Primadona   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Minggu, 15 Oktober 2017
Mengembangkan Rumput Laut yang Kompetitif

Mengembangkan Rumput Laut yang Kompetitif

Foto: trobos
Penjemuran rumput laut

Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Jangan takut dengan China yang harganya murah, kualitas harus dijaga karena Eropa masih banyak menggunakan rumput laut Indonesia karena alasan kualitas

 

 

Industri rumput laut di Indonesia, secara umum bisa dipisahkan sektor dengan tantangan dan solusi yang berbeda. Jenis rumput laut Gracilaria untuk industri agar-agar dan Euchema cotonii untuk industri karaginan. Semakin berkembang UMKM yang mulai banyak menggunakan atau mengolah rumput laut menjadi makanan dan minuman.

 

Seperti dijelaskan, Sudari Pawiro, National Chief Technical Advisor, SMART-Fish Indonesia, secara umum industri rumput laut dengan produk agar-agar yang berbasis bahan baku Gracilaria lebih baik kondisinya dibanding dengan industri karagenan yang berbasis bahan baku Euchema. Rumput laut Gracilaria sebagian besar, hampir 80% bahan baku, diolah di dalam negeri dan hasilnya (agar-agar) sebagian besar juga dipasarkan di dalam negeri.

 

Sebaliknya untuk Euchema sebagian besar bahan baku diekspor (diperkirakan juga sekitar 80%). Sisanya diolah industri dalam negeri yang produk akhirnya, sebagian besar berupa Semi Refined Carrageenan (SRC) juga diekspor, terutama kepasar Eropa.

 

 

Persaingan Ketat

Dengan struktur yang demikian, lanjut Sudari, industri karaginan lebih labil dan sangat rentan terhadap perubahan harga bahan baku yang naik turun secara tajam (saat ini mencapai Rp 14.000/Kg dari 8.000/Kg awal tahun ini). “Kondisi ini dipengaruhi ketersediaan bahan baku yang tidak konsisten karena importir dari China sering memborong bahan baku secara membabibuta kalau lagi butuh banyak,” ungkap Sudari kepada Trobos Aqua.

 

Disamping itu, kata Sudari, produk karaginan sudah menjadi komoditi dengan harga yang dikontrol oleh dan sulit bersaing dengan China (meskipun bahan baku mereka dari Indonesia). Permintaan karaginan di AS (Amerika serikat) dan Eropa juga cenderung mendatar karena adanya berbagai produk substitusi yang lebih murah.

 

Di pasar AS, ungkapnya, produk karaginan kini sudah terancam karena dikeluarkannya karaginan sebagai bahan organik (istilahnya delisting dari bahan-bahan organik). “Beberapa produk makanan dari susu di AS sudah ada yang mencantumkan “carrageenan free” dalam labelnya,” ujar Sudari.

 

Di tingkat industri pengolahan, masih kata Sudari, disamping menghadapi masalah-masalah seperti disebut, secaraumum industri rumput laut nasional memang tidak efisien dan biaya produksi juga lebih tinggi. Menurut sumber-sumber dari industri untuk memproduksi 1 Kg SRC dibutuhkan biaya sekitar 4-5 dolar Amerika. Sedangkan produsen China bisa menjual dengan yang harga sama sampai di tempat/tujuan.

 

Tentu saja faktor ekonomi makro Indonesia juga sangat berpengaruh. Sudari mencontohkan biaya energi (listrik, gas) yang lebih tinggi, logistik (seperti transportasi) yang lebih mahal dan bunga bank yang lebih tinggi dibanding China juga menjadi penyebab utama dari ketidakmampuan industri rumput laut kita bersaing.

 

Ketat persaingan global industri juga digambarkan oleh Pakar rumput laut Prof Jana Anggadiredja. Menurut Jana dari sisi indutri pengolahan rumput laut, negara tetangga yaitu Filipina industri hilirnya masih lebih kuat dari Indonesia. “Tapi kalau di hulu kita masih bisa bersaing dengan mereka. Bahkan dari budidaya pun sudah bisa bersaing,” kata Jana.

 

Dulu, kata Jana, selalu bilang kualitas rumput lalu Indonesia jelek, tapi kalau pembudidaya menggunakan budidaya yang benar Indonesia sebenarnnya tidak kalah. Lalu ada persaingan dengan China. Harga produk olahan rumput laut dari China bisa murah, karena mereka kalau impor bahan baku punya keringanan.

 

Harga bahan baku mereka dari kita, mestinya sama harganya, tapi harga kenapa mereka malah bisa menjadi lebih murah? Karena satu contoh biaya transportasi dari Makassar ke Shanghai lebih murah dibandingkan dari Jakarta ke Surabaya. Harga beli sama, China kalau butuh bahan baku harganya dinaikan karena dia punya keringanan dari pajak impor biayanya dihilangkan, sehingga biaya transportasinya lebih rendah.

 

Jadi, lanjut Jana, sampai saat ini bahan baku rumput laut untuk jenis Euchema masih bersaing dengan China, padahal bahan bakunya sama dari Indonesia. Lalu dari sisi sumber daya manusia mereka juga lebih efisien. Kalau pekerjaan pengolahan di Indonesia dikerjakan 5 orang, mereka 2 sampai 3 orang sudah bisa. “Dulu persaingan rumput laut sering disebut China faktor dan Filipina faktor, tapi Filipina kini tidak terlalu mencolok. Karena kompetitor besar kita sekarang China,” ungkap Jana.

 

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-65/15 Oktober – 14 November 2017


   Artikel Lain    

    Jaga Kualitas Air, Redam Penyakit

    Sekelumit Tantangan Perudangan Nasional

    Tambak Udang Pantura Masih Bernyawa

    Peran Sentral Laboratorium Tambak Udang

    Pantai Barat Sumatera Tak Luput Penyakit


  • Kebijakan yang Komprehensif Dinanti
  • Menatap Bisnis Broiler 2018
  • Permainan Dagang Tekan Harga Nener
  • Angkat Pamor Bandeng Skala Industri
  •   Jambore Peternakan Nasional 2017
  •   Dr. drh. Surya Agus Prihatno, MP: Koreksi untuk Upsus Siwab
  •   Plus Minus Autofeeder Udang
  •   Klasterisasi Domba dan Kambing

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved