Aqua Utama
01 August 2012
Menanti Generasi Baru Lele

 

Indukan lele unggul terbaru segera dirilis pemerintah

Menghasilkan induk-induk lele unggul adalah tugas pemerintah, terutama balai-balai pembenihan. Sedangkan produksi benih lele sebar (final stock) bisa didelegasikan kepada kelompok UPR (Usaha Perbenihan Rakyat), pembudidaya perorangan, maupun swasta.  

Azzam Bachur, Ketua Komisi Catfish Indonesia (KCI) menyatakan pembagian tugas wajib ditegakkan dengan aturan dan kontrol yang ketat. ”Di tahun 1980-an, UPR itu belum banyak berkembang, makanya pelaku usaha itu banyak mengambil benih dari balai-balai pembenihan sehingga kualitas induk dapat dijaga,” tuturnya.

Azzam membandingkan dengan kondisi saat ini, realitanya masyarakat bebas melakukan pembenihan dan menyeleksi induk sendiri dari lele final stock. ”Pemerintah harus melakukan kontrol. UPR boleh ada, tapi harus ada kontrol ketat,” serunya. Menurutnya langkah ini diambil untuk menanggulangi penurunan kualitas genetik lele karena perkawinan yang sembarangan.

Lepasnya kontrol ini, menurut Azzam, membuat pembudidaya pembesaran lele sering mengeluh mendapati benih lele yang ditebarnya lambat tumbuh, FCR bengkak, sintasan/Survival Rate (SR/kelangsungan hidup) rendah, dan keseragaman pertumbuhan/panen yang terlalu besar variasinya. ”Ini terjadi akibat buruknya kualitas induk sehingga anakannya  besar-kecil. Semakin tidak seragam, semakin tinggi FCR,” ungkapnya.

Pemerintah, kata Dwika Herdikiawan, Direktur Perbenihan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, senantiasa berusaha menjawab tuntutan dari masyarakat pembudidaya akan benih lele yang memiliki kecepatan pertumbuhan dan SR tinggi. Melalui Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi  telah berusaha memperbaiki mutu genetik lele dumbo dengan melakukan seleksi dan perkawinan backcross  antara F2 (keturunan hasil seleksi ke-2) dan dengan F6 sehingga dihasilkan lele sangkuriang pada 2004.

Kontrol Distribusi
Ahmad Jauhari penanggung jawab kelompok kerja lele BBPBAT Sukabumi memaparkan, BBPBAT Sukabumi mendistribusikan induk lele sangkuriang berkualitas yang telah diperbaiki secara genetis kepada balai benih, dinas teknis perikanan di daerah, dan masyarakat pembenih. “Kita menyiapkan induknya. Mereka yang memijahkannya untuk menghasilkan benih sebar. Bibit parent stock lele sangkuriang yang disebar ke masyarakat dan balai benih dan dinas itu generasi ke 3,” paparnya.

Sangkuriang Jilid II
Dwika memaparkan, induk lele unggul memiliki ‘masa edar’ yang cukup lama. Pemerintah akan melakukan perbaikan jika sudah ada gejala induk/benih di masyarakat telah ada kecenderungan penurunan kualitas. “Sebagai contoh dengan menurunnya lele mutu lele sangkuriang, kini sedang diusahakan untuk membuat lele sangkuriang jilid II,” katanya. Namun sayangnya Sarifin - peneliti yang meriset lele Sangkuriang BBPBAT SUkabumi - belum bersedia membuka karakteristik produksi dan reproduksinya. “Mudah-mudahan bisa rilis tahun ini. Saat ini sedang diuji lapang. Semoga lebih baik dibanding sangkuriang pertama,” ujarnya singkat.

Lele Unggul Sukamandi
Imron Nawawi, Kepala Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar(LRPTBPAT)Sukamandi menerangkan, lembaganya tengah berusaha membuat lele unggul sejak 2010. “Sifat yang diperbaiki difokuskan pada karakter pertumbuhan. Apabila dikehendaki, ke depan karakter yang diperbiki bisa bertambah,“ kata Imron. Menurut Imron, metode yang digunakan meliputi selektif breeding dan metoda transfer gen. Kedua metode ini dijalankan secara simultan. “Dalam jangka pendek, metod pemuliaan dengan selektif breeding diharapkan dapat mengeluarkan produknya, berupa strain ikan lele unggul pada 2013,” ungkapnya. 

Artikel selengkapnya baca majalah Trobos edisi Agustus 2012