Trobos Utama   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Minggu, 1 Januari 2017
Siasat Bertahan Peternak Layer

Siasat Bertahan Peternak Layer

Foto: trobos


Komoditas Lain
Unggas
Sapi Perah
Sapi Potong
Domba/ Kambing
Aneka Ternak
Hobi Livestock

Bisnis peternakan layer di 2016 berlangsung suram. Berbagai strategi dipersiapkan untuk menyelamatkan usaha peternak di tahun ini termasuk dengan rencana membuat platformbersama yang harus ditaati antara industri peternakan rakyat, mandiri, dan integrator

                                    

Telur merupakan sumber protein hewani bagi masyarakat yang harganya paling terjangkau, mudah didapat, dan mudah diolah. Berdasarkan angka dari para pelaku usaha, produksi telur secara nasional berada dikisaran 7.600 – 7.800 ton per hari.

 

Tetapi, untuk menghasilkan produk telur ini, bagi pelaku usahanya yaitu peternak layer (ayam petelur) harus berjuang menghadapi berbagai persoalan yang terus berulang dan tak kunjung usai. Diungkapkan Leopold Halim, tiga bulan terakhir menjelang pergantian tahun 2016, harga telur ditingkat peternak sangat jelek dibanding tahun-tahun sebelumnya. Harga telur berada dikisaran Rp 12 – 13 ribu per kg sementara HPP (Harga Pokok Produksi) ada dikisaran Rp 16 ribu per kg. “Ada beberapa kemungkinan yang mempengaruhi penurunan harga telur secara keseluruhan. Salah satunya adanya penambahan populasi layer yang berujung pada kenaikan produksi telur nasional,” kata peternak layer senior di Legok, Tangerang Banten ini.

 

Atung, begitu ia disapa menceritakan, dulu beternak ayam petelur tidak separah sekarang. Mungkin parahnya cuma dialami 3 bulan dalam setahun, sisanya aman. Tapi sekarang, parah bisa 4 bulan, seri 4 bulan, dan untung 4 bulan. “Intinya di 2016 banyak duka yang dialami peternak layer,” keluhnya.

 

Contoh konkret kejadian pada (21/12). Layer apkir dijual oleh salah satu perusahaan integrator dengan harga yang sangat miring Rp 15 ribu per kg. Padahal seharusnya layer apkir tersebut bisa dijual dengan harga Rp 40 ribu per ekor. Imbasnya, peternak pun hanya bisa menjual di harga Rp 19 ribu per kg. “Kalau harga ingin kembali seperti diawal, kami harus menunggu ayam apkir mereka habis dahulu, baru bisa menjual. Tapi masa apkir ayam kami akan lebih lama lagi,” tukasnya.

 

Sekretaris Jenderal Pinsar Indonesiaini khawatir meskipun peternak layer saat ini masih didominasi oleh peternak mandiri tetapi jika carut-marut peternakan layer seperti di 2016 terjadi lagi di tahun ini dan tidak segera diantisipasi maka ia menilai, 3 – 5 tahun lagi peternak rakyat atau mandiri nasibnya akan habis seperti yang terjadi pada peternak broiler (ayam pedaging) mandiri saat ini. “Di broiler yang benar-benar peternak rakyat atau mandiri hanya tinggal 20 % dan ditakutkan peternak layer akan seperti itu 3 – 5 tahun lagi. Meskipun banyak juga yang mengatakan bahwa usaha peternakan layer ini lebih sulit dibanding broiler, karena waktu pemeliharaannya yang panjang,” papar Atung.

 

Turut berkomentar, Untung Suprana peternak layer di Salatiga Jawa Tengah, malah mengibaratkan kondisi bisnis peternakan layer di 2016 seperti benda dilautan yang timbul tenggelam. Di sepanjang 2016, harga telur ditingkat peternak banyak jeleknya dan budaya masyarakat pada bulan-bulan tertentu cukup mempengaruhi karena setiap wilayah punya ciri khas tersendiri.

 

 

Pangkas Populasi

Kondisi yang kurang menguntungkan disepanjang 2016 membuat sebagian besar peternak layer memangkas populasi di peternakannya hingga 30 %. Bahkan tidak sedikit peternak menjual aset yang mereka punya, untuk dapat bertahan. Meski demikian, menurut pemilik Suprana Farm ini, jumlah peternak layer tidak mengalami penurunan. Di Jawa Tengah saja, sebagai sentra peternakan layer yakni Sukorejo, Temanggung dan sekitarnya, ada sekitar 2,5 juta ekor ayam, yang berasal dari 700 peternak dengan rata-rata kepemilikan 10.000 hingga 30.000 ekor.

 

Atung berkomentar, dengan berkurangnya populasi layer yang dilakukan para peternak diprediksi bisnis peternakan layer di tahun ini bisa lebih bagus dibanding tahun lalu. “Populasi di kandang-kandang sudah mulai dikurangi, peternak pasti sudah melakukan perbaikan sehingga diharapkan harga telur ditingkat peternak di tahun ini lebih baik,” katanya.

 

Dampak pengurangan populasi layer ditingkat peternak sudah menunjukkan tanda-tanda yang positif. Menurut Chasuna Solih, peternak layer di Klaten Jawa Tengah harga telur ditingkat peternak pada (20/12) sedang bagus-bagusnya. “Sebenarnya kisaran harga Rp 16 – 17 ribu per itu sudah nyaman, tapi sekarang di atas nyaman, harga sudah berkisar di Rp 20 ribu per kg. Kisaran harga jagung pun masih bagus, tidak begitu mahal tapi dua sisi terpenuhi, petani mendapatkan untung begitu puladengan peternak,” papar pria yang akrab disapa Una ini.

 

Di Kendal, peternak layer mandiri yang masih eksis sekitar 560 peternak.Jumlah ini dinilai stagnan, tidak ada penurunan maupun peningkatan. “Dulu pernah turun tapi tidak banyak, paling hanya 1 – 2 peternak. Patut disyukuri para peternak di Kendal sangatlah kompak. Meski kami peternak kecil, kami masih bisa duduk bareng dan menanggulangi masalah bersama,” akuSuwardi, peternak layer di daerah Kendal Jawa Tengah.

 

Ketua Pinsar Petelur Nasional (PPN) Kendal ini berpendapat, penurunan harga telur 3 bulan terakhir disebabkan persaingan yang tidak sehatakibat produksi telur dari peternak besar turut masuk ke pasar tradisional. “Regulasi pemerintah sangat penting terkait segmentasi pasar ini,” tuntutnya.

 

Pandangan berbeda disampaikan Yoseph Setiabudi, peternak layer kawakan yang memiliki farm berlokasi di Tangerang Banten. Melihat kondisi peternakan layer di 2016 yang memprihatinkan  akan berimbas di tahun ini. “Saya pesimis, bisnis layer di tahun ini akan suram,” duganya.

 

Ia menyarankan, agar peternak bisa tetap mempertahankan usahanya maka perbaikan manajemen secara berkesinambungan sangat penting. “Pemilihan kandang baik terbuka atau tertutup, penggunaan teknologi, dan SDM (Sumber Daya Manusia) yang tepat sangat menunjang keberhasilan usaha peternakan,” jelas Yoseph.

 

Sedangkan Musbar, Presiden Forum Peternak Layer Nasional (PLN) menganalisa, meski industri perunggasan nasional digunjang berbagai macam permasalahantetapi ia melihat jumlah peternak layer nasional tetap stabil, tidak terjadi penurunan yang signifikan. Namun untuk peternakan layer di Jabodetabek (Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi) khususnya yang terkena jalur pemekaran kota kemungkinan berkurang dengan salah satu faktor yang menarik yaitu adanya kompensasi yang lebih baik dibanding jika memelihara ayam. Sementara kalau lokasi peternakan dipindah pun tidak ada lagi yang bisa meneruskan usaha ini.          

 

Jika dipetakan, lanjut Musbar, hingga saat ini sentra peternakan layer nasional masih berada di Blitar, Jawa Timur, karena sentra produsen jagung juga ada di sana dan peternakan layer pasti mendekati sentra tanam jagung. Begitu pula yang terjadidi Lampung yang juga sebagai sentra produsen jagung membuat peternak layer dari Medan Sumatera Utara banyak yang pindah ke Lampung, tujuannya tak lain karena ingin dekat dengan sumber jagung sebagai bahan utama pakan.

 

Sementara untuk serapan telur, wilayah Banjar (Banten – Jawa Barat) menyumbang sekitar 50 % dari produksi nasional. Mengingat perkembangan industri di wilayah ini sangat pesat sehingga kebutuhan rumah tangga juga meningkat. “Telur sebagai makanan yang mudah didapat, dan bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan. Telur dapat dikonsumsi oleh siapapun, kapan pun, dan dengan apapun,” terang Musbar.  

 

                  

Tetap Tumbuh

Walaupun situasi di dalam negeri kurang menguntungkan bagi peternak layer tetapi jika merujuk pada data WATT Global Media, yang melansir Poultry Trend 2016 menyebutkan, produksi telur dunia terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2015, produksi telur dunia mencapai puncaknya sebanyak 70 juta metrik tonyang memposisikan China dan Amerika Serikat sebagai produsen paling top, terlepas dari kasus flu burung yang mendera peternakan ayam petelur di AmerikaSerikat. Pencapaian ini adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah atau setara dengan 1.338 miliar telur (Figure 1). Data itu menyebut, peningkatan produksi telur dunia antara 2000 – 2015mencapai 38,7 % atau rata-rata 2,2 % per tahun. Laporan pasar jangka pendek dari negara-negara penghasil utama telur juga menunjukkan sedikit peningkatan di 2016 karena harga pakan biji-bijian yang kurang stabil.

 

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 208/Januari 2017

 


   Artikel Lain    

    Kelangkaan Jagung Terulang

    Pasokan Jagung Kuartal ke-2 Dikhawatirkan

    Importasi Berbasis Zona Pasca Putusan MK

    Importasi dari Zona Based Dilanjutkan

    Ancaman Resistensi Antimikroba


  • Pasokan Jagung Kuartal ke-2 Dikhawatirkan
  • Kelangkaan Jagung Terulang
  • Benih Lele Masih Kurang Pasokan
  • Menyiasati Margin Budidaya Lele
  •   Tambak Udang Skala Mini di Madura
  •   Siasat Bertahan Peternak Layer
  •   Berbagi Pengalaman Kendalikan WFD
  •   CJ Feed Resmikan Pabrik Pakan Berteknologi Modern

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved