Aqua Utama
01 May 2011
Apa Kabar Ikan Mas Kolam Air Deras ?

Budidaya ikan mas di kolam air kembali jadi alternatif setelah daya dukung lingkungan waduk untuk budidaya di keramba jaring apung menurun 

Nendi Mulyadi tak bisa sebangga dulu lagi ketika menceritakan usaha budidaya ikan masnya di Kolam Air Deras (KAD). Lelaki asal Subang itu menyebutkan, sistem budidaya tersebut memang pernah mengalami masa keemasanpada1995. Tetapi makin kesini, konsep budidaya yang mulai populer di Indonesi sejak 1980 itu kian ditinggalkan. Apalagi sejak munculnya virus KHV (Koi Herpes Virus) di 2002 yang membuat banyak pembudidaya gulung tikar.

Di  Jawa Barat (Jabar)—yang paling banyak menerapkan konsep KAD—saat  ini pun mengalami penurunan produksi ikan mas dari sistem budidaya yang juga dikenal sebagai running water system itu. Fakta ini ditandai dengan berkurangnya jumlah pembudidaya ikan mas yang menerapkan teknologi dari Jepang tersebut di beberapa sentrabudidaya ikan mas Jabarseperti Majalaya, Bandung, Sumedang,dan sekitarnya.

Data Dinas Perikanan Provinsi Jabar menyebutkan, sampai 2009,jumlah pembudidayaikan mas di KAD wilayah Jabarmengalami kenaikan hingga 15,26 %. Yaitu pada 2008 sebanyak 2.963 orang menjadi 4.257 orang di 2009. Tapi di 2010angka tersebut malah turun jadi 1.153 orang.

Tak sedikit para pembudidaya ikan mas di KAD yang beralih ke sistem KJA (Keramba Jaring Apung) karena dianggap lebih efisien. Padahal menurut Kepala Dinas Perikanan Jabar,Ahmad Hadadi, ikan mas produksi KAD memiliki segmentasi pasar dan keunggulan tersendiri. “Dari sisi rasa lebih enak dan tampilan juga lebih disukai konsumen,”ujarnya.

Sementara dari segi kualitas, Dosen Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor, Enang Harris Surawidjajamenyatakanikan mas hasilbudidaya kolam air deras lebih bagusdibandingkan ikan mas dari KJAdan tidak berbau lumpur. Terlebih harga jualnya juga lebih tinggi Rp 5 ribu dibanding ikan mas KJA.

Nendi atau lebih akrab dipanggil Asepmenyebutkan, harga per kgikan mas KAD sekarang ini Rp 18.500 untuk ukuran 1–2ekor/kg. Ikan yang dijualAsep tersebut berukuran lebih besar karena sasaran pasarnyabukan untuk pasar becek, melainkan untuk restoran, rumah makanatau pemancingan sehingga harganya jauh lebih tinggi.

“Selain itujuga karena nilai FCRnya (Feed Convertion Ratio/ efisiensi pakan) tinggi sehingga memaksa pembudidayaKAD memelihara ikannya dengan ukuran besar, agar biaya operasional bisaditutup,” jelasnya.Dengan fakta seperti ini, apakah budidaya ikan mas KAD masih dianggap tidak menguntungkan? Simak baik-baik pemaparan para ahli berikut ini.

 

KAD vsKJA

Pembudidaya ikan mas KAD saat ini banyak yang beralih ke sistem KJA. Tak salah memang karena menurut Enang, sistem budidaya ikan mas jika dilakukan di KJA akan lebih efisien. Terlebih ketika daya dukung lingkungan untuk kolam air deras berkurang.

Ditambahkannya, dulu ketika waduk belum kelebihan kapasitas seperti sekarang, budidaya di KJA bisa menjadi alternatif pilihan budidaya. Inikarena ketersediaan oksigen di KJA masih tinggi dan pergantian airnya masih bagus. Selain itu, arusnya tidak terlalu tinggi, maka efisiensi pakan atau FCR juga bagus  yaitu sekitar 1 : 1,2.  “Tak heran jika kolam air deras kalah bersaing dengan KJA, “tegas Enang.

Menurut Head of Sales Aquafeed Operation PT Suri Tani Pemuka,Aminto Nugroho, nilai efisiensi pakan di KJA berkisar 60 – 65% dibanding KAD yang berkisar 50 – 60%. “Artinyapakan yang dikonsumsi akan lebih banyak diserap menjadi nutrisi jika ikan dipelihara di KJA,“ jelasnya.

Ahmad Hadadi pun menimpali. Dulu,pemeliharaan di KJA lebih kompetitif.  Pasar ikan mas KJA terbuka lebar, karena ikan mas  yang dihasilkan kebanyakan untuk konsumsi yaitu ukuran 7 – 8ekor/kg. Sementara dari segi efisiensi ongkos produksi menurut Aminto juga lebih murah di KJA karena tidak perlu beli tanah dan buatkolam,  dibanding KAD yang butuh biaya konstruksi kolam yang kuat.

“Apalagi ditambah dengan adanya arus balik atau up welling sehingga kualitas airnya menjadi jelek dan keruh,” tambah Hadadi. Ini akan berdampak pada penyebaran KHV yang cepat dan  kualitas ikan mas yang dipelihara di waduk jadi bau lumpur.

Technical RepresentatifPT Matahari Sakti,Aji Sukarna yang sehari-harinya bekerja mengunjungi pembudidaya ikan mas KADmengimbuhi, pertumbuhan ikan mas di KJA sekarang juga menjadi lebih lambat. Banyak pembudidaya ikan mas di KJA menggunakan pakan dengan protein rendah yaitu berkisar 28 – 30% dengan FCR nya 2. Padahal konsumsi protein yang sesuai untuk ikan mas adalah 28 – 32 %. “Nilai FCR  KJA tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan FCR KAD sekarang yaitu sebesar 1,8, padahal seharusnya FCR KAD harus lebih tinggi dibanding KJA,” kataEnangmenambahkan.

 

KHV Bukan kendala

Menyoal penyakit, Direktur Produksi–KementerianKelautan dan Perikanan (KKP) Iskandar Ismanadji punya pendapat sendiri. Serangan KHV memang telah merugikan hampir seluruh pembudidaya ikan mas KAD, namun penyebaran ini bukan karena sistem budidayanya, tapi memang karena jenis ikan mas yang mudah terserang virus KHV. “Sehingga banyak pembudidaya meninggalkan komoditas ikan mas akibat tidak bisa mengantisipasi KHV dan beralih ke  ikan nila,” jelasnya.

Hal serupa diutarakan Enang. Ia mengatakan penyebaran virus KHV di KAD memang lebih cepattapi masa pemulihannya juga lebih cepat. Ini karena terjadinya pergantian air secara terus menerus di kolam air deras sehingga kualitas air yang terserang KHV lebih cepat pulih. “Dan ketika komoditasnya diganti yang baru maka KHV tidak akan  muncul kembali,” ujarnya.

Asep pun menuturkanjikasaatini kendala penyakit tidak terlalu dikhawatirkan lagi. Sebab dengan teknologi yang sudah berkembang sekarang,penyakit bisa diminimalisir. Untuk mengatasi dan mengantisipasi masalah penyakit,Asep biasanya menggunakan obat-obatan alami seperti bawang putih.  Berkat hal itu, meski sempat bangkrut akibat KHV di 2002, Asepbisabangkit kembali dan meneruskan usaha budidaya ikan mas KAD hingga sekarang.

Kekhawatiran Asep justru pada kondisi alam yang sudah tidak bersahabat. Ia mengungkapkan, akibat cuaca yang tidak menentu 3 bulan yang lalu terjadi banjir di wilayah budidayanya.

Tentang hal ini, Hadadi menyatakan,faktor alam memang sangat memengaruhi budidaya KAD. “Jika curah hujan terlalu tinggi pada musim-musim tertentu maka otomatis tingkat kekeruhan air sungai yang menjadi sumber KAD akan menjadi tinggi,” jelasnya.

Apalagi jika sumber air yang digunakan untuk budidaya dijadikan tempat untuk buangan limbah dari aktivitas industri.  “Maka akan menambah keruh dan tercemarnya air sungai sehingga tidak cocok lagi untuk budidaya ikan mas,”tutur Hadadi. Daya dukung lingkungan yang kianburuk tersebut adalah salah satu alasan berkurangnya jumlah pembudidaya ikan mas KAD.

Sementara Aji Sukarna mengatakan,tingkat kekeruhan seringkali dikeluhkan oleh para pembudidaya.  Jika air sudah keruh maka warna air akan berwarna kecoklatan dan ikan sudah pasti banyak yang mati. “Karena air yang keruh akan menghambat cara kerja insang dan terjadi sesak pada ikan,” jelasnya.

Persoalan yang sama juga dikemukakan Enang. Dia berpendapat akibat dari cemaran tersebut maka ketersedian sungai yang bersih menjadi penghambat. “Kecuali wilayah kolam air deras didirikan di dekat mata air yang barangkali mata airnya masih menghasilkan kualitas air yang bagus,” tambahnya.

Sales ManagerPakan Ikan PT Sinta Prima Feedmill, Hartadi ikut khawatir dengan kondisi fungsi lahan dan air yang makin terbatas sekarang ini. Menurutnya debit air sungai di wilayah tertentu rata-rata menurun karena ada pemanfaatan yang dipakai banyak orang seperti untuk irigasi pertanian dan kebutuhan rumah tangga. “Intensitas debit air pun jadi kianberkurang padahal debit air termasuk unsur penting dalam budidaya  KAD,” tegasnya.

Iskandar menyebutkan debit air yang sesuai di kolam air deras minimal adalah 100 liter per menit. Dan untuk itu, maka pemilihan lokasi perlu diperhatikan jika berbudidaya di kolam air deras.

Menurut Enang, lokasi kolam sebaiknya diwilayah yang bersih mulai dari hulu hingga hilirnya. Sebaiknya lokasi yang terjal dan aliran sungainya terdapat riak yang besar,bukan dataran rendah yang tenang yang dipilih. “Karena riak yang besar tersebut sudah pasti menghasilkan debit air yang tinggi juga,” jelasnya.

Artikel selengkapnya baca majalah Trobos edisi Mei 2011