Primadona
01 July 2009
Biofloc: Cara Cerdas Budidaya Udang

Secara umum mutu air di perairan umum mengalami penurunan. Demikian dituturkan Ninuk, Technical Support PT Suri Tani Pemuka (STP) dalam acara Second Generation Workshop 2009 yang diselenggarakan Shrimp Club Indonesia (SCI) akhir Mei lalu di Surabaya. Diterangkan Ninuk, penurunan mutu air ditandai dengan terjadinya eutrofikasi perairan.  Berlebihnya unsur hara seperti N, P, dan bahan organik sebagai hasil pencemaran lingkungan internal dan eksternal tambak disinyalir sebagi penyebabnya. Kondisi ini memicu beragam flora dan fauna akuatik berlimpah.  Flora dan fauna itu sebagian bersifat patogen (merugikan) dan oportunistik, seperti bakteri vibrio, plankton blue green algae  dan dinoflagelata.
Gangguan jasad mikro ke lingkungan tambak akan menimbulkan stres pada udang. Kekebalan udang pun menurun dan mudah terserang penyakit. ?Ditambah musim dan cuaca yang tidak menentu , menyebabkan menurunnya daya dukung lingkungan kolam. Ini ditandai dengan kian rendahnya produktivitas, perlambatan pertumbuhan, dan ketidakstabilan warna air,? imbuh Ninuk.
Penurunan kualitas air laut, dan berkembangnya bakteri patogen menimbulkan risiko masuknya bibit penyakit. Karenanya harus dihindari mengambil air laut secara langsung, atau air dari manapun tanpa melalui tandon dan sterilisasi. Ninuk juga mengenalkan penerapan sistem sedikit atau tanpa ganti air (resirkulasi) yang dikenal dengan nama Closed System alias sistem tertutup, dengan biosekuriti menjadi basis. Sistem ini  diyakini  efektif dalam mengurangi risiko penularan penyakit dari dan ke dalam sistem.  ?Aplikasi probiotik/bakteri heterotrof dengan pergantian air minimum. Kami upayakan konsistensi dalam penerapan closed system yang mengarah ke Biofloc,? kata Ninuk.
Suprapto, Koordinator Bidang Pengembangan Teknologi Budidaya SCI menerangkan, pada prinsipnya penerapan Biofloc adalah mengubah senyawa nitrogen anorganik (amonia) yang bersifat racun menjadi bacterial protein, sehingga dapat dimakan hewan pemakan detritus seperti udang vaname. Ini bisa dilakukan dengan pengadukan dan aerasi bahan organik dalam tambak agar terlarut dengan air, agar merangsang bakteri heterotof aerobik menempel pada partikel organik, selanjutnya menyerap amonia, fosfat, dan nutrien lain dalam air.

Sindrom Nitrogen
Menurut Ninuk, konsep ?tanpa ganti air? dapat dilakukan dalam lingkungan budidaya udang. Kualitas air sangat dipengaruhi oleh Sindrom Nitrogen (N), dan 95% N yang masuk ke tambak berasal dari pakan atau pupuk. Tingginya kadar N disebabkan protein dalam pakan tidak cukup efisien diserap udang. Efisiensi pemanfaatan protein oleh udang  hanya 20%. Artinya, 70-80% N dalam pakan diubah menjadi amonia. Padahal, lanjut Ninuk, N dalam lingkungan tambak dapat diasimilasi oleh bakteri heterotrof. Hasilnya, berupa biomass mikroba berprotein tinggi yang dapat menjadi sumber pakan udang. Metode ini menghasilkan siklus yang positif karena tidak ada nutrien yang dilepaskan ke lingkungan. ?Alhasil tak perlu ganti air,? tandas Ninuk.

Dalam makalahnya, Suprapto mengatakan bakteri yang dapat mengubah amonia menjadi protein antara lain Bacillus megaterium. Bakteri ini dapat mensintesa protein dari karbohidrat dan amonia, jika C/N (rasio kandungan karbon berbanding nitrogen dalam air) sesuai. Nilai  C/N rasio dalam media budidaya akan selalu berubah-ubah. Penumpukan amonia hasil metabolisme udang dan perombakan bahan organik oleh mikroba akan memperkecil nilai C/N rasio, karena tingginya kadar N. Untuk meningkatkan nilai C/N rasio pada saat tertentu perlu  penambahan C (karbon) organik (molase/tetes, tepung terigu, tepung gaplek). Selain meningkatkan rasio, langkah ini sekaligus menekan kandungan N organik (amonia) yang bersifat racun.
Untuk menunjang perkembangan bakteri heterotof, yang harus diperhatikan adalah C/N rasio harus di atas 12 (idealnya 15-20). Kandungan oksigen harus cukup, minimal 4 ppm. Perlu imbuhan inokulan probiotik secara periodik. Bahan organik harus selalu teraduk sehingga membutuhkan aerasi 45-60 HP (hourse power) per ha, agar tidak menimbulkan gas H2S.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Juli 2009