Masih Jibaku Melawan Virus
Serangan wabah KHV yang terdeteksi sejak 2004, sampai sekarang gejala indikasi serangan virus ini masih banyak dilaporkan.
Status saat ini, hampir semua ikan mas di Pulau Jawa, terdeteksi membawa virus KHV. Meski demikian, virus tersebut tidak akan bersifat patogen apabila suhu lingkungan berada di atas 270 C. Aktivitas virus KHV akan optimal pada suhu rendah. Pada suhu 220 - 270 C, virus aktif bermultiplikasi diri yang berlanjut menjadi patogen.
Pembudidaya KJA ikan mas di waduk Saguling Jawa Barat (Jabar), Agus Hidayat mengaku, terakhir mengalami kematian massal sekitar 2002. Ia tidak tahu pasti apa sebab musibah tersebut. Serangan virus atau akibat upwelling (proses pengadukan dasar perairan). “Tetapi saya sangsi kalau upwelling, karena kondisi perairan saat itu masih bagus dan belum masuk pergantian musim,” ujar Agus kepada TROBOS baru-baru ini di Saguling. Belajar dari pengalaman itu, Agus lebih hati-hati dalam membudidayakan ikan mas.
Ade Misbah, pengusaha budidaya KJA ikan mas di Cirata, berbagi ilmu. Menurut dia kematian massal banyak terjadi di pertengahan dan akhir tahun. Dan penyebabnya lebih disebabkan serangan KHV ketimbang akibat upwelling. “Kematian karena KHV terjadi secara bertahap sampai habis, sementara upwelling kematian terjadi sekaligus dalam waktu singkat,” urainya. Ditambahkannya, ciri ikan terinfeksi KHV sisiknya ditemukan bercak putih, dan yang terparah insang akan berwarna putih. Dan sejak pertama serangan KHV, sudah banyak peneliti dari Australia, Jepang, dan lainnya datang ke Cirata untuk mengkaji penyakit dan mencari solusi. “Tapi sampai sekarang belum saya rasakan hasilnya,” kata Ade kecewa.
Berbagai Strategi
Dan guna meredam serangan penyakit sejauh ini, Iskandar Ismanadji mengatakan pihaknya sudah melakukan upaya perbaikan lingkungan khususnya untuk perairan umum seperti waduk Jatiluhur, Cirata, dan Saguling. ”Salah satunya dengan menebar ikan bandeng sebanyak 10 juta ekor secara bertahap,” kata Iskandar. Ikan bandeng memakan detritus dan plankton merugikan yang berkembang dari sisa-sisa pakan budidaya ikan KJA.
Pemerintah Provinsi Jabar melalui Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat, Ahmad Hadadi, mengaku menganjurkan pengurangan kepadatan tebar di KJA serta memperbanyak memelihara ikan nila. Karena ikan mas (nila?) mampu menyerap virus dan bakteri merugikan dalam perairan.
“Juga mengupayakan pengembangan budidaya ikan mas di kawasan pertambakan, untuk wilayah pesisir. Tapi khusus di musim penghujan,” kata Hadadi. Jelasnya, ikan mas dapat berkembang cukup baik di perairan dengan kadar garam (salinitas) sampai 5 per mil. Dan ikan mas yang dipelihara ditambak relatif lebih tahan terhadap serangan KHV.Ia juga mengaku sudah mulai melakukan percobaan di Pangandaran, Ciamis.
Disebutkannya, ada sekitar 75 ribu hektar tambak di Pantai Utara Jawa Barat yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya ikan mas. Saat musim hujan tidak begitu bagus untuk memelihara udang. Disarankan para pembudidaya melakukan diversifikasi jenis ikan yang dipelihara (poli kultur). “Dengan demikian meski ikan mas produksinya merosot, bisa ada pemasukan dari jenis ikan lainnya,” ujar Hadadi.
Menurut Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan KJA “Lewi Tampian Jaya” Desa Karang Anyar, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Munawar Sojali, sekarang para pembudidaya ikan sudah banyak pilihan jenis air tawar, mulai dari nila, lele, patin, dan bawal. “Strain unggul ikan mas seperti Majalaya dan si Nyonya memang masih tertinggal dibandingkan strain unggul pada nila,” kata Munawar.
Menjawab tantangan itu, Dinas Perikanan Jabar tengah membuat jenis unggul ikan mas yang tahan penyakit KHV. Program penelitian ini dilakukan di BBI Wanayasa Purwakarta sejak tahun 2009. “Saya prediksi masih butuh 2 sampai 3 tahun lagi untuk menhasilkan ikan mas bebas penyakit atau SPF (Specified Pathogen Free),” kata Hadadi.
Sementara itu, strategi alami dan sederhana yang selama ini dilakoni Agus bisa jadi alternatif dipertimbangkan. Ia memanfaatkan daun mengkudu dan kecubung dalam mencegah serangan penyakit. Ekstrak dedaunan tersebut dicampurnya dalam pakan ikan. Cara ini dinilainya lebih mudah, murah, dan efektif.
Pengadaan Vaksin KHV
Wacana dan diskusi mengenai pengadaan vaksin KHV pernah muncul dan sesekali kembali mencuat. Direktur Produksi Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Iskandar Ismanadji kepada TROBOS mengatakan, perlu anggaran penelitian yang sangat besar untuk sampai dihasilkan vaksin KHV. Itulah sebab sampai saat ini belum tersedia. Ia megakui keberadaan vaksin KHV akan berkontribusi mencegah penyakit. Hanya saja perlu dipikirkan cara pemberian vaksin tersebut terhadap benih-benih ikan mas yang jumlahnya sangat banyak.
Manajer Produksi PT Sanbe Farma divisi Perikanan, Wawan Siswanto, menjelaskan, saat ini penyakit KHV belum ada penanggulangan yang tepat. Pendekatan yang dilakukan sekarang hanyalah meningkatkan daya tahan ikan dari serangan KHV melalui pemakaian vitamin ataupun imunostimulan.
Selengkapnya baca di Majalah TROBOS edisi Maret 2010









