Aqua Utama
01 December 2009
Nila Unggul Susul Menyusul

Seolah tak percaya, Munawar terperangah dengan hasil panen nilanya kali ini yang lebih cepat dari biasanya. Menggunakan benih Nirwana (nila ras wanayasa), pembudidaya Keramba Jaring Apung di Waduk Saguling Jawa Barat itu mendapati siklus pemeliharaan lebih singkat. “Dengan benih nila lokal biasanya saya panen 6 bulan ukuran 5-6 ekor/kg, ini cukup 4 bulan,” katanya kepada TROBOS di Purwakarta Jawa Barat (Jabar) medio November lalu. Kini teman-teman Munawarwan sesama pembudidaya KJA di Saguling sebagian mengikuti jejaknya, menggunakan benih Nirwana. 
Nirwana merupakan satu dari sejumlah jenis nila hitam unggulan yang sudah dirilis di Indonesia. Nila hasil penelitian Balai Pengembangan Benih Ikan (BPBI) Wanayasa Purwakarta itu punya keunggulan pertumbuhan cepat dan daging yang dihasilkan tebal. Proporsinya 3 kg nila utuh menghasilkan 1 kg fillet (daging tanpa tulang). Menurut  Kepala BPBI Wanayasa, Budiman, Nirwana merupakan  persilangan famili nila GET (Genetically Enhanched Tilapia) dan GIFT (Genetic Improvement for Farmed Tilapia)  yang berasal dari Filipina. Penelitian Nirwana dimulai 2002 dan disebar ke masyarakat 2006.
Saat ini indukan Nirwana yang tersebar sudah sampai generasi 4 (F4), meski F5 sudah mulai diproduksi. Pihaknya mentargetkan, stok famili setiap generasi minimal sebanyak 60 famili. Satu famili terdiri atas 10 induk jantan dan 10 induk betina. “Kita telah uji, pertumbuhan jantan F3 30% lebih baik ketimbang induknya (F2). Sementara yang betina, F3 pertumbuhannya 12% lebih baik dari induknya. Itu artinya generasi terbaru kualitas indukan yang dihasilkan semakin baik,” kata Budiman. Selama 2008, BPBI baru bisa menghasilkan 60 paket indukan (1 paket indukan nila terdiri atas 300 betina dan 100 jantan). Angka tersebut  baru memenuhi sekitar 3% kebutuhan indukan nila di Jawa Barat. Peningkatan terjadi di 2009, sekitar 12% kebutuhan induk di Jabar dapat dipenuhi.
Kebutuhan indukan nila di Jabar untuk 2009 disebutkan Budiman sekitar 2.700 paket, sedangkan tahun depan diperkirakan mencapai 3.100 paket. “Target kita, pada 2011 semua kebutuhan indukan nila di Jawa Barat bisa dipenuhi dari Nirwana,” kata Budiman. Pihaknya menekankan pendataan dalam proses distribusi indukan kepada masyarakat. Disamping itu, untuk menjaga keaslian, induk-induk tersebut disertai surat keterangan dari Dinas Perikanan dan Kelautan dan dengan masa kadaluarsa induk 2 tahun.

Gesit, Rekayasa Sex
Sementara itu di tahun yang sama, di tempat berbeda, ikan nila unggul jenis lain juga dirilis. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi menghasilkan nila Gesit (galur unggul induk jantan). Nila gesit merupakan jenis nila hitam hasil kerjasama penelitian BBPBAT Sukabumi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), serta Institut Pertanian Bogor (IPB).
Penggunaan hormon untuk mengarahkan kelamin saat ini sudah dilarang, sehingga pemanfaatan teknologi jantan super (YY supermale) merupakan alternatif terbaik. Secara normal ikan nila betina memiliki kromosom XX, sedangkan jantan XY. Melalui rekayasa, kromosom ikan nila jantan diubah menjadi YY. Sehingga hasil pengawinannya dengan betina normal akan diperoleh benih yang didominasi jantan (XY), kisarannya 96% jantan. Rekayasa sex ini dilakukan lantaran nila jantan memiliki keunggulan pertumbuhan relatif 2 kali lebih cepat ketimbang nila betina.
Bahkan melangkah lebih maju, Unit Pembenihan Rakyat (UPR) Nila “Mina Cikole”, Banter Majalengka Jabar yang digunakan sebagai lokasi uji kualitas, tengah melakukan upaya persilangan antara Nirwana dengan nila Gesit. Menurut Pelaksana Teknis UPR Nila “Mina Cikole”, Banter Majalengka, Arief Maulana Syam, dari hasil persilangan tersebut diharapkan muncul jenis nila mayoritas jantan dengan keunggulan pertumbuhan cepat dan daging yang tebal. “Kita juga rencananya akan membandingkan kualitas jenis nila yang baru dirilis yaitu Larasati dan Best,” kata Arief.
Data BBPAT Sukabumi menunjukkan, 54.855 ekor benih nila Gesit yang dihasilkan selama 2008 telah didistribusikan ke 18 provinsi. Jumlah ini meningkat dari hasil di 2007 yang mencapai 45.530 ekor. Sampai saat ini, total benih nila Gesit yang sudah didistribusikan tercatat 100.385 ekor.

Best, Tahan Streptococciasis
Pendatang baru, yang paling anyar di kelas nila adalah Larasati (nila merah strain janti) dan Best (Bogor Enhanced Strain Tilapia). Peluncuran kedua jenis nila unggulan tersebut dilakukan secara simbolik oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad di Balai Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar (PBIAT) Klaten Jawa Tengah (23/11).
Nila Best, jenis nila hitam ini berasal dari generasi ke-6 nila Gift hasil evaluasi Balai Riset perikanan Budidaya Air Tawar (BRPBAT) Cijeruk Bogor selama kurun waktu 2004 – 2008. Berdasarkan kajian, nila jenis ini memiliki kekuatan 140% lebih tahan terhadap serangan penyakit Streptococcus dibanding varietas lainnya.
Selama ini, menurut teknisi lapangan PT Suri Tani Pemuka (produsen pakan ikan) area Semarang Mulyadi, penyakit masih jadi salah satu hambatan berkembangnya usaha budidaya nila. Streptococciasis, yang disebabkan bakteri Streptococcus disebutnya sebagai penyakit yang utama. Sebagai gejala antara lain, di awal infeksi mata ikan tampak menonjol, warna badan secara umum pucat. Serangan bakteri ini berakibat bobot badan menurun, dan menyebabkan kematian yang bisa sampai 75% ,khususnya saat tebar benih.
Menurut Otong Zenal Arifin, salah satu peneliti dari BRPBAT Bogor pengembangan induk nila Best melalui proses seleksi yang panjang dan teliti. “Dengan terpusatnya penghasil induk, proses menghasilkan sifat-sifat unggul dapat terus dilakukan sehingga semakin lama semakin sempurna keunggulannya,” optimis Otong berujar. Lebih lanjut ia menjelaskan, sebanyak 200 ribu calon induk nila Best telah disebar ke balai perbenihan di Sumatera Utara, Riau, Jambi, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Jogjakarta, Kalimantan Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. “Sehingga pada 2014 diharapkan telah tersedia 1,4 juta induk Best,” harapnya.
Dijabarkan lebih rigid oleh Otong, harga calon induk Best cukup terjangkau, hanya Rp 250,-/ekor ukuran 2-3 cm. Sedangkan benih sebarnya Rp 50,-/ekor untuk ukuran yang sama. Produksi telur induk nila Best mencapai 1.500 – 3 ribu butir/ekor atau 3 – 5 kali lebih banyak dibanding nila umumnya. Dalam setahun nila jenis ini mampu memijah 6 kali, dengan produksi telur terbanyak pada musim hujan. Porsi daging yang dihasilkan juga lebih tinggi karena posturnya yang buntek, perbandingan panjang badan dan panjang total mencapai 70%, sedangkan pada nila umumnya hanya 63%. Pertumbuhan ikan ini 1,5 – 2 kali lebih cepat dengan konversi pakan 1,0 – 1,1 pada pemberian pakan dengan kandungan protein.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Desember 2009