Moment Update   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Kamis, 7 Desember 2017
Mengkaji Kandang Ayam Modern

Mengkaji Kandang Ayam Modern

Foto: 


Jakarta (TROBOS.COM). Kandang closed house dipakai di peternakan broiler (ayam pedaging) untuk memberikan iklim yang cocok untuk ayam, menambah kepadatan ayam dan mengejar performans. Closed house (kandang tertutup) di Indonesia awalnya hanya untuk breeding farm.

“Memakai closed house kita bisa menyediakan kondisi lingkungan untuk ayam bisa hidup nyaman dan optimal sehingga bisa meningkatkan produksi yang maksimal dengan biaya yang efisien. Namun dari segi biaya, investasi kandang awalnya memang mahal,” papar Ohid Toha, praktisi di peternakan broiler yang lama bergelut di closed house dalam diskusi online di Komunitas WAG (Whatsapp Grup) yang beranggotakan para praktisi, peneliti, akademisi, dan birokrat peternakan pada (6/12).

Fungsi closed housebisa optimal, Ohid menerangkan, dengan cara mengatur sistem ventilasi kandang supaya sesuai dengan masa pertumbuhan ayam yang dipelihara. Kesesuaian antara inlet dengan outlet adalah konsep paling penting dalam ventilasi dan manajemen closed House.

“Inlet dan outlet adalah prinsip dasar closed house. Harus ada aliran udara yang seimbang antara inlet dan outlet dengan parameter kecepatan angin yang disesuaikan dengan periode pemerliharaan ayam. Kecepatan ditentukan oleh bukaan inlet dan jumlah kipas yang dihidupkan,” papar Ohid.

Diskusi yang diprakarsai Toni Komara dan dimoderatori Tiwi ini juga menghadirkan Edi Hidayat, perwakilan PT Big Dutchman Agriculture Indonesia – perusahaan penyedia peralatan closed house. Dia mengatakan faktor penentu dalam mendesain sebuah closed housea dalah dimensi kandang, populasi, sistem yang digunakan, dan jenis ayam yang dipelihara apakah breeder (bibit), broiler, atau layer (ayam petelur).

“Di Indonesia closed housebaik untuk breeder, broiler, atau layer lebih banyak yang menggunakan sistem ventilasi tunnel,” ujarnya.

Edi menekankan, kelemahan tunnel adalah menimbulkan chill effect sehingga harus hati-hati dalam mengatur ventilasi. “Sebenarnya, sistem ventilasi yang paling ideal adalah combi tunnel karena kita dapat meminimalisir chill effect terutama pada ayam kecil,” jelasnya.

Edi juga menerangkan karakter ventilasi sistem positive pressure dan negative pressure. Positive pressure adalah mendorong udara segar masuk ke dalam area ayam dengan mekanisme tertentu, biasa dipakai pada kandang SPF yang telur fertilnya digunakan untuk bahan baku vaksin. Aliran udara positive pressure berasal dari dorongan kipas, sistem ini lebih mahal karena menggunakan filter khusus.

Prinsip negative pressure adalah menarik udara segar dari luar dan mengeluarkan udara kotor dari dalam kandang. Kelebihan negative pressure adalah lebih rata air flow-nya sehingga tiap area bisa mendapatkan kecepatan yang hampir sama. Adapun kipas yang digunakan adalah jenis exhaust fan. Jumlahnya tergantung dari dimensi kandang dan kapasitasnya.

“Negative pressure ini paling banyak digunakan di breeder, broiler, maupun layer komersial,” kata Edi.

Closed House Modifikasi
Diskusi semakin dinamis dengan kehadiran Sandy Slamet Nugraha dan Ibrahim Nuim Hayat, peternak yang menggunakan closed house modifikasi untuk ayam peliharaannya. Sandy menyampaikan, closed house menjadi solusi era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang menuntut bisnis ayam pedaging bersaing ketat pada kualitas produksi dan efisiensi biaya.

Closed house menyediakan kondisi lingkungan yang optimal berupa suhu yang nyaman bagi ayam tercapai, udara yang tersedia lebih baik, meminimalkan stres (ayam lebih tenang, segar,dan nyaman), serta meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ayam.

“Keuntungan tambahan pada closed house modifikasi adalah efisiensi  lahan dan mengurangi jumlah tenaga kerja. Untuk closed house modifikasi ini mengacu pada lahan peternak kecil dengan populasi di kisaran 4.000– 20.000 ekor serta menggunakan sistem tunnel ventilation,” terang Sandy. Efisiensi lahan yang dia maksud adalah kapabilitas closed house untuk menambah populasi tanpa mendirikan bangunan baru.

Nuim menambahkan, kunci keberhasilan sistem closed house adalah di pengaturan sistem ventilasi kandang agar tercipta kesesuaian dengan masa pertumbuhan melalui pengaturan inlet dan outlet pada ventilasi kandang.

Adapun faktor penentu dalam mendesain closed house adalah dimensi kandang, populasi, sistem ventilasi yang digunakan(tunnel ventilation, double tunnel, atau combi tunnel), serta jenis ayam yang dipelihara (breeder, broiler, atau layer).

Ohid ikut berkomentar, closed house modifikasi bisa dikatakan closed house modifikasi tanpa cooling pad. Keunggulannya, konstruksi kandangdan perizinan sudah ada serta manajemen awal sudah paham. Kelemahannya, alat yang akan dipasang harus menyesuaikan dimensi bangunan yang telah ada, konstruksi harus dihitung ulang (karena perlu penguatan).

Absennya cooling pad dari closed house modifikasi ini, menjadikan ayam besar rawan mengalami stres panas dan tingginya angka kematian. Kandang modifikasi di daerah panas membutuhkan kehati-hatian pengaturan.

Membangun full closed house, lanjut Ohid, memiliki banyak keunggulan, yaitu desain dan peralatan bisa menggunakan paket komplit yang disediakan vendor. Kecepatan udara bisa diatur lebih optimal karena ada cooling pad.

Kelemahan full closed house, Ohid menegaskan, adalah pada tingginya investasi awal, dan lokasi harus cocok dengan peruntukan dan perizinannya. Karyawan pun perlu belajar lagi untuk mengoperasikan sistemnya.

“Investasi closed hous emodifikasi sekitar Rp 21.000,- per ekor, sedangkan full closed house sekitar Rp 55.000 per ekor. Biaya investasi ini tergantung tergantung juga dengan faktor bermitra atau mandiri, konstruksi yang dipilih, dan sistem yang digunakan. Investasi full closed house ini pada kondisi normal akan kembali dalam 3 – 4 tahun atau paling cepat 20 periode,” hitungnya.

Bagi Ohid, closed house telah terbukti menghasilkan performans lebih baik. “Yang harus dipikirkan adalah akhir dari panen ayam supaya nilai jual lebih. Panen ayam di closed house dalam setahun bisa 7-8 periode tergantung target pasar atau ukuran panen,” kata Ohid. Peternak closed house, menurut dia, selayaknya juga mulai memikirkan cold storage dan food processing. yopi, tiwi


   Artikel Lain    

•    Percontohan Pembenihan Ikan Sistem Resirkulasi

•    Mengenal Inovasi Aerasi Microbubble Technology

•    Susi Ancam Usut Pejabat Terlibat Pemalsuan Dokumen Kapal

•    Nelayan Bengkulu Menolak Trawl

•    Luwu Utara Siapkan Ranch 250 ha untuk Sapi Potong


  • Masih Dianggap Menyeramkan
  • Pajak di Bisnis Peternakan
  • Menjamur tapi Tetap Terukur
  • Mencicipi Bisnis Udang Skala Mini
  •   Dr. drh. Surya Agus Prihatno, MP: Koreksi untuk Upsus Siwab
  •   Menatap Bisnis Broiler 2018
  •   Waspada IBH
  •   Ikut Jargon “Bijak dengan Antibiotik”

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright © 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved