Inti Akua
01 January 2010
Maggot : Digadang tapi juga Disangsikan

Mencari alternatif pengganti tepung ikan dalam pakan ikan dan udang. Para ahli nutrisi sepakat, sebuah bahan diputuskan digunakan dalam formula pakan apabila memenuhi  syarat utama sebagai bahan baku pakan. Yaitu, tersedia dalam jumlah melimpah dan kontinyu, kandungan nutrisi memenuhi kebutuhan, dan secara ekonomi tidak menjadikan harga pakan tinggi. Belakangan, industri pakan cenderung menggunakan bahan baku sumber protein siap pakai seperti SBM (Soya Bean Meal) atau tepung bungkil kedelai, meskipun harus impor.
Sementara itu, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) tengah bersemangat menggadang hasil penelitian pengembangan maggot (larva serangga bunga/Hertmetia illucens) sebagai sumber protein untuk menggenjot produksi perikanan di 2010. Tekad dan harapan besar pada maggot ini dikemukakan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad. Pengembangan maggot ini bersandar utama pada limbah pengolahan minyak sawit berupa bungkil kelapa sawit sebagai media budidaya, yang jumlahnya melimpah. Indonesia, tiap tahunnya mampu menghasilkan 2,5 sampai 3 juta ton bungkil sawit.
?Jadi maggot bisa diproduksi secara massal,? kata Fadel kepada TROBOS awal Desember lalu di Jakarta. Secara teknologi, budidaya maggot tergolong mudah dan murah. Hasil penelitian DKP di Surolangun Jambi menunjukkan, 3 kg bungkil kelapa sawit bisa menghasilkan 1 kg maggot. Harga 1 kg pakan dengan sumber protein maggot sekitar Rp 3.500 per kg, dengan kandungan protein 20 ? 25%. Fadel menambahkan, pihaknya tengah mendorong perusahaan-perusahaan minyak sawit untuk bekerjasama dengan para pembudidaya ikan dalam mendukung ketersediaan bahan baku bungkil kelapa sawit. ?Saya ingin produksi maggot tidak hanya mudah dan murah, tetapi juga berkelanjutan,? tandas Fadel. Ia mengarahkan pengembangan maggot ini untuk usaha budidaya skala kecil dan menengah. ?Untuk industri pakan, saya yakin bisa jalan sendiri. Saya ingin fokus budidaya yang dilakukan rakyat,? katanya.

Tengah Dikembangkan
Keterangan senada disampaikan Sekretaris Jenderal Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Achmad Poernomo. Menurut Poernomo, ide awalnya memang untuk mengurangi penggunaan tepung ikan pada industri pakan. Namun sebelum sampai ke sana, maggot dikembangkan untuk budidaya skala kecil telebih dahulu. Pihaknya sudah melakukan berbagai penelitian sumber protein alternatif mulai dari tepung tulang, tepung darah, keong mas, dan ternyata maggot yang paling memungkinkan.
Diakui Poernomo, kadar protein yang dihasilkan maggot hanya 25%, jauh di bawah tepung ikan yang sampai 60%. ?Kita masih terus meneliti apakah maggot bisa menghasilkan protein yang lebih tinggi dengan media pembesaran lainnya,? kata Poernomo. Media lainnya seperti limbah pengalengan ikan atau rumah potong hewan. Jika ternyata limbah pengolahan ikan bisa dipakai untuk media pembesaran maggot, maka bisa dibuat sistem perikanan terpadu. Ia mencontohkan, limbah pengolahan ikan patin digunakan untuk menghasilkan maggot. Kemudian maggot diolah jadi pakan ikan, untuk diberikan pada budidaya ikan patin lagi. Bisa dibayangkan efesiensi yang bisa dilakukan.
?Jika maggot bisa menggantikan setengah saja dari kebutuhan tepung ikan nasional, sudah merupakan penghematan yang luar biasa,? kata Poernomo. Menurut dia, maggot sangat cocok sebagai sumber protein pakan ikan air tawar sepeti lele, patin, dan nila. Karena jenis ikan-ikan tersebut kebutuhan proteinnya cukup rendah. ?Hasil percobaan menunjukkan, ikan-ikan air tawar tersebut sangat rakus terhadap pakan maggot,? ujar Poernomo.

Apa Kata Ahli Nutrisi
Pengembangan maggot dinilai para ahli nutrisi memang cocok untuk budidaya ikan skala kecil atau yang umumnya dikenal dengan sistem tradisional. Menurut  Peneliti Nutrisi Ternak, Balai Penelitian Ternak Departemen Pertanian, Prof Budi Tangendjaja, ?OK saja untuk yang seperti itu. Tetapi untuk industri masih jadi tanda tanya.? Ia menambahkan, ?Untuk budidaya udang dan ikan laut rasanya tidak bisa.? Untuk skala industri, ujar Budi, masih perlu ditanya analisa usaha dan teknologi pengolahannya. Harus dihitung biaya produksi sampai dihasilkan tepung maggot. ?Jika feasable (menguntungkan) saya yakin industri tidak segan-segan memanfaatkan maggot.? Ia pun belum dapat memberikan analisanya, karena terbatasnya data kandungan nutrisi maggot yang dimilikinya.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Januari 2010