Aqua Utama
01 July 2010
Dari Surakarta Mengejar Cita-cita

Surakarta produksi mesin olahan rumput laut sekaligus sebagai pusat pelatihan pengolahan komoditas tersebut

Industri hilir rumput laut yang mengolah dari produk awal hingga akhir boleh jadi masih sebatas cita-cita. Namun bagi  Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Surakarta, Jawa Tengah, cita-cita tersebut tak lama lagi bisa menjadi realita. Setidaknya, satu langkah nyata telah mereka lakukan dengan membuat mesin pengolahan rumput laut.
Sekadar informasi, mesin produksi ATMI merupakan karya pertama anak bangsa. Sebelumnya, mesin-mesin sejenis hanya diproduksi oleh China atau negara-negara di Eropa. Direktur ATMI, B Triatmoko di sela acara Forum Bisnis dan Investasi Rumput Laut di Surakarta beberapa waktu lalu  mengatakan, bahwa pihaknya membutuhkan waktu 5 tahun untuk proses penciptaan mesin tersebut.
”Untuk mempelajari teknologinya, kami melakukan studi banding ke Filipina. Tak kalah penting, bahan-bahan pembuatan mesin pengolahan rumput laut yang kami ciptakan terbuat dari komponen lokal dan didesain untuk usaha kecil menengah (UKM),” terangnya.
Tentang target konsumen yang membidik UKM, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Victor PH Nikijuluw secara terpisah mengatakan, ATMI mengembangkan mesin tersebut karena mereka melihat strategi pengembangan rumput laut masuk di tingkat kecamatan.
”Kalau di kecamatan, pasokan bahan baku akan aman. Pabrik pengolahan yang dibangun pun tidak akan besar-besar, sehingga mesin produksi mereka yang berskala UKM dengan hasil produksi sekitar 1 - 2 ton per hari bisa masuk,” ujarnya.

Solusi Lengkap Industri Hilir
Tak sia-sia, buah karya ATMI ini mendapat respon positif dari para pemangku kepentingan rumput laut di dalam negeri. Dari Forum Bisnis Rumput Laut di Surakarta, terdapat 24 pelaku dan calon pelaku usaha rumput laut yang menyatakan siap untuk bekerjasama dengan ATMI dan mendukung tercapainya industri hilir rumput laut.
Mereka terdiri atas dinas perikanan dan kelautan daerah, perorangan dan juga perusahaan. Beberapa daerah yang ikut kerjasama tersebut antara lain Provinsi Jawa Tengah, Bali, Maluku, Irian Jaya, dan Kepulauan Riau.
Dalam kerjasama tersebut, ATMI melalui unit usahanya yaitu ATMI Kreasi Agro (AKA) akan berperan sebagai penyedia solusi lengkap untuk unit usaha pengolahan rumput laut, terutama untuk jenis Eucheuma cottonii. Bahan baku rumput laut kering akan diolah menjadi Alkali Treated Cottonii (ATC), ATC Chips (ATCC), ATC Powder dan Semi Refined Carrageenan (SRC). Fokus skala usaha adalah skala kecil dan menengah.
Lebih jauh, Asisten Direktur Pemasaran ATMI, Ang Hoo Tjhiang menjabarkan kerangka besar kerjasama mewujudkan industri pengolahan rumput laut itu. Yaitu, AKA akan menyediakan beberapa hal, pertama, teknologi pengolahan. Kedua, peralatan pengolahan beserta pengaturan dan instalasinya.
Ketiga, pelatihan pengolahan dan pendampingan agar hasil pengolahan sesuai standar industri. Keempat, pelatihan pengujian hasil pengolahan yang ditujukan agar kualitas hasil pengolahan terjamin kualitasnya.
Khusus untuk pelatihan dan pendampingan, imbuh Ang, lokasinya bisa di lakukan di ATMI Surakarta atau di lokasi tempat mesin pengolahan rumput laut terpasang. ”Lama waktu pelatihan dan pendampingan mulai dari 2 minggu hingga 2 bulan. Materinya disesuaikan dengan kondisi dan modul yang diinginkan,” terangnya.
Disamping itu, jika memang diperlukan oleh pihak yang terlibat kerjasama tadi, AKA akan menyediakan SDM (Sumber Daya Manusia) pelaksana, menyalurkan hasil olahan ke industri dan menyediakan bangunan industrinya. ”Untuk pelaku dan calon pelaku yang telah siap bekerjasama dalam kesepakatan itu, hanya cukup menyediakan dana, lahan, dan pasokan bahan baku yaitu rumput laut kering,” kata Ang.

Jaminan Kualitas Mesin
Menyoal kualitas mesin, Ang meyakinkan bahwa pihaknya menjamin kualitas mesin yang ditawarkan. ”Kami menjamin dan menjaga hasil olahan agar sesuai dengan standar kebutuhan industri,” ujarnya.
Paling tidak, pernyataan Ang ini telah diamini oleh Presiden Direktur PT Gumindo Perkasa Industri (Indo Gum), Eva Herlina. Indo Gum adalah perusahaan besar penghasil refined carrageenan (karaginan murni) yang telah memakai mesin pengolah rumput laut made in ATMI. ”Mesin ATMI bagus. Kami menggunakan mesin dari ATMI untuk pengolahan rumput laut skala kecil,” tutur Eva. Selain PT Indo Gum, ATMI juga telah memasok mesin produksinya ke pabrik pengolahan rumput laut yang ada di Surakarta, Gorontalo dan Maumere.
Di tempat lain, Direktur Ekspor dan Pengembangan Rumput Laut PT Agarindo Bogatama Soerianto Kusnowirjono berharap agar  mesin dari ATMI jangan sampai cepat rusak. ”Kalau mesin untuk skala UKM yang dikerjakan oleh kelompok pembudidaya rumput laut, ya jangan sampai cepat rusak. Sebab ini bisa jadi beban biaya lagi bagi mereka, padahal untuk biaya operasional saja mereka sudah terbebani,” ia mengkritisi.

Selengkapya baca diMajalah TROBOS Edisi Juli 2010