Primadona
01 November 2008
Rumput Laut Gantikan Kincir Air di Tambak Udang

Sebanyak 1,45 ton Gracilaria sp mampu suplai oksigen di tambak setara satu kincir air berkekuatan 1 HP

Kabar gembira bagi petambak udang. Kini untuk membudidayakan udang secara intensif tak harus menggunakan kincir air sebagaimana yang selama ini dilakukan petambak dalam memasok oksigen. Sebuah penelitian membuktikan bahwa peranan kincir air tersebut bisa digantikan oleh Gracilaria sp, jenis rumput laut yang biasa hidup di tambak. Ini artinya, petambak akan bisa mengirit ongkos BBM yang digunakan untuk menjalankan kincir air.
Adalah Enang Harris yang melakukan penelitian tersebut mengatakan, selama ini budidaya udang bersama dengan rumput laut dalam satu tambak sudah cukup banyak dilakukan masyarakat, terutama sejak budidaya udang windu (Penaeus monodon) intensif terus menerus mengalami gagal panen akibat serangan penyakit WSSV (white spot syndrome virus). Tak aneh memang karena sistem budidaya yang dikenal dengan polikultur ini mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan budidaya monokultur (hanya satu jenis komoditas). Namun selama itu pula tak ada yang tahu bahwa gracilaria mampu meningkatkan produksi oksigen di perairan tersebut.
Inilah salah satu keuntungan polikultur. Enang yang merupakan staf pengajar di Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB) menyatakan, polikultur biasanya dilakukan dengan tiga atau empat komoditas sekaligus, misalnya antara udang, rumput laut, ikan bandeng dan ikan nila. Dalam hal ini, gracilaria terbukti mampu berperan sebagai penyerap racun-racun yang terkandung dalam air tambak. Tak cuma itu, rumput laut tersebut juga akan menghasilkan klekap yang biasanya menjadi makanan ikan bandeng. Sementara bagi udang, lingkungan di sekitar rumput laut merupakan penyedia makanan berupa plankton dan jasad renik. Belakangan, budidaya polikultur yang melibatkan hewan dan tumbuhan semacam ini disebut sebagai budidaya multitropik.

Biomassa Melimpah
Penemuan ini menurut Enang bermula dari Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut, Payau dan Udang (BPBPLAPU) Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Pada awal 2008, UPT (Unit Pelayanan Teknis) tersebut melakukan polikultur atau kini juga dikenal sebagai budidaya multitropik antara udang windu, gracilaria, ikan bandeng dan nila dalam tambak seluas 600 m2 dan kedalaman sekitar 60 cm.
Hasilnya cukup mengejutkan, yakni udang windu tercatat menghasilkan biomassa sebanyak 386 kg, bandeng 37 kg, nila 207 kg dan gracilaria 200 kg. Total produksi biomassa hewan dari budidaya multitropik itu mencapai 630 kg/1600 m2 atau jika dihitung dalam satuan luasan hektar, produksinya mencapai 3937,5 kg (3,9 ton)! Padahal, dalam budidaya udang (vaname) yang dilakukan secara intensif, untuk bisa menghasilkan produksi biomassa 1 sampai 1,5 ton per hektar membutuhkan kincir air 1 unit (1 HP/Horse Power).

Selengkapnya baca majalah TROBOS edisi November 2008