Manajemen Unggas   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Minggu, 1 Januari 2017
Waspada Coryza di Musim Hujan

Waspada Coryza di Musim Hujan

Foto: trobos


Komoditas Lain
Unggas
Sapi Perah
Sapi Potong
Domba/ Kambing
Aneka Ternak
Hobi Livestock

Kasusnya di 2016 tinggi, terutama pada layer. Ayam penderita yang sembuh, akan menjadi carrier dan merupakan sumber penularan sehingga berperan besar pada kejadian infeksi berulang. Tindakan pencegahan meliputi manajemen yang baik, biosekriti yang ketat, dan vaksinasi dengan serovar yang cocok dengan bakteri yang bersirkulasi

 

Jelang akhir 2016, peternakan broiler (ayam pedaging) di wilayah Kalimantan Timur banyak mengalami serangan penyakit coryza. Tak terkecuali ayam-ayam milik Jojok Sarjono, peternak broiler asal Kecamatan Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara. Tepatnya pada November, kurang lebih sebanyak 300 – 500 ekor atau sekitar 10 persen dari populasi dalam satu kandangnya terjangkit penyakit yang dikenal juga dengan nama lain snot tersebut. “Umur yang diserang, ketika turun sekam atau sekitar umur 15 – 17 hari,” ungkap Jojok.

 

Dia membenarkan, kasus coryza saat itu cukup mewabah di Kalimantan Timur. Menurut Jojok, selama kurun Oktober – November 2016, baik peternakan kemitraan maupun kandang internal perusahaan integrator di daerah Kaltim, 40 – 50 % terserang penyakit coryza dan CRD (Chronic Respiratory Disease).

 

Salah satu sebabnya, Jojok menengarai, peternak mendapat DOC (ayam umur sehari) yang sudah carrier (pembawa penyakit) dari breeding (pembibitan). Dia mengaku mendapat informasi, DOC tersebut hasil dari induk yang sudah masuk masa afkir. Ia menjelaskan, indukan di breeding selama masa produktif mendapat vaksinasi ketat. Tetapi untuk yang menjelang afkir, biasanya kurang diperhatikan, sehingga anak ayam yang dihasilkan kualitasnya tidak begitu baik.

 

Yusman Friyadi SBU Vaccine Marketing PT Vaksindo Satwa Nusantara juga memberikan keterangan meningkatnya kasus coryza pada layer sepanjang Oktober – November 2016. Bahkan laporan survei yang ia terima menyebutkan, breeder (pembibit) pun menunjukan kecenderungan yang sama.

 

Cerita berbeda dialami Suwandi, peternak layer (ayam petelur) asal Kecamatan Pademangan Kabupaten Blitar. Ia tak menampik kandangnya pernah disatroni bakteri  Avibacterium paragallinarum penyebab coryza, tetapi itu 2 tahun lalu. Sekitar 3.000 ekor layer umur kisaran 13 – 16 minggu dari populasi kandang baterainya yang berisi 15.000 ekor, ketika itu positif terserang penyakit pernapasan tersebut. Tetapi sekarang tidak lagi.

 

Pengalaman dijadikan Suwandi sebagai pelajaran berharga. Ia menerapkan standar tertentu untuk mencegah kejadian penyakit, termasuk coryza yang menurut dia biasanya mengancam di saat awal musim hujan. “Antisipasi sebelumnya dengan peningkatan biosekuriti dalam menghadapi perubahan cuaca terutama awal musim hujan. Serta tindakan cepat ketika muncul tanda feed intake atau napsu makan menurun dan napas tidak normal,” ungkapnya. Tanda-tanda awal tersebut ia hadang dengan menambah pemberian antibiotik yang biasa 2 kali menjadi 3 kali sehari dalam air minum atau dicampur pakan selama satu minggu.

 

Layer Lebih Rentan

Christina Lilis Technical Product Marketing Manager PT Medion menuturkan kejadian penyakit coryza di Indonesia masih tinggi. Data Tim Technical Education and Consultation (TEC) Medion menunjukkan coryza di 2016 menempati peringkat kedua temuan penyakit di layer, bahkan selama dua tahun sebelumnya selalu menempati peringkat pertama. Sementara pada broiler, penyakit ini tidak pernah keluar dari peringkat empat besar. “Dua-duanya sama-sama rentan terserang, tapi di 2016 jumlah laporan kasus pada layer lebih tinggi dibanding broiler,”

 

Senada, Yusman mengatakan, secara umum penyakit ini dapat menyerang layer ataupun broiler. Tetapi ia melihat kecenderungan di layer cukup tinggi, karena masa hidup panjang dan cekaman lingkungan akan lebih tinggi ketika masalah ventilasi dan lingkungan sangat buruk. 

 

Pada breeder juga dijumpai kasus coryza, dengan penyebab utama adalah lingkungan tidak menunjang seperti pengaturan ventilasi tidak optimal dan manajemen sekam tidak baik, sehingga akan menjadi faktor predisposisi yang kuat untuk penyakit ini menyerang. “Semua jenis ayam dan usia peka terhadap  A.  paragallinarum. Tingkat keparahan penyakit lebih berat  pada ayam  yang berusia lebih tua,” terangnya.

 

Kerugian yang ditimbulkan penyakit coryza, sebagaimana dikemukakan Lilis antara lain morbiditas 20 - 50 %, mortalitas 5 -20 %, culling (afkir) 10 - 40 %, hambatan pertumbuhan, penurunan produksi telur 10 - 40 %, dan peningkatan biaya kesehatan atau pengobatan pada broiler 44 %, sementara pada layer naik 10 %.

 

Sementara menurut Ratriastuti Purnawasita Technical Specialist dari Elanco Animal Health Indonesia, selain mengganggu pertumbuhan ayam berupa pencapaian berat badan terlambat dan uniformity (keseragaman) rendah, kerugian yang ditimbulkan coryza adalah kemunduran kematangan seksual, penurunan kualitas kerabang telur, serta peningkatan FCR (Feed Convertion Ratio). Semuanya berujung pada inefisiensi produksi.

 

 

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 208/Januari 2017


   Artikel Lain    

    Brooding Nyaman Hasil Maksimal

    Mikotoksin Dikontrol, Performa Unggas Terkatrol

    Malaria Like Diseasepada Ayam

    Problematika SDM Kandang

    Ayam Nyaman di Cuaca Ekstrim


  • Keramba Jaring Apung
  • Dermaga Apung
  • Jukung
  • Wisata Bahari
  •   IKLAN ONLINE
  •   Tambak Udang Skala Mini di Madura
  •   Siasat Bertahan Peternak Layer
  • THE ALLTECH IDEAS CONFERENCE 2017

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2016 TROBOS, All Rights Reserved