Primadona
01 April 2009
Jaga Kualitas Air, Cegah Gagal Panen

Hujan deras 2 jam sudah cukup jadikan perairan mengalami perubahan drastis, sebagai pintu gerbang wabah

Obon masih bisa tersenyum saat menceritakan bisnisnya yang sedang lesu akhir-akhir ini di Taman Sari, Lippo Karawaci, Tangerang beberapa waktu lalu. Sudah tiga bulan terakhir omset permintaan kincir (aerator untuk tambak) di perusahaannya turun. ?Kalau bisnis lesu seperti ini, biasanya karena di lapangan sedang ada wabah,? kata Obon yang merupakan General Manager PT General Agromesin Lestari, penyedia alat aerator buatan China.
Lelaki bernama lengkap Obon B Japhar  ini memperkirakan penyebab penurunan omset kincir karena ada gagal panen udang di beberapa daerah. Seperti di Jawa Timur misalnya, telah muncul wabah di awal tahun ini. ?Menimpa beberapa pelanggan saya,? terang Obon.  Dugaan paling kuat, menurut Obon, karena fluktuasi cuaca yang cukup ekstrim belakangan ini. ?Kualitas air memburuk, udang stres, penyakit masuk,? Obon mengutarakan runutan.
Kendati demikian Obon mengakui indikator tersebut tidak mutlak. ?Tiga bulan terakhir, belitan krisis keuangan juga menjadi sebab mayor lesunya bisnis udang,? ujarnya. Baik krisis keuangan maupun cuaca ekstrim keduanya memicu petambak menahan diri menebar benur. Kalaupun tetap jalan, kebanyakan mengurangi kepadatan tebar, alhasil jumlah kincir yang terpasang pun dikurangi. Dia menyebut kisaran penyusutan omset mencapai 20 ? 25 %.

Curah Hujan Tinggi
Keluhan tingginya kasus kematian udang di berbagai tambak tanah air belakangan ini dianggap masuk akal oleh Bambang Widigdo, Quality Assurance for Shrimp Farm PT Charoen Proteinaprima. Penyebabnya karena curah hujan yang tinggi selama rentang waktu akhir tahun lalu dan berlanjut sampai Maret ini. ?Sampai 2,5 kali angka rata-rata curah hujan dalam setahun,? sebutnya.
Curah hujan tinggi, kata Bambang, bisa dipastikan akan menyebabkan fluktuasi suhu air tambak. Bahkan lebih jauh bisa juga menyebabkan pergeseran pH dan DO (kelarutan oksigen) dalam tambak. ?Hujan deras sekitar 2 jam saja sudah cukup menjadikan perairan mengalami perubahan drastis,? ujar Bambang.
Di tempat lain, Widyatmoko, Manager Research and Development, Aqua Feed Operation PT Suri Tani Pemuka?produsen pakan ikan dan udang? berpendapat, kasus gagal panen terjadi karena mutu air yang buruk. Selain menjadi faktor penyebab, mutu air yang buruk juga bisa jadi faktor akibat. Misalnya blooming fitoplankton yang menyebabkan kematian masal fitoplankton (crash fitoplankton). Akibatnya, berbagai parameter mutu air akan berubah secara mendadak, seperti DO akan turun cepat (karena dikonsumsi untuk dekomposisi bahan organik) dan tidak mudah naik karena tidak ada fotosintesa, pH turun (karena keseimbangan karbonat bergeser ke kiri), amonia (TAN) kemungkinan naik. ? Keadaan ini akan menimbulkan stres bagi udang sehingga rentan terhadap serangan penyakit.  Banyak kasus serangan penyakit bakterial (maupun viral) pada budidaya udang diawali dengan memburuknya mutu air,? katanya.
 Memburuknya mutu air, jelas Widyatmoko, dipengaruhi oleh reaksi-reaksi biologi, fisika dan kimia air.  Jika budidaya dilakukan dengan sistem terbuka (penggantian air dari luar cukup banyak) maka mutu air kolam dipengaruhi oleh mutu air dari ekosistem luar.  Jika budidaya dilakukan dengan sistem tertutup maka mutu air dipengaruhi oleh proses biokimia dalam kolam.  ?Dalam budidaya, saya selalu menekankan parameter oksigen dan suhu air yang secara langsung mempengaruhi metabolisme tubuh hewan air.  Kalau oksigen rendah maka udang akan stres dan menimbulkan efek samping yang berbahaya.  Jika suhu turun maka laju metabolisme tubuh turun, dampaknya nafsu makan turun, imunitas berkurang,? ujarnya.
Diperjelas Bambang, penurunan suhu air yang sampai pada titik 260C atau bahkan lebih dingin lagi, akan jadi titik kritis (pemicu) bagi timbulnya penyakit. ?WSV, misalnya,? Bambang mengambil contoh. WSV (White Spot Virus) akan meningkat virulensinya (keganasan) ketika suhu air di titik optimumnya 260C atau di bawahnya lagi. Terekspos beberapa jam saja, peningkatan virion (jumlah agen virus penyebab) akan mencapai ke jumlah kuorum yang bagi udang bisa menyebabkan timbulnya penyakit. ?Sebelum mencapai jumlah kelipatan kuorum infektif, meski virus ada di perairan tersebut, udang tidak sakit,? jelas Bambang yang juga dosen di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Tapi karena adanya pemicu dari lingkungan yang menurun, virus berkembang cepat, titik optimal tercapai, maka saat itulah udang jadi sakit dan bisa berlanjut menjadi wabah.  Ia mengimbuhkan, di 300C virus tidak berkembang.
Guna menyiasati iklim yang tak bersahabat itu, Bambang tegas menunjuk upaya pencegahan (preventif). Antara lain mengurangi kepadatan saat tebar bila sudah diperkirakan sekian bulan ke depan cuaca akan memburuk. ?Pantauan prediksi cuaca dari BMG sangat diperlukan sebagai panduan,? saran Bambang. Pencegahan lainnya adalah memastikan penggunaan benur yang bebas penyakit (SPF/Specific Pathogenic Free). Disamping itu juga dengan mencegah faktor penambah tingkat stres. Bambang berargumen untuk kasus virus tak ada obatnya, sehingga satu-satunya strategi adalah pencegahan.
Kalau telanjur kena, lanjut Bambang, tak ada yang bisa dilakukan. Panen dini hanya bertujuan mengurangi tingkat kerugian. Tapi harus diingat, air bekas budidaya mengandung bibit penyakit yang berpotensi menyebarkan virus dan menularkan ke tambak lain. Maka perlu di-treatment, dengan desinfektan kaporit misalnya. ?Tapi ini kan mahal, jadi preventif lebih murah,? kembali ia menegaskan.
Bambang sempat menyinggung tips ?kuno? dalam budidaya udang, petambak punya kebiasaan kalau sore mendung, menyiapkan kapur di tanggul. Tujuannya untuk menjaga pH agar tidak turun. Tapi ini hanya membantu menjaga pH, tidak untuk suhu dan DO. pH terjaga 7,5 sehingga H2S yang terbentuk minimum.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi April 2009