Aqua Utama
01 July 2012
Tepung Ikan Lokal Terbatas, Impor Merajalela

Situasi global menuntut bahan baku tepung ikan berasal dari penangkapan atau budidaya perikanan yang berkelanjutan

Ketersediaan pasokan dalam negeri yang terbatas, hanya 30 %dari kebutuhan nasional, memaksa sejumlah pabrikan pakan ikandan udang harus mengimpor tepung ikan dari negara lain, seperti Peru dan Chili. Catatan resmi pemerintah, impor tepung ikan mengambil porsi 35 % dari total impor produk perikanan.

Bagian Pembelian Impor CJ Feed Indonesia Group, Helsintha Engko menggambarkan,selama ini pihaknya banyak mengimpor tepung ikan dari Amerika Selatan dan Asia Tenggara. “Sebenarnya kami ingin menggunakan tepung ikan lokal,tapi meski harga antara impor dan lokal hampir sama, kualitas produk impor jauh lebih baik. Sehingga kami lebih memilih impor,” ungkapnya pada sebuah forum pabrikan pakan ikan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Dikatakan Helsintha, informasi ketersediaan tepung ikan lokal sangat sulit diperoleh. Kalaupun ada informasiproduk, harganya luar biasa tinggi, bisa di atasharga tepung ikan asalAmerika Selatan. “Bagaimana agar yang lokal ini bisa lebih dimaksimalkan. Tidak hanya dari Bali tapi kabarnya dari Arafura pun kualitasnya baik. Tapi tidak pernah terdengar informasiketersediaannya,” ujarnya setengah menuntut.

Sebuah ironi, ketika ternyata Malaysia justru bisa ekspor tepung ikan ke Indonesia. Vietnam pun tengah gencar membuat tepung ikan dari bahan baku ikan patin untuk ekspor, termasuk menyasar Indonesia. “Jadi, kita ngapain saja selama ini?Negara kita lebih luaspantai dan lautnya dibandingkan Vietnam yang hanya punya sungai,” iamenggerutu.

Helsintha menuntutpemerintah segera mengambil langkah kebijakan untuk mengatasi persoalan bahan baku pakan,tepung ikan. “Sebentar lagi memasuki perdagangan bebas Asia. Kalau untuk mempertahankan diri saja tidak bisa,bagaimana bisa bertahan untuk perdagangan bebas nanti!” cecar dia.

Kesulitan Bahan Baku
Tepung ikan masih menjadi bahan baku pakan ikandan udang, merupakan komponen utama sumber protein dalam formulasi pakan.Berdasarkan data Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT), permintaan tepung ikan di Indonesia adalah sekitar 100.000 – 120.000 ton per tahun. Sebanyak 75 – 80 ribu ton diantaranya dipenuhi dari impor dan sisanya dari lokal.

Ironis,karena total kapasitas produksi lokal sebenarnya sekitar 175.000 ton.Tetapi hanya sekitar 25.000 – 50.000 ton per tahun yang termanfaatkanindustri, karena alasan tak terpenuhinya spesifikasi tuntutan pabrikan pakan.

Produksi lokal sangattergantungketersediaan bahan baku seperti ikan sarden, lemuru, pepetek, layang, dan dari sisa industri pengolahan ikan seperti tuna, mackerel, dan sarden. Adapun harga tepung ikan lokal dan impor saat ini hampir sama berada dikisaran Rp 12.500 per kg.

Diakui Ketua Harian Apiki (Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia), Ady Surya, anggotanya terdiri atas 37 perusahaan pengalengan ikan dan sekitar 21 perusahaan pembuat tepung dan minyak ikan yang berlokasi di Bali (aktif 9 pabrik) dan Banyuwangi (aktif 11 dari 13 pabrik yang ada) memiliki kapasitas produksi yang cukup besar dengan teknologi yang sudah sangat modern. “persoalan utama, bahan bakunya tidak ada. Gimana mau membuat tepung dan minyak ikan kalau bahan baku ikan utamanya saja sulit didapat,” sesalnya.

Ketua Divisi Akuakultur Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT), Denny D Indradjaja menambahkan, industri pakan ikan terpaksa mengimpor tepung ikan karena di dalam negeri tidak ada. “Lokal ini kan fluktuatif terkadang bahan bakunya ada, terkadang tidak ada sehingga tidak ada pilihan lain untuk mengimpor tepung ikan. Dari laporan yang ada saja, sejak 1,4 tahun terakhir hampir tidak ada hasil tangkapan sarden yang didaratkan. Meskipun perlahan–lahan mulai ada yang didaratkan tapi sangat lambat peningkatannya,” terang Denny.

Sertifikasi Bahan Baku
Belum tuntas persoalan pasokan bahan baku pakan ikan termasuk tepung ikan. Industri pakan ikan dihadapkan kembali dengan tantangan untuk menerapkansertifikasi atas bahan baku dari pakan ikan yang diproduksi. Perusahaan ritel dan organisasi dunia mensyaratkan pelaku usaha di sektor kelautan dan perikanan termasuk pabrikan pakan ikan menerapkan standar yang lebih tinggi dengan mencantumkan sertifikat semua bahan baku pakan yang berasal dari laut dihasilkan dari penangkapan yang berkelanjutan.

Seperti Aquaculture Stewardship Council (ASC) yang mensyaratkan bahan baku produksi tepung ikan untuk pakan udang berasal dari perikanan yang berkelanjutan. Begitupula dengan  Global Aquaculture Alliance (GAA) yang mensyaratkan adanya informasi spesies dan asal ikan yang digunakan untuk pakan ikan dan diharapkan setelah 1 Juni 2015, sebanyak 50 % tepung ikan dalam pakan yang digunakan harus tersertifikasi seperti oleh Marine Stewardship Council atau International Fishmeal and Fish Oil Organization(Iffo).

Iffo – asosiasi perdagangan global yang mewakili produsen tepung dan minyak ikan di Eropa, Amerika Selatan, Afrika, Amerika Serikat, China,dan India serta perdagangan pun mempersyaratkan skema B – to – B (bisnis ke bisnis).

Rencana Aksi
Ketua MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia), Rokhmin Dahuri menyarankan perlu rencana aksi agar perikanan tangkap Indonesia bisa lestari dan berkelanjutan khususnya untuk lemuru sebagai bahan baku tepung ikan. Apalagi jika dikaitkan dengan isu global bahwa ritel dunia mensyaratkan bahwa sumber pakan ikan harus berasal dari penangkapan ikan yang berkelanjutan. “Memastikan ketersediaan bahan baku tepung ikan di Indonesia yang berkelanjutan sangat penting. Apalagi 70 % ekspor ikan dan udang Indonesia ke Eropa dan Amerika Serikat,” tandasnya.

Selengkapnya baca di majalah Trobos edisi Juli 2012