Trobos Utama   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Jumat, 1 September 2017
Lumbung Domba Tapal Kuda

Lumbung Domba Tapal Kuda

Foto: ramdan


Komoditas Lain
Unggas
Sapi Perah
Sapi Potong
Domba/ Kambing
Aneka Ternak
Hobi Livestock

Budaya beternak yang sudah ada masyarakat sejak lama menjadikan wilayah ini sebagai pemasok domba untuk wilayah Tengah dan Barat pulau Jawa

 

 

SETIAP 2 MALAM SEKALI, kurang lebih 100-150 ekor domba untuk bakalan berbagai jenis, diantaranya domba ekor gemuk, ekor tipis, persilangan merino, dombos (Texel Wonosobo) dan domas (Batur Banjarnegara) dikumpulkan pada 3 petak kandang berukuran 2x8 meter. Rutinitas tersebut dilakukan Ari Dwiyatno pengepul domba asal Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Jember Jawa Timur sejak April 2017.

 

Kegiatan itu dilakukan sebagai upaya untuk memenuhi permintaan yang melonjak sebesar 2.000 ekor per bulan untuk pasar wilayah Bandung, Jabodetabek (Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi), Cilacap, dan Jogjakarta. Padahal sebelumnya, ia hanya memasok sekitar 340 ekor per bulannya.

 

“Dengan permintaan pasar sekarang, domba bisa bertahan 1 malam saja di kandang penampungan. Kondisi ini, karena adanya permintaan rutin bulanan serta permintaan dari pedagang baru dan pelaku penggemukan domba untuk stok kurban,” ujar Ari. Selama ini, untuk pensuplai domba di bawah komando Ari berjumlah 13 orang yang berasal dari Lumajang, Banyuwangi, Jember, dan Bondowoso. Mereka mulai dari pedagang pangger (mengambil dari petani dan dibawa ke pasar), pedagang pasar, dan pengumpul.

 

Aktivitas yang sama dilakukan Hadi Purnomo, pengepul domba dan kambing yang berlokasi di Desa Panjen Jambewangi, Sempu, Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur yang mengumpulkan kurang lebih 200-250 ekor per bulan untuk mengirim domba atau kambing bakalan dan siap potong ke wilayah Jabodetabek. Ia mendapatkan domba dari mitra-mitra pemasok yang berjumlah 10 orang. “Kalau untuk pengiriman sesuai dengan permintaan misalnya di awal Agustus banyak sekali yang minta ukuran di atas 15 kg. Kalau sekali angkut bisa 50 – 70 ekor yang dalam satu bulan bisa 3-4 kali,” ungkapnya.

 

 

Pemasok Domba

Tapal Kuda adalah nama sebuah daerah di provinsi Jawa Timur, tepatnya di bagian timur provinsi tersebut. Dinamakan Tapal Kuda, karena bentuk kawasan tersebut dalam peta mirip dengan bentuk tapal kuda. Kawasan Tapal Kuda meliputi Pasuruan (bagian timur), Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi. Wilayah ini identik sebagai pensuplai domba untuk wilayah Jawa Tengah, Jogjakarta, Jakarta, dan Jawa Barat.

 

Dikemukakan Hadi, Tapal Kuda identik dengan pemasok domba, karena di kawasan ini banyak peternak domba. Contohnya, Banyuwangi sampai daerah pesisir banyak yang memelihara domba yang masing-masing peternak memelihara paling tidak sebanyak 5-10 ekor. Dari sekian banyak peternak, stoknya ada yang melimpah dengan beragam umur, sehingga periode muncul anakannya tidak bersamaan dan dipasarkan tidak dalam jumlah banyak. “Secara otomatis setiap bulan selalu tersedia dipasaran,” terangnya.

 

Ari pun berpendapat, Tapal Kuda dikenal sebagai daerah pemasok domba, karena masyarakat pedesaan di daerah ini mempunyai kultur sebagai peternak domba. Setiap rumah, di halaman belakangnya mempunyai kandang domba. Selain itu, di wilayah perkebunan pun pegawai lepas hariannya mempunyai domba. “Bagi mereka domba ini sebagai tabungan,”cetusnya.

 

Ditambahkan Ali Muhayat Syah, Manajer Produksi PT Agrogreat Indoberkah (AGI) perusahaan peternakan dan trading ternak yang berlokasi di Desa Sepuh, Kecamatan Gembol Wonomerto, Probolinggo, di wilayah Tapal Kuda mudah sekali untuk mendapatkan hewan ternak dengan harga rendah dan populasinya cukup banyak terutama domba. Mata pencaharian masyarakat di wilayah Tapal Kuda pun umumnya peternak dan petani.

 

Diakui Martinus Alexander, Ketua DPD HPDKI (Depan Pimpinan Daerah Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia) Jawa Timur, populasi domba dan kambing di Jawa Timur ini tersebar dibeberapa daerah. Tetapi, jika berbicara pemasok domba mayoritas di kawasan Tapal Kuda. Zaman orde baru, tepatnya di era Presiden Soeharto, banyak domba yang didatangkan dari luar negeri untuk dikembangbiakkan di kawasan Tapal Kuda, misalnya jenis domba texel dan merino.

 

“Kawasan Tapal Kuda hingga Malang itu dulunya sudah dikembangkan sebagai daerah peternakan domba oleh Soeharto. Segala jenis domba dan kambing ada di Jawa Timur karena topografinya mendukung dan kultur masyarakatnya beternak bukan sebagai orang perkebunan,” jelas pria yang akrab disapa Alex ini.

 

 

Alur Tata Niaga

Tata niaga domba dan kambing di Tapal Kuda memiliki alur yang dimulai dari peternak sebagai pelaku pengembangbiakkan, pedagang pangger, pedagang antar pasar, dan pengepul. Setelah dari pasar ternak, baru domba dikirim pengepul ke wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sebagai gambaran, selama ini yang dilakukan pedagang pangger di Berkah Bersama Farm milik Ari setiap pagi sudah ditransfer uang untuk membayar tunai ke petani. Mereka membeli domba atau kambing dengan model jogrogan, sedangkan pedagang pangger menjualnya dalam hitungan kilogram dengan mendapat keuntungan Rp 1.000 per kilogram. “Biasanya pedagang pangger minimal bisa menyetor 2-3 ekor domba per hari, sedangkan pedagang pasar minimal satu mobil pick up. “Diharapkan dengan model yang dilakukan ini, petani mendapat uang secara tunai,” ungkap Ari.

 

Di wilayah Jember, setiap hari selalu ada pasar ternak. Setiap pasar ternak memiliki karakteristik sendiri, contohnya pasar Glenmore, Banyuwangi (sebelum Kalibaru) biasanya dombanya dari peternak yang berlokasi di pegunungan. Pedagang pasar hanya memperoleh keuntungan Rp 20 – 25 ribu per ekor dan jumlah domba yang bisa dibawa hanya 2- 3 ekor karena membawanya menggunakan motor.

 

Sebagai penampung yang membeli langsung dari peternak PT AGI langsung menjualnya ke wilayah Tengah dan Barat Pulau Jawa, sehingga harga yang didapat peternak lebih besar dibandingkan jika dijual ke pengumpul lain. “Tata niaga yang kami lakukan tidak terlalu panjang, dari peternak ke kami dan langsung ke konsumen,” jelas Ali. Hanya kendala yang dialami peternak adalah sulit mengakses pasar. Kalau untuk memelihara hewan ternak, mereka mempunyai kemampuan yang cukup.

 

Menurut Yudi Guntara Noor, Ketua Umum HPDKI, mekanisme pasokan domba saat ini, peternak oleh peternak bakalan lalu domba atau kambing disuplai ke klaster penggemukan dan hasil produksinya dikirim ke wilayah Jabodetabek untuk daging konsumsi, hewan kurban, atau akikah. “Posisi peternak, ada yang langsung menjadi binaan pengumpul dan ada juga yang menggunakan pasar hewan. Tetapi kalau dari kluster penggemukan alur pemasarannya langsung pasar konsumen, tidak menggunakan pasar hewan,” urainya.

 

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 216/September 2017


   Artikel Lain    

    Daya Pikat Kandang Modern

    Peluang Pasar Produsen Alat Kandang

    Menatap Bisnis Broiler 2018

    Kebijakan yang Komprehensif Dinanti

    Obsesi Membuntingkan 3 Juta Sapi


  • Peluang Pasar Produsen Alat Kandang
  • Daya Pikat Kandang Modern
  • Supaya KJA Berkelanjutan
  • Kelayakan KJA di Perairan Umum
  •   Dr. drh. Surya Agus Prihatno, MP: Koreksi untuk Upsus Siwab
  •   Menatap Bisnis Broiler 2018
  •   Plus Minus Autofeeder Udang
  •   Pakan Otomatis Genjot Pertumbuhan Udang

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved