Gelombang   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Minggu, 15 Oktober 2017
Riuh Rendah Pelabuhan Perikanan Malang

Riuh Rendah Pelabuhan Perikanan Malang

Foto: dini


Komoditas Lain
Udang
Air Tawar
Air Laut
Air Payau
Ragam Akua
Hobi Akua

Terletak di sebelah selatan Kabupaten Malang, mengintip komoditas ekspor tuna dan cakalang yang didaratkan dari selatan Jawa

 

 

Teriknya hari tak menyurutkan lalu lalang manusia yang keluar masuk Unit Pengelola Pelabuhan Perikanan Pantai (UP4) Pondok Dadap, Sendang Biru Kabupaten Malang - Jawa Timur. Setidaknya, pelabuhan ini bisa menampung operasi lebih dari 1.500 unit kapal dengan komoditas tangkapan paling banyak adalah ikan cakalang. 

 

Dirunut dari situs Pusat Informasi Pelabuhan Perikanan (PIPP), tercatat September lalu, lebih dari 200 unit kapal mendaratkan hasil tangkapan mereka di pelabuhan. Dengan 9 unit kapal ukuran 5 -10 Gross Ton (GT), 229 unit kapal ukuran 10 - 20 GT, dan 9 unit kapal ukuran 20 - 30 GT.

 

Tampak berlalu lalang mobil boks pendingin menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) ataupun pergi dari sana. Mihrom, tenaga pengawasan UP4 Pondok Dadap menyebut, mobil boks tersebut biasanya akan mengangkut tuna ataupun cakalang ke daerah Kota Malang, Sidoarjo dan sekitarnya. “Dan khususnya komoditas tuna, akan diekspor,” ungkapnya.   

 

Dia pun mengajak TROBOS Aqua singgah ke warung makan di dekat pelabuhan. Sambil menikmati segelas es jeruk dan lauk dengan menu yang pastinya berbau ikan, Trobos Aqua pun mengobrol dengan Mihrom tentang aktivitas perikanan di pelabuhan yang sudah dibangun sejak 1987 ini.

 

Walaupun terbilang kecil, pelabuhan ini mampu menampung aktivitas perikanan dengan pendaratan ikan ekonomis penting layaknya tuna dan cakalang. Hal ini, terang Mihrom, karena secara geografis perairan selatan Jawa ini merupakan daerah migrasi ikan tuna dan cakalang.

 

 

Aktivitas Pelelangan

Kegiatan di TPI biasanya sudah dilakukan sejak pagi. “Karena pelelangan sudah dilakukan sejak pagi-pagi sekali, ada yang dari jam 5 pagi. Siang hari biasanya tinggal distribusinya ke tujuan masing-masing sesuai si pengusaha perikanan,” tambah Mihrom sembari mengajak untuk menyaksikan kegiatan pelelangan esok harinya.

 

Terdapat satu unit pelelangan yang baru dikembangkan beberapa tahun ini. Serta unit pelelangan ikan terdahulu masih tetap beroperasi untuk kapal-kapal kecil seperti sekoci dan jukung. Dan esoknya, ketika waktu baru menunjukkan pukul 6.30 pagi, sisi pesisir selatan Kabupaten Malang ini sudah tampak ramai dan bising. Menyisir sisi darmaga, TROBOS Aqua didampingi oleh Mihrom menyempatkan diri menyaksikan langsung pendaratan hasil perikanan komoditas cakalang oleh kapal pancing tonda.

 

Mihrom kemudian menyebut, cakalang menjadi salah satu komoditas andalan yang didaratkan di pelabuhan yang menghadap langsung ke Pulau Cepu ini. Selain cakalang, juga terdapat komoditas ikan lainnya, seperti tuna madidihang, tongkol, dan layang. Khususnya, kapal pancing tonda komoditas cakalang, beroperasi hingga ke lintang 11 - 12 yang berjarak di atas 170 mil hingga 250 mil laut yang bisa menghabiskan waktu lebih dari 10 hari sekali trip. “Di sana biasanya kapal akan menangkap ikan dengan bantuan rumpon,” ujarnya.

 

Kapal yang dioperasikan 90 %-nya adalah pancing tonda, dengan selebihnya adalah kapal dengan alat tangkap seperti jaring cincin (purse seine), pancing sekoci, serta jukung. Dan mendukung kegiatan masing-masing, tambah Mihrom, sudah ada kelompok untuk tiap alat tangkap kapal.

 

 

Potensi Cakalang

Potensi cakalang begitu besar di daerah ini, selain karena peminat dari sisi konsumen yang cukup besar, harganya pun cukup ekonomis. Tercatat dari situs PIPP, harga cakalang per Oktober ini di kisaran Rp 17 ribu per kg, sedangkan komoditas lain seperti tongkol berkisar Rp 15 ribu per kg. Dari segi produksi harian, tongkol dan cakalang menjadi komoditas terbanyak. Yakni volume tongkol yang ditransaksikan di kisaran 250 kg dan cakalang 200 kg per 10 Oktober lalu.

 

“Sehingga, banyak nelayan yang berlabuh ke sini dan mendaratkan ikan-ikannya di sini. Bahkan, banyak nelayan pendatang yang beroperasi di sini. Yakni sekitar 80 % nelayan merupakan nelayan luar daerah, seperti Bugis dan Madura,” ucapnya.

 

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-65/15 Oktober – 14 November 2017


   Artikel Lain    

    Pembenihan Cantang Kian Berkembang

    Bangkitkan Marikultur Kepulauan Seribu

    Pengalihan Cantrang Terbentur Modal

    Tenaga Kerja Industri Pengolahan Tersertifikasi

    Patok Standar Protein Pakan Ikan


  • Kebijakan yang Komprehensif Dinanti
  • Menatap Bisnis Broiler 2018
  • Permainan Dagang Tekan Harga Nener
  • Angkat Pamor Bandeng Skala Industri
  •   Jambore Peternakan Nasional 2017
  •   Dr. drh. Surya Agus Prihatno, MP: Koreksi untuk Upsus Siwab
  •   Plus Minus Autofeeder Udang
  •   Klasterisasi Domba dan Kambing

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved