Editorial   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Minggu, 1 Januari 2017
Berharap Perbaikan Harga Telur di 2017

Komoditas Lain
Unggas
Sapi Perah
Sapi Potong
Domba/ Kambing
Aneka Ternak
Hobi Livestock

Dua persoalan menjadi perhatian utama para pelaku usaha peternakan layer (ayam petelur) sepanjang 2016.  Yang pertama soal pasokan jagung. Beruntung, kisruh jagung di 2015 yang sempat dikhawatirkan bakal terulang, tidak jadi kenyataan.

 

Pada 2015 hampir seluruh daerah di Indonesia dilanda kekeringan, karena kemarau panjang sepanjang tahun sebagai akibat adanya gelombang El Nino. Sehingga sebagian besar areal lahan tanaman pangan mengalami gagal panen maupun gagal tanam. Tak terkecuali jagung yang merupakan bahan baku utama pakan unggas, dan menjadi urat nadi kelangsungan peternakan layer. Menjadi kisruh di 2015, adalah ketika di semester II saat paceklik jagung Menteri Pertanian justru melakukan aksi koboi melarang importasi jagung. Pak menteri Amran Sulaiman yakin produksi jagung ketika itu surplus. Faktanya, di lapangan jagung langka. Sudah panen menurun, impor pun dilarang. Pabrik pakan kelimpungan, menggasak semua jagung, sehingga peternak layer gigit jari tak kebagian jagung. Harga jagung tembus Rp 7.000/kg, sebuah rekor tertinggi dalam sejarah perjagungan dunia. Sementara harga jagung di pasaran dunia ketika itu hanya di kisaran Rp 3.200 – 3.300 per kg. Gonjang-ganjing jagung ini bahkan masih dirasakan para pelaku usaha sampai trimester pertama 2016.

 

Untungnya, bulan-bulan berikutnya kondisi mulai membaik. Salah satu faktornya adalah, berbeda dengan 2015, di 2016 gelombang La Nina lah yang melintasi kawasan Nusantara. Angin ini memberikan iklim cuaca kemarau basah, curah hujan tinggi sepanjang tahun. Bahkan di beberapa daerah intensitasnya demikian tinggi hingga menimbulkan banjir. Positifnya, sentra-sentra jagung tak kesulitan air dan tanahnya mampu ditanami benih jagung. Sehinga produksi jagung di 2016 tercatat  jauh lebih baik.

 

Selain itu, di tahun lalu terbangun komunikasi yang baik dan intensif antara para pelaku industri perunggasan dan peternak dengan pihak Bulog sebagai satu-satunya pihak yang diberi kewenangan oleh pemerintah untuk melakukan importasi jagung. Komunikasi berjalan baik, sehingga kalkulasi dan estimasi kebutuhan dan pasokan jagung dalam negeri terbaca, dan penambahan pasokan melalui jalur impor pun terukur. Bahkan porsi untuk peternak mandiri juga terjaga diatur oleh Bulog. Alhasil, soal jagung di 2016 relatif stabil baik pasokan maupun harga.

 

***

 

Kalau persoalan jagung dinilai kondusif, tidak demikian dengan soal harga jual telur sebagai hasil produksi usaha peternakan layer. Harga telur sepanjang 2016 yang cenderung tertekan HPP (Harga Pokok Produksi) adalah persoalan utama kedua bisnis layer, yang jadi perhatian para pemangku kepentingan industri ini.

 

Fluktuasinya tidaklah sedahsyat sebagaimana terjadi pada harga jual broiler beberapa tahun terakhir yang tak ubahnya roller coaster. Meski demikian, bagi peternak layer, utamanya peternak mandiri, tekanan tahun ini luar biasa menghimpit. Contohnya, tiga bulan terakhir jelang pergantian tahun, harga telur ditingkat peternak ada dikisaran Rp 12 – 13 ribu per kg sementara HPP sekitarRp 16 ribu per kg-nya. Gambarannya, bila di tahun-tahun sebelumnya kerugian (harga telur di bawah HPP) tercatat biasanya dialami 3 – 4 bulan dari 12 bulan dalam setahun, yang terjadi di 2016 tercatat 4 bulan rugi, 4 bulan impas, dan hanya 4 bulan yang peternak bisa mendapat untung.

 

Sebagian menganalisis, selama 2016 terjadi kelebihan pasokan telur. Penyebabnya, penambahan populasi layer yang massif oleh peternak, terutama terus bertambahnya peternakan skala industri dengan teknologi closed house atau kandang tertutupnya. Celakanya, produksi industri ini pemasaran telurnya pun sebagian besar masih ke pasar becek. Hanya sebagian kecil yang memasok industri pengolahan, industri makanan, maupun kosmetik.

 

Situasinya tidak menjadi lebih baik dengan adanya variabel tepung telur yang didatangkan dari luar alias impor. Industri pengolahan banyak yang lebih memilih menggunakan tepung telur impor dengan alasan kepraktisan. Alhasil, telur lokal serapannya melemah, sementara karena ujudnya masih berupa telur segar, produk ini sifatnya tidak awet dan akhirnya terpaksa dijual murah.

 

Koreksi perbaikan harga telur diharapkan terjadi saat memasuki 2017. Setidaknya, sebagian peternakan sudah mengurangi jumlah populasi layer-nya. Harapannya, langkah ini berdampak mampu meredam banjir pasokan dan akan mendongkrak harga telur. Jangan sampai harga telur terus terpuruk dan peternak merugi berkepanjangan. Ini membuat gairah beternak akan pupus, dan dalam jangka panjang menjadikan industri penyedia protein hewani yang termurah dan termudah bagi masyarakat ini jadi morat-marit. TROBOS

 


   Artikel Lain    

•    Jujur Atas Temuan Kasus

•    PP Otoritas Veteriner Terbit

•    Gagasan “Pengampunan Data”

•    Paradoks KPPU

•    Produk Bernilai Harus Tampil Cantik


  • Importasi dari Zona Based Dilanjutkan
  • Importasi Berbasis Zona Pasca Putusan MK
  • Urgensi Biosekuriti Tambak Udang
  • Penangkapan Tuna Ikut Terseok
  •   Tambak Udang Skala Mini di Madura
  •   Siasat Bertahan Peternak Layer
  • THE ALLTECH IDEAS CONFERENCE 2017
  •   Berbagi Pengalaman Kendalikan WFD

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright © 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved