Andalan Tawar
01 April 2009
Mina Padi Kolam Dalam, Panen Padi dan Ikan Bersamaan

Konstruksi kolam sawah jadi lebih dalam dan lebih lebar, memungkinkan panen ukuran konsumsi

Dengan alasan memiliki beberapa keunggulan nilai tambah, sistem terpadu mina padi masih langgeng sampai kini. Utamanya di daerah Jawa Barat, budaya berumur hitungan abad ini masih diandalkan sebagai sumber pendapatan. Kejelian melihatnya sebagai kegiatan yang dapat memberikan nilai tambah bagi petani dan berpotensi dikembangkan, para tenaga pengajar di Akademi Perikanan Sidoarjo (APS) menggagas pengembangan teknologi usaha mina padi. ?Tujuannya meningkatkan produktivitas dari budidaya sistem mina padi, sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani,? tutur Direktur APS, Endang Suhaedy.
Sejak Januari 2009 lalu, lanjut Endang, pihaknya berinisiatif melakukan percobaan yang disebutnya mina padi kolam dalam. Percobaan dilakukan pada lahan sawah di pekarangan kampus APS seluas 6 ribu m2. Pada dasarnya konsep percobaan ini adalah mengubah konstruksi kolam di sawah yang digunakan untuk memelihara ikan menjadi lebih dalam ukurannya.

Lebarkan dan Dalamkan Kemalir
Menurut Ketua Jurusan Budidaya Perikanan?APS, Moh Zainal Arifin, kekhasan usaha mina padi terletak pada keberadaan kemalir (caren) dalam konstruksi sawah. ?Semacam parit di sekeliling dalam petakan sawah dengan bentuk diagonal atau menyilang,? terangnya. Fungsinya, sebagai tempat berlindung ikan dan memudahkan dalam memanen ikan.
Saat ini umumnya ukuran lebar kemalir berkisar 40 sampai 60 cm dengan kedalaman air pada kemalir 20 sampai 30 cm. Sedangkan, ketinggian air genangan tanaman padi terbatas antara 10 sampai 15 cm. Diterangkan Zainal, dalam percobaan yang dilakukannya ukuran kemalir dibuat lebih dalam dan lebih lebar. Ketinggian air dalam kemalir antara 80 sampai 100 cm, lebarnya dibuat sesuai dengan luas areal sawah (sekitar 2 sampai 3 m). Ditambahkannya, petakan sawah perlu dibuatkan pematang keliling yang kuat agar dapat menahan air dan tidak bocor. Lebar pematang antara 100 sampai 150 cm dan tingginya sekitar 100  cm.
Tidak ketinggalan, agar kolam terlindung dari serangan hama seperti musang, ular dan burung dibuatkan pagar sekeliling kolam dari jaring. Pada bagian atasnya dipasang tali untuk menakuti burung-burung. Sementara untuk mengurangi risiko serangan penyakit pada ikan bisa menggunakan probiotik.
Masih menurut Zainal, dengan konstruksi sawah seperti itu volume air untuk budidaya ikan di dalamnya semakin banyak. Artinya ruang gerak untuk ikan semakin luas dan dapat meningkatkan nafsu makan ikan yang dipelihara. Pada akhirnya akan mendorong laju pertumbuhan ikan. ?Karena yang mempengaruhi pertumbuhan ikan dalam mina padi antara lain volume air, ketersediaan benih, dan pakan,? sebut Zainal berteori.
Jenis ikan yang cocok untuk dibudidayakan di mina padi, jelas Zainal, mas, nila, tawes, nilem, mujaer, gurame, dan tambakan. Dan kebanyakan selama ini di mina padi adalah budidaya pendederan benih. ?Kolam yang terbatas menjadikan sistem ini cocok untuk tahap pendederan benih,? menurut Zainal. Umumnya, lama pemeliharaan sampai waktu penyiangan gulma tahap pertama atau kedua (berkisar 30 hari). ?Ukuran panen rata-rata 30 ? 40 ekor/kg,? tambah Zainal. Tetapi, dengan melebarkan dan mendalamkan kolam sebagaimana dilakukan dalam percobaan di APS, budidaya dapat berlanjut sampai ukuran konsumsi. ?Lama budidaya bisa sama dengan umur padi, 3 bulan,? tambah Zainal. Alhasil diprediksikan, ketika panen padi bersamaan dengan itu petani juga panen ikan.
Dalam percobaannya, APS memilih jenis ikan nila untuk dipelihara. Benih yang ditebar ukuran 5 ? 8 cm dengan padat tebar 3 ? 5 ekor/m2. Selama ini budidaya mina padi menggunakan ukuran ikan tebar 2 ? 3 cm dengan kepadatan 2 ? 3  ekor/m2, atau ukuran 3 ? 5 cm dengan kepadatan 1 ? 2 ekor/m2. Dan kalau biasanya waktu tebar ikan di umur 7 hari pasca penanaman padi, percobaan di APS mengambil hari ke-4 pasca tanam.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi April 2009