Agri Unggas   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Minggu, 1 Januari 2017
Penyebaran dan Kajian Ekonomi AI

Penyebaran dan Kajian Ekonomi AI

Foto: trobos


Komoditas Lain
Unggas
Sapi Perah
Sapi Potong
Domba/ Kambing
Aneka Ternak
Hobi Livestock

Edukasi yang berkelanjutan perlu terus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat akan bahaya flu burung

 

Flu burung atau Avian Influenza (AI) sejak kemunculannya di 2004 terus mengancam berbagai negara di dunia. Baru-baru ini The Korea Times (24/12) melansir lebih dari 22,5 juta unggas di Korea Selatan (Korsel) terpaksa dimusnahkan lantaran terkena AI. Pemusnahan dilakukan untuk mengendalikan penyebaran virus yang bersifat zoonosis ini di seluruh negeri.

 

Virus yang menyerang adalah HPAI (High Pathogenic Avian Influenza) dengan strain H5N6 yang merupakanstrain virus baru dan baru pertama kali terdeteksi di Korsel. Kasus pertama kali dilaporkan menyerang pada salah satu peternakan di Haenam, Jeolla Selatan pada (16/12). Akibatnya akan ada penambahan pemusnahan sebanyak 2,97 juta ekor unggas baik ayam maupun itik sebagaimana disampaikan Han Jae-hong, perwakilan dari Kementerian Pertanian, Pangan dan Pedesaan Korsel.

 

Praktis hal tersebut tercatat sebagai wabah HPAI terburuk sepanjang sejarah Korsel, karena jumlah tersebut merupakan 15% dari total unggas yang ada di Korsel. Kasus AI terakhir pada 2014 tercatat pemerintah Korsel memusnahkan setidaknya 14 juta ekor unggas. Kementerian terkait pun kini menaikkan status krisis AI ke level tertinggi dalam sistem tingkat 4 di negeri ginseng tersebut.

 

Kementerian Pertanian RI segera bertindak cepat agar unggas dalam negeri tidak terkena dampak langsung dari wabah AI yang mulai merebak di berbagai negara. Badan Karantina Pertanian melakukan pembatasan importasi sejumlah produk asal hewan dari berbagai negara yang terjangkit AI.

 

Setidaknya ada tujuh negara yang dilarang pemasukan produk unggasnya ke Indonesia sesuai dengan surat nomor 12218/KR.110/K/11/2016  tentang instruksi pelarangan unggas dan produk unggas segar dari negara terjangkit wabah flu burung. Ada pun negara tersebut adalah Rumania, Belanda, Perancis, Finlandia dan India dengan serotipe virus H5N8, dan Jepang serta Swedia dengan serotipe H5.

 

Kajian Penyebaran AI

                Berbahayanya virus flu burung mendorong dilakukannya berbagai kajian oleh para peneliti seperti yang dilakukan Hendra Wibawa, Peneliti di Balai Besar Veteriner Wates. Hendra melakukan penelitian lebih dalam soal perkembangan virus AI terkhusus di Jawa barat.

 

Dalam pengamatannya tampak adanya perubahan clade virus AI dari waktu ke waktu. Ia menuturkan, virus AI yang kini banyak ditemui di lapangan adalah virus dengan H5N1 dengan clade 2.3.2.1c yang terdeteksi hanya di Indonesia, sementara ada tipe “a” hingga “e” lainnya ada di seluruh dunia. Jika merunut ke belakang, pada akhir 2012 virus AI clade 2.3.2 telah ditemukan di Indonesia dan awalnya menyerang itik saja, baru pada 2015 – 2016 terdeteksi serangan ke broiler (ayam pedaging) dan layer (ayam petelur).

 

“Kecenderungan kasus H5N1 HPAI di Indonesia yang menyerang unggas dan manusia sejak 2007 hingga 2016 adalah menurun,” kata dia. Hal ini dibuktikan dengan tercatatnya laporan kasus serangan H5N1 meningkat pesat pada 2008 ke 2009 dengan kenaikan 885 kasus, sementara setelah 2009 hingga 2016 angkanya terus menurun (lihat Grafik 1.). Pihaknya mencermati terjadinya anomali pada 2016 karena angka kasus tercatat mencapai 199 kasus padahal 2016 masih tahun berjalan.

 

Sepanjang pengamatannya di lapangan, ia membagi skala produksi perunggasan di Indonesia menjadi 4 sektor. Pertama, industri terintegrasi dengan level biosekuriti tinggi; kedua, integrator semi vertikal dengan level biosekuriti menengah; ketiga,peternakan unggas komersial kecil yang memiliki tingkat biosekuriti rendah. Keempat,peternakan belakang rumah atau tradisional yang juga memiliki level biosekuriti rendah atau tidak memiliki biosekuriti. Kasus HPAI banyak menyerang pada sektor 3 dan 4 yang kemudian menjadi fokus utama pengamatanHendra. Meskipun begitu ada beberapa kasus yang dilaporkan terjadi pada sektor 1 dan 2.

 

Menurut dia, tren menurunnya kasus HPAI sejak 2010 disinyalir akibat vaksin dalam negeri yang ada memiliki sensitivitas tinggi terhadap virus AI di lapangan. Ditambah lagi kolaborasi apik antara dinas dengan FAO (Organisasi Pangan Dunia) pada kurun 2007 – 2010 dalam menangani kasus HPAI yang ada di Indonesia turut berperan dalam menurunkan angka kemunculannya.

 

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 208/Januari 2017


   Artikel Lain    

    Garap Peluang Bisnis RPU

    Peternak Layer Tuntut Hak Budidaya

    VIV Asia 2017: Koneksikan Bisnis Peternakan Asia

    Efisiensi Kandang 3 Lantai

    Peternak Layer Lampung Tergerus


  • Pasokan Jagung Kuartal ke-2 Dikhawatirkan
  • Kelangkaan Jagung Terulang
  • Benih Lele Masih Kurang Pasokan
  • Menyiasati Margin Budidaya Lele
  •   Tambak Udang Skala Mini di Madura
  •   Siasat Bertahan Peternak Layer
  •   Berbagi Pengalaman Kendalikan WFD
  •   CJ Feed Resmikan Pabrik Pakan Berteknologi Modern

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved