Inti Akua
01 June 2010
Tingkatkan Citra di Sentra Lele

?Kalau cari olahan lele, ya ke Boyolali?

Menjamurnya usaha olahan berbahan dasar lele mengakibatkan permintaan menjadi tinggi. Mau tidak mau pembudidaya lele harus menyediakan pasokan yang memadai untuk memenuhi permintaan tersebut. Salah satu sentra produksi lele, meliputi budidaya dan pengolahan, adalah percontohan minapolitan Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Kabupaten ini mampu memasok tidak kurang dari 12 ? 14 ton leles tiap harinya untuk permintaan daerah Boyolali dan sekitarnya seperti Jogjakarta, Solo, Salatiga dan Semarang. Di Boyolali juga berkembang beberapa UKM (Usaha Kecil Menengah) pengolahan lele menjadi abon lele, keripik kulit lele, keripik sirip lele. Diantaranya, UKM Alang ? alang dan Wanita Mina Utama di Desa Mangkubumen Kec. Tegalrejo Sawit, Boyolali. UKM Alang ? Alang mengolah 300 kg lele segar per minggu menjadi 100 kg abon lele, 100 kg keripik kulit dan sirip lele. Sementara UKM Wanita Mina Utama dari 500 kg lele segar per bulan menjadi 150 kg abon lele, 40 kg keripik kulit lele, 20 kg keripik sirip.
Direktur Pengolahan Ditjen P2HP Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Santoso menjelaskan, lele yang hanya digoreng nilai tambahnya rendah dan segmennya terbatas. Sehingga perlu membuat bentuk lain yang bisa menjangkau masyarakat lebih banyak. Dan kepada TROBOS medio Mei lalu Santoso mengatakan, pemerintah telah mengembangkan 15 sentra pengolahan hasil perikanan yang tersebar di seluruh Indonesia. Satu sentra, secara khusus, menghasilkan produk ? produk dari satu jenis ikan. ?Satu sentra identik dengan satu komoditas ikan. Misalnya, cari olahan ikan kakap ya ke Sidoarjo, pindang presto ya ke Pati dan kalau cari olahan lele ya ke Boyolali. Jadi kita membuat one village one product (satu kampung satu produk),? jelas Santoso.
 Menurut Santoso, pengembangan sentra pengolahan lele seperti di Boyolali merupakan kawasan tertentu yang secara fungsional digunakan UKM untuk mengolah atau meningkatkan nilai tambah lele. Juga untuk memudahkan dalam pemasaran dan pembinaan.

Minat Tinggi
Senada dengan Santoso, Kepala Pusdatin KKP, Soen?an H Poernomo mengatakan, guna memacu peningkatan budidaya 10 komoditas unggulan termasuk lele, pemerintah telah mengembangkan kawasan komoditas unggulan. ?Dan potensi lele itu sangat besar. Dengan pemeliharaan yang intensif diharapkan pandangan masyarakat bisa berubah bahwa lele adalah makanan yang bersih dan sehat,? ujarnya.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, Dwi Priyatmoko mengatakan, meskipun wilayah Boyolalai 70 % merupakan lahan tandus tapi minat masyarakat untuk usaha budidaya dan pengolahan lele sangat tinggi. Apalagi lele lebih mudah dibudidayakan dan daya tahannya lebih kuat. ?Usaha berbahan dasar lele memiliki daya tarik karena nilai keuntungannya signifikan, sehingga sejak 2006 usaha ini cepat menyebar,? jelasnya kepada TROBOS (24/5).
Disebutkan, usaha pemijahan, pembenihan, budidaya dan pengolahan lele tersebar di Kecamatan Simo, Boyolali, Banyudono, Teras, Sawit, Sambi, Karang Gede, Nogosari dan Andong. Berbagai produk olahan lele telah dihasilkan seperti abon, keripik kulit dan sirip. Bahkan beberapa kelompok melakukan budidaya di waduk yang tersebar di sekitar Boyolali yaitu Waduk Kedung Ombo, Cengklek dan Badi.
Terkendala Benih
Sayang, tingginya animo budidaya pembesaran dan pengolahan lele di Boyolali ini tidak diimbangi dengan ketersediaan benih ukuran 7 - 11 cm yang siap dibesarkan. Padahal setiap harinya, Boyolali membutuhkan 200 - 400 ribu ekor benih ukuran tersebut. ?Memang ada pemijahan dan pembenihan lele tapi hanya sampai ukuran 2 cm,? jelas Dwi. Menurut dia, pembenih tak sanggup mendederkan lele sampai ukuran 7 ? 11 cm karena kurangnya modal. Pembenih biasanya menjual lele ukuran 2 cm ke pembudidaya di luar Boyolali yang terdekat seperti Salatiga, Sleman dan Magelang.

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Juni 2010