Trobos Utama   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Jumat, 1 Desember 2017
Kebijakan yang Komprehensif Dinanti

Kebijakan yang Komprehensif Dinanti

Foto: trobos


Komoditas Lain
Unggas
Sapi Perah
Sapi Potong
Domba/ Kambing
Aneka Ternak
Hobi Livestock

Pemerintah diharapkan dapat bertindak adil agar tetap terpelihara persatuan dan kerjasama yang harmonis antarstakeholder perunggasan

 

 

Selama 2017, pelaku industri perunggasan nasional terutama broiler (ayam pedaging) mengalami kondisi yang tidak kondusif. Suasana kebatinan industri perunggasan sedang risau oleh kebijakan pemerintah, diantaranya mengikuti ketentuan pemerintah dengan apkir dini tetapi diperkarakan dan di hukum. Lalu, kebijakan bahan baku jagung dimana pelaku usaha peternakan harus membeli jagung dengan harga yang tidak kompetitif.

 

Anton Supit, Ketua Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) Bidang Pertanian mengemukakan, dalam menentukan kebijakan, seharusnya pemerintah harus mengetahui efeknya. “Jangan sampai menolong A, tetapi B yang menderita dan tidak bisa terus menerus seperti itu. Seharusnya dua-duanya bisa hidup mendapatkan keuntungan,” tandasnya.

 

Sekretaris Jenderal GOPAN (Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional), Sugeng Wahyudi berkomentar, pemerintah harus konsisten dengan peraturan yang telah dikeluarkan, seperti adanya Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 61 Tahun 2016 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras yang mewajibkan mempunyai RPA (Rumah Potong Ayam) bagi pelaku usaha yang sudah layak. “Tanpa konsistensi kebijakan tersebut, peternak rakyat tidak akan tumbuh. Dengan keberadaan RPA membuat segmentasi pasar terbentuk. Semua hasil komoditas ayam tidak dipasarkan di pasar-pasar tradisional tetapi ada perluasan pasar,” paparnya.

 

Duta Besar Republik Indonesia untuk WTO periode 2008-2012, Erwidodo menyoroti kebijakan pemangkasan DOC (ayam umur sehari) akibat over supply (kelebihan pasokan). Ia mempertanyakan pada saat over supply mengapa instrumen yang dipakai adalah pemangkasan, kenapa tidak dicari jalan keluar yang lain ? “Over supply merupakan ciri efisien, kalau over supply yang biayanya mahal berarti karena proteksi,” ujarnya.

 

Pengurangan populasi boleh saja untuk solusi dalam waktu dekat, tetapi jangan dijadikan instrumen. “Ibaratnya orang mau tumbuh, tetapi dipasung untuk tidak boleh tumbuh. Seharusnya biarkan saja tumbuh, dengan dicarikan pasarnya,” kata Erwidodo.

 

Maka promosi ekspor harus menjadi instrumen, sehingga pangsa pasarnya tidak hanya domestik. Ini menjadi tantangan bagi seluruh stakeholder perunggasan nasional. “Kalau keadaannya seperti sekarang ini bisa membuat investor asing begitu masuk Indonesia mempunyai orientasi pasar domestik. Begitu mereka tidak bisa bersaing, dan adanya kebijakan baru, investor tersebut akan hengkang ke negara lain, padahal harusnya tidak seperti itu,” urai Erwidodo.

 

 

Ketersediaan & Harga Jagung

Agar industri perunggasan nasional bisa efisien, harga pakan harus kompetitif yang berarti bahan bakunya juga harus kompetitif, jangan sampai karena kebijakan harganya menjadi lebih mahal. “Jika ada niat menolong petani, kita setuju. Tetapi tidak dengan mematok harga melainkan meningkatkan produktivitas. Walaupun seperti komoditas kedelai yang tidak bisa diproduksi dalam negeri,” kilah Anton.

 

Ketua Gappi (Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia) ini menambahkan, keuntungan Indonesia adalah mempunyai jagung, namun mengapa membeli jagung di Indonesia lebih mahal dibandingkan di Malaysia yang notabene impor ? Malaysia membeli jagung impor Rp 3.000 per kg, sementara di Indonesia harga jagung lokal Rp 3.900 – 4.200 per kg. “Bagaimana bisa bersaing secara alamiah, kalau bahan baku jauh lebih mahal ?,” tanyanya.

 

Anton meminta otoritas pengambil kebijakan harus punya pandangan yang komprehensif. Jika ingin menolong sekelompok petani, ada cara lain yang lebih elegan dan efektif dengan meningkatkan produktivitas dan pasca panen. “Kalau kebijakannya dari harga, berarti ada orang lain yang harus memikul ketidakefisienan tersebut. Kita mendukung swasembada jagung dan peningkatan kesejahteraan petani tetapi kita harus memilih cara yang efektif agar hasil maksimal dengan tidak mengorbankan kepentingan orang lain, dalam hal ini peternak. Semuanya harus win-win solution,” tuntutnya.

 

Ketua GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak), Tevi Melviana turut berpendapat, keberadaan jagung sebagai bahan baku dalam formulasi pakan sangat penting karena mengambil porsi sekitar 50 %. Selain itu, bahan baku lainnya masih dihantui PPN (Pajak Pertambahan Nilai) dan pabrik pakan masih terutang sekitar Rp 4 triliun akibat PPN ini. “Kami berharap kepada pemerintah, agar ada kebijakan supaya harga bahan baku pakan tidak terlalu mahal terutama jagung lokal. Harapannya harga bahan baku menjadi turun dan akan dinikmati oleh peternak. Sekarang pangsa pasar pakan menurun akibat peternak banyak yang gulung tikar yang mengakibatkan seolah – olah produksi pakan over supply (berlebih),” paparnya.

 

Tevi pun tidak sepakat jika mengimpor jagung secara bebas dan membuat petani jagung lokal terpuruk. Ia sangat setuju untuk swasembada jagung sehingga harga jagung lokal bisa tidak berbeda jauh dengan harga jagung impor. “Agar harga jagung kompetitif biaya petani harus efisien juga. Seharusnya harga jagung lokal yang mempunyai kualitas untuk pabrik pakan dengan kadar air 15 % tidak berbeda jauh dengan harga jagung impor, selisihnya kalau bisa hanya mencapai Rp 500 per kg,” tuturnya.

 

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Livestock Edisi 219/Desember 2017


   Artikel Lain    

    Putusan WTO : Momentum untuk Bersinergi

    Investasi di Komoditas Sapi

    Upaya Daerah Menggaet Investasi

    Pajak di Bisnis Peternakan

    Masih Dianggap Menyeramkan


  • Putusan WTO : Momentum untuk Bersinergi
  • Upaya Daerah Menggaet Investasi
  • Kelola Pakan Tambak Mapan
  • Kualitas Air Udang Butuh Seimbang
  •   Waspada IBH
  • Novindo : Lowongan Pekerjaan Aquaculture Specialist
  •   Investasi di Komoditas Sapi
  •   ISPI Sesalkan Kasus Video Sapi Ditarik Mobil

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved