Kolom   
  Livestock Update +       Moment Update +       Aqua Update +  




Kamis, 1 Maret 2018
Arief Daryanto: Daya Tarik Siska

Arief Daryanto: Daya Tarik Siska

Foto: trobos
Arief Daryanto

Komoditas Lain
Unggas
Sapi Perah
Sapi Potong
Domba/ Kambing
Aneka Ternak
Hobi Livestock

Daging sapi merupakan produk pangan yang memiliki prospek pasar yang sangat baik. Dari sisi permintaan terhadap daging sapi dan produk olahannya ke depan selalu meningkat secara substansial. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu pertama, pertumbuhan penduduk, pertumbuhan pendapatan, semakin banyaknya penduduk kelas menengah, urbanisasi, perubahan gaya hidup, harapan hidup semakin besar, dan penduduk usia tua.


Kedua, peningkatan daya beli mengubah preferensi konsumen dari makanan yang berbasis karbohidrat ke yang berbasis protein hewan. Ketiga, permintaan terhadap makanan berbasis daging sapi yang siap masak (ready to cook) dan siap santap (ready to eat) semakin meningkat, terutama di perkotaan. Keempat, semakin banyaknya QSR (Quick Service Restaurant) yang menawarkan beragam produk olahan daging sapi. Kelima, semakin banyaknya pasar modern yang dilengkapi dengan sistem pemasaran rantai dingin (cold chain marketing system). Keenam, daging dan produk daging sapi memiliki peran yang semakin penting sebagai penyedia protein hewani.


Sayangnya kenaikan permintaan daging tersebut tidak diiringi dengan kenaikan pasokan daging dalam negeri yang sepadan. Persediaan populasi ternak Indonesia tetap stabil antara 12 sampai 15 juta ekor selama bertahun-tahun, meskipun ada upaya dari pemerintah untuk mempromosikan industri ini. Kebijakan terbaru yang terkait dengan Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) memiliki dampak yang terbatas pada kenaikan pasokan lokal. Permintaan yang meningkat dengan pasokan yang stagnan merupakan salah satu alasan utama mengapa Indonesia tidak pernah mencapai target swasembada yang ditetapkan. Pasokan sapi lokal yang stagnan juga menyebabkan harga daging sapi tetap tinggi. Harga daging sapi yang tinggi juga dapat menyebabkan pemotongan sapi betina yang kemudian berakibat pada pengurangan pasokan lokal.


Tantangan yang dihadapi dalam menyelesaikan persoalan keterbatasan suplai (supply constraints) adalah karena ketidakefisienan budidaya ternak sapi mengingat kecilnya skala usaha, keterbatasan ketersediaan lahan, produktivitas ternak rendah, dan kelangkaan pakan di daerah tertentu yang tidak memiliki sumber daya padang rumput yang luas.

 


Potensi & Implementasi Siska
Perkebunan kelapa sawit, yang mencakup sekitar 11 juta hektar di Indonesia, merupakan sumber lahan yang kurang dimanfaatkan. Perkebunan kelapa sawit disamping hasil utamanya adalah crude palm oil (CPO), banyak juga menghasilkan produk samping yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak sapi seperti pelepah sawit (oil palm frond), lumpur sawit (palm oil sludge), serabut mesocarp (palm press fibre), bungkil inti sawit (palm kernel meat), dan hijauan antar tanaman (HAT) sawit.Pengembangan sistem integrasi sapi-kelapa sawit (Siska) diharapkan dapat memberikan manfaat langsung maupun tidak langsung terhadap kesejahteraan pekebun sawit yang sekaligus sebagai peternak sapi. Man

 

faat tersebut diantaranya dapat berupa tambahan penghasilan dari penjualan hasil produksi ternak sapi, pupuk kandang untuk bahan perbaikan kesuburan lahan dan dapat mendorong berlangsungnya usaha tani dan usaha ternak secara berkelanjutan. Pupuk kandang dari kotoran sapi dapat dimanfaatkan untuk perbaikan lingkungan tumbuh kelapa sawit sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik. Penggunaan pupuk kandang dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia sehingga biaya produksi dapat lebih ditekan.

 

Banyak kajian yang merekomendasikan bahwa model inovasi Siska memiliki potensi yang baik untuk diterapkan. Namun sayangnya, saat ini tingkat adopsi inovasi Siska masih sangat rendah dengan alasan (a) Kurangnya kesadaran akan potensi sistem terpadu; (b) Perlawanan oleh sektor perkebunan yang berorientasi pada tanaman; (c) Penerapan teknologi yang tidak memadai; (d) Harga minyak kelapa sawit yang tinggi; (e) Iklim investasi yang tidak menarik; (f) Kerjasama antar para pemangku kepentingan (stakeholder) yang lemah; (g) Tidak adanya kebijakan untuk mendorong terlaksananya sistem yang terintegrasi; (h) Keterbatasan modal; (i) Relatif rendahnya mutu genetik ternak sapi rakyat; (j) Rendahnya mutu gizi pakan alami, dan (k) Belum adanya investor (pengusaha) yang berorientasi kemitraan.
 

 

Strategi Adopsi Inovasi Siska
Kurangnya minat perkebunan sawit untuk terlibat dalam Siska menjadi tantangan yang harus diatasi oleh pemerintah. Tanpa adanya dukungan dari perusahaan perkebunan sawit, maka sangat kecil peluang peternak untuk memperoleh pakan lengkap. Hal ini karena beberapa bahan baku pakan lengkap merupakan limbah dari pabrik CPO milik perusahaan.

 

Pola integrasi yang diterapkan saat ini masih sangat tergantung dari masing-masing perusahaan. Ada yang melaksanakan konsep penggemukan dan pembiakan dengan pola intensif (dikandangkan secara penuh) atau ada yang menerapkan pola fully grazed (digembalakan secara penuh di perkebunan) atau campuran antara dikandangkan dan digembalakan.

 

Sejauh ini, belum ada evaluasi bagaimana dampak dari masing-masing pola tersebut, baik terhadap perkebunan kelapa sawit maupun produksi ternaknya. Oleh karena itu, perlu dilakukan langkah-langkah strategis dan kajian menyeluruh sehingga di satu sisi, produksi kelapa sawit dapat ditingkatkan, di sisi lain ternak sapi juga dapat berproduksi optimal untuk mendukung tujuan swasembada daging. Mengevakuasi sejauh mana pelaksanaan sistem integrasi sapi kelapa sawit sapi, kendala dan permasalahan yang dihadapi sangat berguna untuk memberikan masukan tentang strategi pengembangan Siska dalam rangka mengadopsi inovasinya.

 

Berbeda dengan kemitraan antara industri kelapa sawit dan para pekebun yang telah mapan model kerjasamanya, Siska yang melibatkan peternak belum memiliki model bisnis dan sistem manajemen untuk mencapai dan mempertahankan daya saingnya. Identifikasi dan promosi model semacam ini memerlukan informasi terperinci mengenai manfaat, biaya, dan pendapatan produktivitas sawit yang terkait dengan pengelolaan budidaya sapi, faktor-faktor pendorong keputusan perusahaan dan rumah tangga pekebun dan peternak, informasi tentang pasar lokal dan paket intervensi apa yang diperlukan untuk mengatasi persoalan produktivitas dan daya saing.

 

Tetapi nasihat bijak mengatakan“there is No One-Size-Fits All strategy”, tidak ada satu strategi yang cocok untuk semua perusahaan yang ingin terlibat dalam pengembangan Siska. Setiap perusahaan memiliki kekhasan masing-masing yang sesuai dengan sumber daya, kondisi sosial ekonomi dan lingkungan yang dimiliki oleh perusahaan dan para peternak yang terlibat dalam pengembangan Siska tersebut. TROBOS

 

 

*Dewan Redaksi TROBOS Livestock
 Ahli Ekonomi Industri Peternakan Sekolah Bisnis IPB
Adjunct Professor, Business School, University of New England, Australia
 


   Artikel Lain    

    Prof Ali Agus : Corporate Farming dalam Timbangan Konsolidasi Lahan

    Muladno: Audit Populasi Ayam Ras

    Prof Ali Agus: Redefinisi Peternak dalam Fenomena Zaman Now

    Arief Daryanto: Babak Baru Perdagangan Daging Ayam di Indonesia

    Muladno: Sapi Indukan Wajib Bunting dan SIBB


  • Putusan WTO : Momentum untuk Bersinergi
  • Upaya Daerah Menggaet Investasi
  • Kelola Pakan Tambak Mapan
  • Kualitas Air Udang Butuh Seimbang
  •   Waspada IBH
  • Novindo : Lowongan Pekerjaan Aquaculture Specialist
  •   Investasi di Komoditas Sapi
  •   ISPI Sesalkan Kasus Video Sapi Ditarik Mobil

        


    ETALASE    



Home     Our Profile     Trobos Moment     Contact Us     Data Agri     Foto     AgriStream TV     TComm     Berlangganan
Copyright 2014-2017 TROBOS, All Rights Reserved