Aqua Utama
01 April 2007
Tak Semua Antibiotik Dilarang!

Ada delapan jenis antibiotik yang tidak dilarang oleh UE dan dapat digunakan dalam budidaya udang

Tidak semua antibiotik dilarang oleh pihak UE dan berbahaya bagi kesehatan manusia. Para pembudidaya udang masih dapat menggunakan beberapa jenis antibiotik yang tidak dilarang untuk mengobati udang yang terserang bakteri. Menurut Syamsuddin, Direktur Kesehatan Ikan dan Lingkungan DKP ada delapan jenis antibiotik yang tidak digunakan oleh manusia tetapi dapat digunakan untuk pengobatan ikan dan udang. ?Antibiotik jenis ini tak berbahaya bagi kesehatan dan juga tidak dilarang oleh pihak UE,? ujarnya.
Meski demikian, Syamsuddin menegaskan, penggunaan jenis antibiotik tersebut harus sesuai dengan aturan. ?Jika tidak sesuai aturan dapat menyebabkan resistensi, sehingga dosis penggunaan akan meninggi. Akibatnya terjadi akumulasi,? tandasnya.
Senada dengan Syamsuddin, Heny Budi Utari Aquatic Section Manager Animal Health Diagnostic Laboratory Departemen PT Charoen Pokphan Jaya Farm, menyarankan penggunaan antibiotik sebaiknya tak lebih dari 5 hari dan harus sudah dihentikan 2 minggu sebelum panen. ?Untuk amannya sebulan sebelum panen pemberian dihentikan,? imbuh Heny.

Kunyit dan Bawang Putih
Sebagai alternatif, Syamsuddin juga menganjurkan para pembudidaya udang menggunakan bahan-bahan alami sebagai pengganti antibiotik. Salah satunya menggunakan kunyit dan bawang putih. Menurutnya, berdasarkan penelitian yang dilakukan Balai Budidaya Air Payau-Situbondo, penggunaan kunyit dan bawang putih sebagai pengganti antibiotik dan immunostimulan pada budidaya udang vanname, memberikan angka Survival Rate (SR) cukup tinggi, yaitu 60%.
Kunyit, terbukti mengandung Kurkuminoid 10%, Kurkumin 1-5% dan sisanya Demotoksin kurkumin dan Bisdes matoksin kurkumin yang dapat digunakan sebagai anti mikroba. Sedangkan bawang putih mengandung Sativine yang berfungsi mempercepat pertumbuhan sel dan jaringan, Allisin yang berfungsi sebagai antibiotik dan Saponin diallydi sulfide yang berfungsi sebagai anti cacing.
Penggunaan bawang putih juga telah dilakukan oleh para pembudidaya tambak udang yang ada di lampung. Maula, seorang pengelola teknis tambak udang yang ditemui TROBOS mengatakan, bahwa selama ini dia dan teman-teman di satu lokasi memanfaatkan bawang putih sebagai pengganti antibiotik. Pengetahuan ini diperolehnya saat menjadi pekerja tambak di Sidoarjo, Jawa Timur, ketika antibiotik belum banyak beredar.
Maula menjelaskan, sebelum diberikan ke udang, bawang putih di-blend terlebih dahulu. Kemudian dicampur dalam pakan udang. Waktu pemberian tidak terjadwal, yang pasti seminggu satu kali. Sayangnya Maula tidak mau menjelaskan komposisi perbandingan campuran pakan, bawang putih, serta luas tambak.
?Saya takut salah mas. Makanya tolong TROBOS ikut meneliti. Kalau memang bisa menjadi pengganti antibiotik, pasti bermanfaat bagi para pembudidaya tambak udang. Cara tradisional kan lebih aman,? ujarnya mengakhiri obrolan.