Advertorial Aqua   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Kamis, 15 Desember 2016
Optimalisasi Perikanan Tangkap Berkelanjutan

 Optimalisasi Perikanan Tangkap Berkelanjutan

Foto: 


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

BBPI Semarang siap mendukung usaha penangkapan ikan yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan

 

Sub sektor perikanan tangkap di era kepemimpinan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti men­jadi salah satu prioritas. Salah satu arah kebijakannya yaitu optimalisasi produksi hasil tangkapan serta mewujudkan usaha perikanan tangkap yang legal, ramah ling­kungan, dan berkelanjutan.

 

Balai Besar Penangkapan Ikan (BBPI) Semarang Jawa Tengah sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) siap mendukung kebijakan tersebut. Dijelaskan Kepala BBPI Semarang, Wahid, tugas pokok dari BBPI Semarang adalah melaksanakan uji terap teknik pemanfaatan sumber daya ikan, pengujian dan sertifikasi produk, serta du­kungan dan kerjasama teknik pemanfaatan sumber daya ikan.

 

Ia menceritakan, berdirinya BBPI awal­nya sebagai Pangkalan Armada Survei dan Eksplorasi Direktorat Jenderal Perikanan Departemen Pertanian RI pada 1975. Lembaga ini sempat berubah nama menjadi Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI).

 

Lebih lanjut Wahid memaparkan, BBPPI Semarang awalnya mempunyai tugas pokok untuk melaksanakan penerapan dan pengembangan teknik penangkapan dan pengawasan serta kelestarian sumber daya hayati perairan. Seiring perkembangan dunia perikanan Indonesia, Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19/PERMEN-KP/2014 pada 16 Mei 2014 nomenklatur BBPPI berubah menjadi BBPI.

 

Perekayasaan Teknologi

Dalam perkembangannya berbagai teknologi inovatif hasil rekayasa telah dihasilkan oleh BBPI Semarang. Inovasi tersebut diantaranya kapal ikan katamaran, jaket tuna sebagai alat bantu penangkapan ikan tuna, rumah ikan, Oily Water Separator (OWS) untuk kapal ikan, rumpon pertengahan, konversi BBM ke BBG (LPG dan CNG), bubu rajungan tipe kubah bukaan samping, dan masih banyak lagi.

 

Rumah ikan dan LPG (Liquid Protoleum Gas) Con­version Kit menjadi inovasi andalan BBPI Semarang. Wa­hid menjelaskan, rumah ikan merupakan bangunan yang tersusun dari benda padat yang ditempatkan di dalam perairan yang berfungsi sebagai areal berpijah, perlindungan, serta pembesaran ikan. Tujuannya untuk memulihkan ketersediaan (stocks) sumber daya ikan.

 

Sementara LPG Conversion Kit meru­pakan peralatan konversi BBM ke BBG (LPG dan CNG) yang digunakan di motor peng­gerak kapal perikanan. LPG adalah bahan bakar yang berasal dari gas bumi/gas alam. Diadopsi dari kendaraan bermotor di darat, menggunakan sistem bahan bakar ganda (dual fuel system).

 

“Program LPG Conversion Kit sudah dimassalkan oleh Kementerian ESDM. Untuk 2016 sudah 5.000 converter kit diberikan Kementerian ESDM kepada nelayan khu­susnya nelayan skala kecil. Rencananya di 2017 Kementerian ESDM akan melanjutkan bantuan 28.000 unit converter kit yang akan disebar ke seluruh wilayah nusantara,” terang Wahid.

 

Terkait dengan sarana prasarana penunjang, Wahid menyampaikan bahwa BBPI Semarang telah dilengkapi sarana prasana yang cukup lengkap. Diantaranya perbengkelan, dermaga, simulator, kapal-kapal survei dan eksplorasi, asrama dan ma­sih banyak lagi fasilitas pendukung lainnya.

 

Pihaknya juga bekerjasama dengan semua universitas yang memiliki jurusan perikanan serta SMK Perikanan Indonesia. Selain itu bekerjasama dengan pihak inter­nasional seperti South East Asia Fishery Development Center (SEAFDEC) dan pemerintahan Sudan. “Kita juga menerima masyarakat nelayan yang diakomodir oleh pemda setempat untuk dilakukan pelatihan-pelatihan,” ungkap Wahid.

 

Guna mendukung peningkatan pelayanan kepada masyarakat saat ini BBPI Semarang sudah menggunakan standar ISO 9000. “Jadi kita membuat SOP pelayanan sesuai dengan standar ISO 9000. Maka akan dilakukan audit secara berkala sehingga diharapkan pelayanan akan semakin baik,” pungkasnya.

 

 

Ciker (Alternatif Penangkap Udang) Ramah Lingkungan

Inovasi terbaru yang dikembangkan BBPI Semarang terkait dengan Permen KKP RI No 2 tahun 2015 tentang larangan penggunaan alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) dan pukat tarik (seine nets) di wilayah pengelolaan perikanan Indonesia, disediakan alternatif alat tangkap. “Kami sudah memperkenalkan gill net millennium dan bubu yang dirancang secara khusus sehingga lebih mengefektifkan penangkapan di lapangan. Untuk mengganti pukat udang (trawl) sudah disiapkan jaring insang ciker yang lebih ramah lingkungan,” ungkapnya.

 

Wahid menjelaskan, jaring ciker prin­sipnya adalah jaring trammel net tapi dibuat aktif dan dilingkarkan, dengan catatan pada saat pemutaran tidak mengganggu habitat dasar. “Kami sudah memperhitungkan teknologinya dengan cermat dan sudah diuji coba,” kata Wahid.

 

Suharyanto, Perekayasa Madya BBPI Semarang ikut menjelaskan, spesifikasi jaring ciker berupa lembaran jaring berbentuk persegi panjang dengan ukuran mata jaring lapis luar (outer) 6 inch dan jaring lapis dalam (inner) 1 ¾ inch. Komponen jaring terdiri dari webbing polyamide, tali pelampung dan pelampung, tali ris atas serta pemberat, tali selambar, tali pelampung tanda, dan tali segi tiga. Hanging Ratio (E) jaring adalah 0,50 (outter), dan 0.37 (inner).

 

Kapal yang digunakan untuk mengoperasikan jaring ini bisa mulai dari ukuran 1 GT dengan kapasitas mesin penggerak 15 PK. Pengoperasian 1 unit jaring ciker sebanyak 6 piece jaring dengan jumlah ABK biasa dikerjakan 2 orang.

 

Metode pengoperasian jaring insang ciker dilakukan dengan cara diputar dengan arah berlawanan arah jarum jam di dasar perairan hingga radius 1 plus ¼ putaran. Udang tertangkap dengan cara terjerat dan dengan cara terpuntal. Pola penang­kapan adalah balik hari atau one day trip, dengan penurunan jaring hingga 5 kali. Teknik pengoperasian dilakukan adalah pemasangan (setting), pemutaran Jaring, penarikan (hauling).

 

Suharyanto menjelaskan, uji operasional jaring ciker sudah dilakukan di Pangandaran Jawa Barat pada November 2016 disaat sedang berlangsung musim paceklik. “Perbandingan hasil tangkapan jaring insang ciker dengan alat penangkapan udang yang lain di daerah penangkapan ikan yang sama 3:1, artinya jaring insang ciker 3 kali lebih banyak dari jaring lain,” ungkap Suharyanto semangat.

 

Target tangkapan adalah udang. Hasil tangkapan yang diperoleh saat pengoperasian jaring insang ciker di Pangandaran terdiri dari udang banana, tiger, dan kerosok. Sedangkan hasil tangkapan sampingan adalah ikan dan crustacea lainnya. Perbandingan komposisi hasil tangkapan terdiri dari udang 67 % ikan 33 %.

 

“Sejauh ini nelayan sudah bisa menerima ciker tersebut, karena kalau kita berbicara perikanan, harus berbicara tentang keberlanjutan SDI. Agar sumberdaya ikan tersebut masih dapat diwariskan ke anak cucu kita nantinya,” tegas Wahid.

 

Wahid menambahkan, sesuai arahan KKP, kapal-kapal eks cantrang akan diganti alat tangkapnya oleh pemerintah berdasar­kan rekomendasi BBPI. Sosialisasinya terus berjalan, bahkan dibentuk tim khusus yaitu Tim Gabungan Solusi Cantrang. lTrobos Aqua/Adv


   Artikel Lain    

    Solusi Kualitas Benur dan Induk Udang

    SCI Jabar-Banten Gelar Sarasehan Petambak

    HDPE Jempolan Pilihan Petambak

    Dongkrak Produktivitas Tambak Bersama Kavas

    Aquatec Dukung Pencapaian Produksi Kakap Putih


  • Daya Pikat Koperasi
  • Konsolidasi Peternak Lewat Koperasi
  • Mengurai Berbelitnya Perizinan Usaha Tambak
  • Genjot Produksi dengan Ekspansi
  •   Berbagi Pengalaman Kendalikan WFD
  • Training Jurnalistik Media Petemakan
  • THE ALLTECH IDEAS CONFERENCE 2017
  •   Padi Terapung Menambah Untung

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved