Aqua Utama
15 September 2012
Udang Windu : Nasionalisme yang Menguntungkan

Bisnis udang windu masih “seksi”. Dinanti induk yang tumbuh cepat dan tahan penyakit demi kebangkitan industri windu

Lokasinya tidak lagi di dalam lingkungan kompleks utama BBPBAP (Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau) Jepara di kawasan Pantai Kartini, sebagaimana ketika Trobos Aquamelaporkan perkembangan induk udang windu (Penaeus monodon) sekian tahun lalu. Hatchery (pusat pembenihan) udang windu unit kerja unggulan BBPBAP Jepara itu kini menempati lokasi baru, di tepi Pantai Bandengan sekitar 7 km dari tempat semula.

Dibutuhkan setidaknya waktu tempuh 15 menit dari kompleks utama BBPBAP menuju Bandengan. Meski terpencil, fasilitas hatchery Bandengan lebih luas dan lebih komplit ketimbang sebelumnya.

Sebagaimana diterangkan Kepala BBPBAP Jepara, I Made Suitha, lokasi ini ideal untuk hatchery  karena tepat di bibir pantai sehingga pasokan air tak terbatas, dan kualitas perairannya pun bagus. “Pasokan dan kualitas air bagus, fasilitas pun memenuhi syarat sebagai hatchery,” kata Made Suitha. Ia bercerita, bangunan yang dibangun 1988 ini sebelumnya merupakan fasilitas hatchery udang windu milik sebuah perusahaan swasta, yang pada akhir 2011 kemudian dibeli pihaknya dan disempurnakan.

Siklus Produksi Ke-3
Abidin Nur, Perekayasa Madya yang diamanahi sebagai penanggung jawab Hacthery Unit II Bandengan menjelaskan, hatchery ini mulai beroperasi terhitung Maret 2012 dan memproduksi benih ukuran >PL10 (PL: Post Larva). “Benur sudah dipasarkan, kini masuk siklus ketiga produksi,” sebutnya.

Induk yang dikembangkan di hatchery Bandengan saat ini adalah generasi ke-5 (F5) hasil  persilangan induk-induk udang windu hasil tangkapan alami dari berbagai perairan di Indonesia. Benur yang dihasilkan kini menyandang status bebas (SPF) WSSV (virus penyebab white spot). “Selanjutnya akan menuju resisten atau SPR terhadap WSSV,” tutur Made Suitha.

Beberapa petambak telah membudidayakan benur keluaran hatchery Bandengan. Antara lain yang disebut-sebut Abidin maupun Made Suitha adalah keberhasilan petambak asal Pati dan Karawang.

Abidin mengaku mendapat laporan, para petambak ini berhasil mencapai ukuran panen (size) 30 ekor/kg dalam waktu pemeliharaan 3 bulan, dengan sistem tradisional. “Ini luar biasa, karena kebanyakan pembudidaya tidak sampai 3 bulan sudah kolaps,” imbuhnya. Selain itu, lanjut dia, petambak di wilayah Kendal berhasil panen di umur 2,5 bulan dengan size 40 – 41 dan SR (tingkat hidup) 65 %. Kepadatan tebar umumnya sekitar 2 ekor per m2

Menurut penjelasan Abidin, salah satu kunci keberhasilan budidaya adalah dengan mengolah dasar tambak terlebih dahulu. “Endapan tanah di dasar tambak diangkat dulu,” kata Abidin. Berikutnya, improvisasi penggunaan cacing tanah (lumbricus) sebagai pakan tambahan udang juga akan mendongkrak hasil.

Sistem tradisional umumnya budidaya dilakukan tanpa pemberian pakan sama sekali, karena mengandalkan pakan alami. Tapi menurut Abidin, untuk mendongkrak hasil, di bulan ke-2 pemeliharaan diberikan pakan tambahan pelet yang dicampurnya dengan lumbricus. “Komposisinya kira-kira saja, asal pelettidak terlalu kering tidak juga terlalu basah,” terangnya.

Uji di Pasaran
Nursalim, pemilik tambak di daerah Demak adalah salah satu yang menebar benur produksi BBPBAP Jepara. “Tapi benur tidak dari satu sumber saja. Sebagian dari balai, sebagian lagi dari pembenihan lain,” ujarnya. Ia mengaku tebar pada Maret – April lalu dan panen 3 – 4 bulan kemudian. Ia menganut sistem budidaya tradisional tanpa pemberian pakan sama sekali, dan panen pun tidak sekaligus.

Total lahannya sekitar 16 hektar, dan semua ia tebari benur. Dari tambak-tambak yang utama (besar) sekitar 10 hektar, ia panen sekitar 6 kuintal udang windu dengan size (ukuran) bervariasi. Angka panen ini belum termasuk “panen kecil” dari tambak-tambaknya yang luasannya kecil-kecil. Size panen mulai 10, 15, sampai terkecil 30ekor per kg, dan dibeli dengan harga beragam pula antara Rp 80 ribu – 110 ribu per kg.

Setengah mengeluh, Nursalim mengatakan musim tanam lalu bukanlah periode yang baik. “Udangnya pada stres, mbak!” ujarnya getir. Ia menggambarkan usahanya kali itu tidak untung, meski tidak juga rugi. Iklim pancaroba yang berkepanjangan dengan fluktuasi suhu tinggi ditengarainya sebagai penyebab rendahnya produktivitas.

Karena itu dimintai komentarnya soal kualitas benur asal BBPBAP Jepara, ia mengatakan tidak bisa ngomong banyak. “Benur dari mana pun kalau cuaca kayak gini tetep aja stres mbak!” ujar dia agak menggerundel.

Abidin membenarkan, pihaknya tengah menyiapkan produksi benur untuk menghadapi musim hujan. Menyoal angka kapasitas produksi, berdasarkan jumlah bak yang dimiliki maksimal pihaknya dapat memproduksi 6 – 7 juta PL/siklus.

Tetapi, Abidin menekankan, pihaknya saat ini lebih mengedepankan kualitas ketimbang kuantitas. “Kami tidak ngotot produksi dalam jumlah yang besar sementara ini, karena fokus mengedepankan kualitas dulu,” kata Abidin. Alasannya, induk udang windu tengah diupayakan mendapatkan kepercayaan dari para petambak.

Standar Produksi
Hatchery menerapkan standar tinggi untuk produksi benur udang windu. Dikatakan Made Suitha, untuk menghasilkan benur berkualitas maka syaratnya induk harus bagus, fasilitas harus bagus, dan standar cara kerja harus bagus. “Termasuk sistem sterilisasi baik air maupun udaranya akan menentukan hasil.”

Menyoal sistem sterilisasi air di hatchery Bandengan, Abidin menerangkan pihaknya memanfaatkan teknologi ozonisasi. Kelebihannya, kata dia, pasca ozonisasi air dapat langsung digunakan. Tidak sebagaimana penggunaan kaporit yang menuntut waktu 3 – 4 hari untuk netralisasi baru dapat digunakan. “Di hatchery ini tidak ada penggunaan kaporit, apalagi penggunaan antibiotik, tidak ada,” tegas Abidin.

Induk Windu Unggul
Langkah pengembangan hatchery udang windu ini tidak lepas dari status BBPAP Jepara yang oleh KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) ditunjuk sebagai pusat komando pengembangan induk windu, dalam rangka membangkitkan kembali industri udang windu tanah air. Made Suitha mengatakan, “Jepara merupakan pusat jejaring pengembangan induk udang windu nasional.” Peneliti di Gondol – Bali dan di Maros – Sulsel menjadi bagian dari jejaring, melakukan riset untuk tujuan mendapatkan induk windu terbaik.

Windu Menguntungkan
Usup Supriatna, pembudidaya di Karawang, Jawa Barat adalah salah satu yang ”setia” pada udang windu sejak memulai usahanya di 2006 karena alasan harga yang menggiurkan. Dikatakannya, pasar masih kekurangan pasokan, bahkan pengepul berharap setiap hari ada udang windu. ”Coba kalau dari 1 ha tambak dapat 500 kg saja, sudah Rp 50 juta hasil yang didapat,” hitungnya berandai-andai. Tapi itu hanya bisa dicapai jika sistem budidaya menganut pola intensif.

Digambarkan Usup, periode tanam tahun lalu, April ia menebar benur 40 ribu ekor di 2 ha tambaknya. Sekalipun kala itu ia dapat harga benur mahal, Rp 300 ribu per 10 ribu ekor sehingga keluar modal Rp 1,2 juta untuk benur, ia mengaku masih untung lumayan. Karena Juli, ia panen 85 kg udang size 18 dan laku Rp 100 ribu/kg. ”Padahal masa budidaya 4 bulan itu tidak bagus karena cuaca jelek. Banyak tambak tidak panen, alhamdulillah saya panen,” ujarnya. Sekarang, ia mengaku Agustus lalu tebar 85 ribu ekor untuk total 7,5 ha tambaknya.

Artikel selengkapnya baca majalah Trobos AQUA edisi September 2012