Aqua Utama
01 July 2007
Bandeng Olahan: Cara Baru konsumsi Bandeng

Ikan bandeng yang dikenal memiliki banyak duri, kini menawarkan banyak pilihan olahan  mengonsumsi tanpa kesal merisaukan duri yang mengganggu.
 
Harga bandeng olahan itu dibandrol di angka yang cukup menjanjikan. Bandeng duri lunak kualitas premium, laku dijual dengan harga Rp 50.000/kg. Sementara otak-otak bandeng laku dijual hingga Rp 60.000/kg, dan bandeng pepes pun dihargai cukup tinggi, Rp 42.000 tiap kg-nya. Produk-produk siap saji berbahan baku ikan bandeng tersebut biasanya laris manis diserbu wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke kota Semarang. Bicara soal bandeng, biasanya tak lepas dari Semarang dan sekitarnya. Ragam jenis olahan ikan yang terkenal kaya akan duri itu dihasilkan oleh industri-industri pengolahan baik skala besar maupun skala rumah tangga di sana. Salah satunya industri pengolah bandeng milik Danil, yang TROBOS sambangi sore itu.
Itu Semarang, di luar beberapa jenis bandeng olahan siap saji yang disebutkan di atas, primadona saat ini dari komoditas bandeng adalah bandeng cabut duri. Bedanya, produk ini tidak dipasarkan dalam keadaan siap saji atau masak, melainkan masih segar. Harga per ekor bandeng cabut duri ini juga cukup tinggi. Untuk bandeng ukuran 4 ekor per kg laku dijual Rp 6.000/ekor. Bahkan jika sudah sampai pasar ikan modern, harga bandeng cabut duri dengan ukuran yang sama dapat mencapai Rp 10.000/ekor.
Mahalnya produk bandeng cabut duri ini dikarenakan ongkos cabut durinya juga tidak murah. ?Bisa nyampe Rp 1500 per ekor,? ujar Kutirah, salah seorang pengolah bandeng cabut duri di daerah Indramayu. Kalau bandeng siap saji identik dengan Semarang, maka bandeng segar identik dengan Indramayu.

Sayangnya, Olahan Belum Bisa Ekspor
Achmad Poernomo, Direktur Pengolahan Hasil Ditjen P2HP-DKP menuturkan, pangsa pasar bandeng olahan ke depan akan sangat baik, mengingat konsumsi bandeng bagi masyarakat perkotaan maupun pedesaan rata-rata mencapai 11,04 kg/tahun atau 0,23 kg/minggu. Bila rata-rata konsumsi ikan masyarakat Indonesia sebesar 25 kg/tahun (2006), maka pangsa pasar bandeng untuk domestik mencapai 44%.
?Saya yakin pemintaan terhadap bandeng olahan akan terus meningkat, karena merupakan produk siap saji dan sangat digemari masyarakat,? kata Poernomo. Poernomo menunjukkan data,  bandeng olahan yang dipasarkan di 6 kota besar seperti Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Semarang, Karawang dan Bekasi, jumlahnya mencapai 30.809 ton/tahun.
Permintaan terhadap bandeng olahan dari luar negeri pun tak henti-hentinya mengalir, Jepang dan Timur Tengah misalnya. ?Tetapi kita belum bisa memenuhi,? sesal Poernomo. Pasalnya, sampai saat ini, kebanyakan produk bandeng olahan tersebut hanya mampu bertahan 1-2 minggu. ?Tidak mungkin dalam waktu singkat itu bisa sampai ke Jepang atau Timur Tengah,? ujar Poernomo. Meski demikian, ia berharap suatu saat Indonesia bisa mengekspor bandeng olahan ke luar negeri. Kini sedang dilakukan riset yang bertujuan memperpanjang masa kadaluarsa bandeng olahan.
Sementara untuk bandeng cabut duri, sebagai gambaran pasar domestik, Kutirah mengaku dalam seminggu mengirim 300-400 kg produknya ke Jakarta. Belum dari pengolah bandeng cabut duri selain dia. Khusus produk yang belakangan sedang ngetren ini, Poernomo menuturkan, sudah mulai dipasarkan ke mancanegara. ?Kendatipun belum dalam jumlah besar, bandeng cabut duri sudah ada yang diekspor ke Jepang,? sebut Poernomo. Ia menambahkan, ini dimungkinkan karena bentuknya yang masih segar.
Mendukung pengembangan bisnis bandeng cabut duri, pemerintah pun memfasilitasi mereka yang ingin memiliki keahlian mencabut duri bandeng. Balai Besar Pengembangan Mutu, Muara Baru?Jakarta dan Sekolah Tinggi Perikanan Sidoarjo membuka pelatihan untuk itu.

Selalu Habis Terjual
Besarnya pangsa pasar produk olahan berbahan baku bandeng diakui para pengusaha bandeng olahan. Danil, yang merupakan pengolah bandeng terbesar di Semarang itu mengaku dalam sehari pihaknya dapat memproduksi 100 kg bandeng olahan. ?Jika libur panjang, lebaran dan natal, bisa produksi 2-3 kali lipatnya,? ungkap pria yang juga berprofesi sebagai dokter kusta ini.
Pemilik nama lengkap Danil Setyo Nugroho ini menambahkan, pihaknya sejauh ini baru memasarkan produk untuk wilayah lokal Semarang. ?Itu pun kadang-kadang masih kewalahan,? ujarnya kepada TROBOS. Pria yang sudah berumur 73 tahun ini mengaku mempunyai 2 lokasi penjualan, salah satunya adalah restoran dan toko bonafide yang diperuntukkan bagi kalangan ekonomi kelas atas. ?Di samping itu juga ada toko bandeng Juwana yang melayani konsumen kelas menengah,? ia menerangkan. Dari kegiatan usahanya ini, Danil mengaku mempekerjakan sekitar 50 karyawan.
Besarnya pangsa pasar bandeng olahan ini tidak hanya dinikmati para pengusaha skala besar. Industri skala rumah tangga pun turut menikmati keuntungan dari bisnis bandeng olahan. Samuel contohnya, pemilik pengolahan bandeng UD Samaria di daerah Pati mengatakan, dalam sehari pihaknya mampu memproduksi 30 kg bandeng olahan. Menurutnya, jumlah tersebut selalu habis terjual sebelum masa kadaluarsa. ?Lumayanlah, omsetnya bisa Rp 1 juta - Rp 2 juta per hari,? ujarnya. Dalam usaha tersebut ia dibantu oleh 4 karyawannya. Sementara Wasi Sukaryo, pemilik pengolahan bandeng UD Mukti, masih di seputar Pati Jawa Tengah, mengaku saban harinya menghasilkan 80 kg bandeng olahan dengan omset mencapai Rp 2 juta - Rp 3 juta.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Juli 2007