Primadona
02 March 2007
Induk Udang dan Nutrisi

oleh : Agung Sudaryono, PhD, Masyarakat Aquakultur Indonesia

Sayangnya, referensi dan riset sebagai acuan akan kebutuhan nutrisi dan formulasi pakan buatan untuk induk udang masih sedikit dan langka

Demi keberhasilan program revitalisasi udang, benih udang berkualitas mutlak dibutuhkan. Ketersediaan benih udang berkualitas menuntut adanya induk udang dengan kualitas prima. Tak ayal, kualitas induk udang menjadi syarat utama keberhasilan pembenihan udang.
Kualitas induk udang selain ditentukan oleh perbaikan genetiknya yang menghasilkan turunan bebas penyakit (SPF) dan tahan penyakit (SPR) juga ditentukan oleh kualitas nutrisi pakan yang dikonsumsinya. Kualitas pakan yang baik adalah jika ketersediaan nutrisi yang dikandung oleh pakan tersebut sesuai dengan kebutuhan nutrisi induk udang. Sebab, pemenuhan kebutuhan nutrisi pakan induk ini akan memperbaiki kualitas maturasi induk udang dan produksi larva yang merupakan kunci utama dalam perbaikan efisiensi sistem produksi.
Tak pelak, nutrisi induk udang menjadi kunci penting bagi perbaikan domestikasi induk udang. Nutrisi tersebut harus disesuaikan dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi spesifik strain individu yang sedang dikembangkan.  Tetapi, biaya pakan bagi pemeliharaan induk udang dalam bak maturasi sangat mahal (bisa mencapai 30% dari total biaya produksi).  Ini akibat dari ketergantungan yang tinggi pada pakan segar seperti cumi, kerang-kerangan/moluska dan cacing polychaete (cacing darah).
Oleh karenanya, sangat diperlukan ransum pakan buatan khusus untuk maturasi induk. Sayangnya, sumber literatur dan laporan hasil riset yang bisa digunakan sebagai acuan tentang kebutuhan nutrisi dan formulasi pakan buatan untuk induk udang masih sedikit dan langka.

Nutrisi untuk Maturasi
Selama proses maturasi induk dibutuhkan energi pakan yang dapat menopang perkembangan sel telur induk udang betina dan sel sperma induk jantan menjadi matang. Sehingga pada tahap perkembangan telur, pakan menjadi penyumbang nutrisi yang terpenting dan esensial. Apalagi jika ablasi mata dilakukan dalam rangka untuk mempercepat maturasi induk. Beberapa komponen nutrisi yang penting antara lain sebagai berikut.

  • Lemak
    Lemak merupakan komponen nutrisi penting yang dibutuhkan untuk perkembangan ovarium, terutama asam lemak tidak jenuh tinggi (n-3 HUFA) dan fosfolipid. Konsentrasi lemak dalam pakan komersial untuk induk udang berkisar 10%, artinya 3% lebih tinggi dari pakan komersial untuk jenis grower. Total kandungan lemak dalam pakan dilaporkan tidak begitu penting berpengaruh, tetapi diyakini, pakan yang kaya kandungan n-3 HUFA (asam eicosapentanoat/EPA dan asam docosaheksanoat/DHA) ditemukan mempunyai pengaruh positif terhadap perkembangan ovarium, fekunditas dan kualitas telur. Kandungan asam arachidonat (20:4n-6) ditemukan tinggi dalam ovarium udang dan melimpah dalam cacing polychaete, kerang dan simping. Asam lemak n-6 HUFAs  merupakan prekursor hormon prostaglandin dan memainkan peranan penting dalam proses reproduksi dan vitellogenesis.
    Pada kenyataannya banyak dijumpai pakan komersial yang diformulasikan khusus untuk induk udang masih defisiensi asam arachidonat dan EPA. Rasio n-3: n-6 HUFA sekitar 3:1 dilaporkan menghasilkan tingkat kematangan reproduksi udang yang optimum. Kebutuhan 2% fosfolipid dalam pakan disarankan baik untuk proses pematangan induk udang dan diyakini bahwa komposisi 50% dari total lemak telur adalah fosfolipid. Sumber lemak dalam bentuk trigliserida selama proses pematangan gonad (kelamin) juga meningkat dalam telur dan diyakini nutrisi ini berperan sebagai sumber energi utama dalam reproduksi dan penentu kualitas telur dan naupli.
  • Protein
    Sintesis protein meningkat secara intensif selama proses pematangan gonad dan tentu saja hal ini membutuhkan sumber protein dalam jumlah dan kualitas yang cukup. Meskipun studi tentang kebutuhan protein untuk induk udang masih kurang, diyakini bahwa profil asam amino pakan hidup dapat menyediakan profil asam amino yang mendekati kebutuhan induk itu sendiri. Beberapa studi menunjukkan, ada peningkatan kandungan protein ovarium yang dikaitkan dengan perkembangan telur dan pemijahan. Kandungan protein pakan untuk induk berkisar dari 50% sampai beberapa % lebih rendah dari pakan. 
  • Karbohidrat
    Tidak banyak peran nutrisi karbohidrat dalam pakan untuk induk udang, meskipun kandungan glukosa telur telah diasosiasikan dengan status kualitas larva dan kondisi induk. Karbohidrat dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan pakan dan pengikat (binders) yang ekonomis dan mungkin dapat berperan dalam transpor nutrisi dalam hemolimp.
  • Vitamin dan Mineral
    Kebutuhan mineral dan vitamin secara rinci untuk induk udang tidak diketahui, hanya sedikit studi pada vitamin A, C dan E. Defisiensi vitamin E berkaitan dengan sperma yang abnormal pada udang putih Litopenaeus setiferus. Sementara, perbaikan laju penetasan telur telah diamati sejalan dengan peningkatan vitamin E dalam pakan yang dikaitkan dengan kandungan yang lebih tinggi dalam telur. Hubungan positif juga diamati antara kandungan alfa-tokoferol (provitamin E) dalam pakan dengan kualitas pemijahan induk dan penetasan naupli L. vannamei. Vitamin E juga berperan sebagai antioksidan alami dalam kuning telur.
    Vitamin ditemukan terakumulasi dalam ovarium udang selama maturasi. Kandungan vitamin C telur udang Fenneropenaeus indicus dipengaruhi oleh kandungan vitamin C dalam pakan. Tingginya laju penetasan dipengaruhi tingginya kandungan asam askorbat dalam telur. Vitamin D juga diduga berperan penting dalam pakan induk dikarenakan peranannya dalam metabolisme kalsium dan fosfor untuk krustase.
    Riset mengenai kebutuhan mineral secara spesifik masih jarang dilakukan, kebanyakan diformulasikan dalam pakan dalam bentuk mineral campuran (kalsium, fosfor, magnesium, natrium, besi, mangan, dan selinium). Difisiensi atau ketidakseimbangan mineral dapat berpengaruh negatif pada reproduksi krustase dan berperan dalam resorpsi oosit, penurunan daya reproduksi dan kualitas telur.
    Tubuh induk udang vaname ditemukan memiliki kandungan kalsium dan magnesium yang rendah, demikian pula magnesium di hepatopankreas juga rendah. Hal ini bisa dikarenakan kombinasi defisiensi mineral-mineral tersebut dalam pakan serta hilangnya mineral saat proses molting dan transfer energi pematangan gonad. Koper juga ditemukan berkurang di hepatopankreas yang diduga ditransfer ke ovarium, meskipun kandungan di dalam tubuh induk udang meningkat. Disimpulkan, masih sangat diperlukan kajian dan berbagai riset terkait nutrisi mineral dalam pakan buatan untuk induk udang penaid.
  • Karotenoid
    Karotenoid, khususnya astaksantin merupakan antioksidan yang paling kuat dan berperan penting dalam perlindungan cadangan nutrisi induk udang dan perkembangan embrio dari kerusakan akibat oksidasi. Karotenoid juga berperan sebagai agen pigmen dalam embrio dan larva bagi perkembangan kromatofor dan mata serta sebagai prekursor vitamin A.
    Keberadaan karotenoid dalam pakan sebagai sumber pigmen sangat esensial diperlukan karena ketidakmampuan udang mensintesis karotenoid. Selama proses pematangan gonad, karotenoid terakumulasi dalam hepatopankreas. Selama vitelogenesis, karotenoid diangkut ke dalam hemolimp sebagai karotenoglikolipoprotein yang terakumulasi dalam telur sebagai bagian dari protein lipovitelin.
    Kandungan pigmen yang diperlukan dalam pakan dikaitkan secara langsung terhadap kesamaan karotenoid terhadap astaksantin dan beta-karotin. Astaksantin lebih berlimpah daripada beta-karotin dan memiliki pigmentasi dan daya antioksidan yang lebih kuat, tetapi memiliki daya konversi menjadi retinoid yang lebih rendah dibandingkan dengan beta-katrotin. Retinoid diyakini mempunyai kemampuan untuk mengaktifkan mekanisme endokrin yang esensial diperlukan untuk proses pematangan gonad dan perkembangan embrio. Ablasi mata pada induk udang, berpengaruh pada peningkatan metabolisme tubuh yang melibatkan karotenoid. Karena itu baik astaksantin maupun beta karotin sangat direkomendasikan keberadaaannya pada pakan untuk induk udang yang ter-ablasi.

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Maret 2007