Inti Akua
01 August 2010
Bangkitkan Fanatisme Udang Windu

Budidaya udang windu sistem polikultur dan pemuliaan indukan menjadi solusi peningkatan produksi

Semangat dan kecintaan Endi Muchtarudin pada udang windu (windu) atau Peneus Monodon patut diacungi jempol. Meski saat ini banyak petambak windu yang beralih membudidaya udang vannamei (vannamei), petambak windu kawakan asal Karawang ini tak bergeming.
Ia lalu bercerita, pada 1980-an hingga 2000 windu memang berjaya, namun semenjak 2000 ke atas kejayaan itu sirna. ?Saat itu tambak-tambak windu diserang virus white spot hingga produksi menurun jauh,? ucap Endi lirih akan penyebab lesunya agribisnis windu beberapa tahun belakangan ini.
Saat ini dari 7 hektar luas lahan tambak windu yang Endi miliki, ia relakan sebagai tempat kajian dan penelitian windu. ?Saya ingin windu bangkit lagi. Karena itu saya undang para peneliti untuk mengkaji tentang budidaya windu di lokasi tambak windu saya,? ungkap Endi.
Bagi Endi, windu adalah udang nasional asli Indonesia dan sudah menjadi keharusan bagi pembudyda udang  untuk meningkatkan bargaining-nya (daya tawar). ?Orang luar negeri pun mengakui bahwa cita rasa windu kita lebih lezat,? tutur Endi dengan penuh semangat nasionalisme.
Menurut Endi, marjin keuntungan yang kecil dan risiko besar menjadi alasan banyaka para petambak udang yang beralih ke vannamei. Ia menjelaskan, biaya produksi windu saat ini berkisar Rp 40.000 ? 50.000 per kg, sedangkan harga jualnya ukuran 40 ekor per kg untuk pasar lokal hanya Rp 55.000 sehingga marjin keuntungannya berkisar Rp 5.000 ? 15.000 per kg.
?Bagi para petambak, marjin sebesar itu kurang sebanding dengan risiko yang besar dalam proses budidaya yang masih dihantui wabah penyakit dan tingkat produktivitas yang rendah. Akan tetapi mereka tidak menyadari bahwa bila dijual untuk ekspor, harga per kg di tambak bisa mencapai US$ 9,2 atau sekitar Rp 90.000,? ungkapnya dengan penuh keyakinan bahwa windu tetap prospektif.
Menambahkan pernyataan Endi, Ketut Sugama ? Direktur Perbenihan Perikanan Budidaya KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) berpendapat,  produktivitas juga menjadi salah satu alasan banyaknya petambak windu yang beralih ke vannamei. Bayangkan, per petaknya vannamei bisa panen hingga 20 ton, sedangkan windu hanya 2 ton saja. Artinya produktivitas windu adalah seper sepuluh dari vannamei.  ?Meskipun harga windu lebih tinggi dari vannamei, tapi petambak berpikir bisnis dan lebih memilih mana yang paling menguntungkan berdasarkan produktivitas dan permintaan,? jelasnya.
Direktur Produksi Perikanan Budidaya KKP, Iskandar Ismanadji, membenarkan apa yang dijelaskan oleh Endi dan Ketut. Menurutnya, petambak windu memang sudah tidak bisa menunggu lagi untuk windu bisa bangkit kembali dan sebagai solusi alternatif akhirnya mereka memilih vannamei.
?Saat ini memang tersisa petambak windu yang fanatik saja. Akan tetapi saya yakin mereka yang beralih akan kembali ke windu lagi. Untuk itu kepada mereka secara perlahan-lahan kami perkenalkan polikultur. Ini teknologi budidaya yang sederhana tapi bernilai tambah karena selain panen windu, juga panen bandeng dan rumput laut Gracilaria,? tuturnya meyakinkan. 

Tetap Prospektif
Dari sisi harga, tutur Iskandar, windu tetap menarik karena memang jumlahnya tidak banyak seperti vannamei. Secara umum harga windu lebih tinggi dari vannamei untuk ukuran yang sama. Contohnya ukuran 40 ekor per kg, windu seharga Rp 50.000 sementara vannamei Rp 40.000.
Selain itu harga windu lebih stabil. Saat harga vannamei turun, windu tak terpengaruh. Bila dihasilkan secara organik, maka windu organik akan dihargai lebih tinggi sebesar Rp 10.000 per kg-nya dari windu non-organik. Pasar penyerap windu juga spesifik, seperti Jepang dan Eropa. ?Mereka sangat fanatik sekali akan kualitas dari cita rasa dan ukuran berapa saja akan mereka tampung,? terangnya.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Edisi Agustus 2010