservoir lebih ditujukan untuk menjaga kontinuitas ketersediaan brine terutama pada puncak musim garam serta mengendapkan material organik dan garam pengotor (impurities) berupa Fe2O3. Kapasitas brine disesuaikan dengan target produksi garam yang hendak dicapai dan luas meja kristalisasi yang dimiliki.

 

Literatur menyebutkan bahwa dalam praktik di lapangan untuk memproduksi 1 ton garam dibutuhkan sekitar 50 m3 air laut. Se­mentara dalam teori seharusnya 1 ton garam dapat dihasilkan dari 27 m3 air laut, kita berupaya untuk mendekati kondisi ideal tersebut.

 

Optimalisasi Kolam Evaporasi dan Kristalisasi

Optimalisasi di kolam peminihan menerapkan konsep saluran berseri atau ulir dengan mengadopsi Teknologi Ulir Filter (TUF). Semakin jauh lintasan ulir semakin besar kenaikan densitas air tua saat mencapai ujung lintasan. Pada bagian ujung dari tahap pemini­han ini dibuat suatu kolam penyimpanan air tua (densitas 20 - 23 Baume) dengan kapasitas lebih dari cukup untuk mengisi seluruh meja kristalisasi serta sekaligus berfungsi sebagai tempat mengendapkan CaCO3 dan CaSO4.

 

Keuntungan dari adanya kolam penyimpanan air tua tersebut adalah terjaminnya suplai air tua saat produksi garam berlangsung dan cadangan air tua pada akhir musim produksi garam. Air tua tersebut dapat dikristalkan dalam rumah kaca ataupun melalui proses perebusan pada saat musim hujan, sehingga proses produksi garam masih dapat tetap berlangsung. Jika tidak dipergunakan air tua dapat dimanfaatkan sebagai booster untuk memancing kenaikan densitas air tua pada musim garam berikutnya.

 

Optimalisasi di meja kristalisasi dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain menggunakan geomembran atau memproduksi garam di atas garam untuk mendapatkan garam berkualitas. Di sisi lain untuk mempercepat proses kristalisasi NaCl, pada model ini sistem kristalisasi memiliki bak penampungan yang terbuat dari kolam terpal atau tangki air yang dilengkapi pipa pvc dan kran. Air tua (densitas 23 - 25 Baume) dipompa dari kolam penyimpanan air tua ke tangki air dan mengalir secara gravitasi ke petakan-petakan meja kristalisasi.

 

Proses kristalisasi garam NaCl diawali dengan memasukkan air tua ke dalam meja kristalisasi sekitar 2 - 3 cm, hari berikutnya setelah tumbuh bibit garam air tua dapat diberikan secara kontinu dari tangki air tua. Kran berfungsi sebagai pengatur debit air tua untuk mempertahankan densitas brine agar tidak lebih dari 30 Baume, agar garam pengotor seperti K2SO4, Na2SO4, MgCl2 tidak turut mengendap.

 

Sistem ini terbukti mampu meningkatkan percepatan produksi garam. Sebagai contoh, setelah 7 hari proses kristalisasi dari meja kristal tanah berukuran 280 m2 jumlah produksi garam mencapai 1.610 kg, sedangkan tanpa sistem ini produksi garam sebesar 1.690 kg baru dicapai setelah 10 hari proses kristalisasi, artinya sistem ini memproduksi kristal garam 2 - 3 hari lebih cepat dengan kuantitas yang relatif sama setelah melewati proses kristalisasi minimal 7 hari.

 

Tingkat Keberhasilan

Proses produksi garam menggunakan model yang telah di­kaji optimalisasinya tersebut dapat menghasilkan lebih dari 120 ton perhektar permusim (3,5 - 4 bulan) dengan kualitas K1. Sehingga pendapatan permusim dari 1 hektar tambak tidak kurang dari 72 juta jika harga per kg Rp 600. Penerapan model ini akan diperkuat dengan menghitung masukan (intake) debit ideal air tua yang dikombinasi dengan laju evaporasi air disetiap tahapan proses, sehingga diharapkan dapat ditentukan pola pengaturan debit air tua yang akan membuat sistem bekerja dengan sendirinya.

 

Optimalisasi dari masing-masing proses telah dikaji dan diterapkan secara terpisah di beberapa tambak garam di tahun-tahun sebelumnya. Namun baru diterapkan secara utuh sebagai suatu model pada tahun 2016 di salah satu tambak garam seluas 1,2 hektar di Desa Kaliori Kabupaten Rembang Jawa Tengah.

 

Lokasi ini merupakan sentra garam yang masih banyak menerap­kan sistem pengelolaan tambak garam konvensional, sehingga dapat menjadi representasi dari pengelolaan tambak garam rakyat pada umumnya. Dalam penerapan tersebut pemilik tambak dan buruh dapat menerima dan mudah memahami konsep penerapan model tata kelola tambak tersebut. Terdapat beberapa informasi yang menurut mereka baru diketahui maupun beberapa aspek yang sudah lama dikenal atau diketahui namun tidak dipahami maksud atau alasannya terkait penerapan tambak garam semi intensif.


   Artikel Lain    

    Perikanan untuk Generasi Masa Depan

    Sumber Lancar Terus Berinovasi

    Autofeeder dan Oktamixer Produk Anak Negeri

    Sukses Budidaya Udang Sistem Herophototropic

    Geomembran Solmax Kuat untuk Tambak


  • Kebijakan yang Komprehensif Dinanti
  • Menatap Bisnis Broiler 2018
  • Permainan Dagang Tekan Harga Nener
  • Angkat Pamor Bandeng Skala Industri
  •   Jambore Peternakan Nasional 2017
  •   Dr. drh. Surya Agus Prihatno, MP: Koreksi untuk Upsus Siwab
  •   Plus Minus Autofeeder Udang
  •   Klasterisasi Domba dan Kambing

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved